Anak SD Mengeroyok Teman, Kok Bisa?

Parenting & Kids

nenglita・03 Apr 2014

detail-thumb

Di Whatsapp grup Mommies Daily kemarin ramai membicarakan berita tentang seorang anak kelas 1 SD di Makassar yang diduga dikeroyok teman sekolahnya sampai meninggal. Deg! Berita ini sontak membuat jantung saya berdegup kencang. Anak saya masuk SD tahun ini! Oke, memang ada misi pribadi dalam penulisan ini, tapi secara umum, saya beneran concern sama hal ini.

Perkelahian anak memang bukan hal baru, kalau dipikir-pikir. Banyak, banyak sekali contohnya. Mommies tinggal ketik keyword ‘perkelahian anak SD’, akan keluar berpuluh halaman, yang saya jamin, Mommies bakal bergidik dan ga tahan membacanya satu per satu (at least ini yang terjadi pada saya).

Kasus terbaru ini terjadi pada anak usia 7 tahun, kelas 1 SD, yang berarti hanya setahun di atas anak saya. Anak yang diduga pelaku pun, usianya mirip dengan korban. Coba kita bayangkan saat kita berusia 7 tahun dulu, ngapain, ya? Atau, kalau saya melihat anak saya saat ini, nggak kebayang anak seusianya bisa melakukan kekerasan hingga menyebabkan orang lain kehilangan nyawa :( Kalau menurut Mbak Irma Gustiana, psikolog keluarga yang praktik di Lembaga Psikologi Terapan Universitas Indonesia dan Klinik Rumah Hati, anak usia segini memang belum bisa berpikir konsekuensi. Mereka cenderung spontan dan impulsif.

Tapi perlu disadari, ya, bully comes earlier today. Saya pernah cerita kalau anak saya juga pernah mengalami ‘hampir bully’ waktu dia TKA. TKA, bayangin! Paling usianya 5 tahun, kan? Mungkin di usia tersebut masih ada anak yang menyusu dari botol atau toilet training belum beres, tapi di dunia lain ada anak yang mampu bully temannya. Sama dengan kasus ini, di usia 7 tahun mungkin anak kita masih minta tidur dikeloni, di dunia yang lain ada anak yang sudah harus berhadapan dengan pihak berwajib karena menghilangkan nyawa orang lain.

Ada apa dengan mereka?

 

Selanjutnya: Ada apa dengan kita, orangtuanya? >>

Dari berbagai sumber baik bacaan, ngobrol dengan Mbak Irma Gustiana dan pakar lain serta mengikuti seminar, saya mencoba mengaitkan hal ini satu sama lain:

1. Anak memiliki kebutuhan emosi

Dimulai dari rasa aman. Ya, keamanan secara fisik memang penting. Mungkin kita meng-child proof rumah secara fisik, tapi apakah kita meng-child proof rumah secara emosi? Masih suka bertengkarkah kita dengan pasangan di depan anak? Masihkah kita membandingkan anak dengan anak lain? Dua hal ini saja berefek besar terhadap keamanan anak secara emosi, lho!

Anak yang kebutuhan emosinya tidak dipenuhi di rumah, biasanya lebih mencari perhatian. Nah, iya kalau mencari perhatiannya dengan cara berprestasi, kalau dengan cara yang salah gimana?

2. Anak butuh pengakuan bahwa ia dicintai

Mungkin banyak yang berpikir bahwa anak pasti tau bahwa kita mencintai mereka. Tapi saya percaya, kekuatan sebuah pengakuan. Sampai usia tertentu, anak butuh hal yang konkret. Ini saya pelajari dari berbagai pertanyaan yang keluar dari mulut Langit seperti “Tidur itu apa sih?” atau “Berubah itu apa, Bu?”. Ketika saya menerjemahkan sesuai KBBI, Langit tetap butuh jawaban hal yang nyata, beserta contohnya.

Nggak heran, Ibu Elly Risman selalu menekankan agar kita melatih diri untuk mengenalkan anak pada perasaan. Sedih itu seperti apa, marah seperti apa, bahagia gimana, hal ini penting banget lho! kenapa? Sudah pasti supaya si anak bisa mengidentifikasi perasaannya. Ini juga menghindari anak dari perilaku bullying yang makin marak terjadi.

Mbak Irma juga menambahkan, tindakan agresif seorang anak juga disebabkan karena ingin diakui, baik oleh lingkungannya atau oleh siapapun. Bisa jadi juga anak pernah melihat tindakan agresif atau bahkan korban perilaku agresif. Rasa amarah yang ia pendam (kalau ia korban) diarahkan pada anak lain yang lebih lemah.

 

Selanjutnya: Televisi ternyata berpengaruh! >>

3. Batasi anak nonton televisi!

Ini sebenarnya berkaitan dengan masalah meniru, sih. Coba Mommies lihat program televisi belakangan ini? Bahkan program untuk anak pun, di jeda iklannya sering menampilkan promo program yang nggak sesuai dengan usia anak. Ada juga program sinetron anak *sigh* yang isinya berantem antar teman, mengejek teman dengan panggilan tertentu, dan lain sebagainya.

Anak-anak yang masih polos, belum bisa membedakan antara kenyataan dan khayalan. Baginya, apa yang ia lihat di televisi, ya nyata, sama saja dengan kehidupannya saat ini.

“Oh, kalau sebel sama teman bisa ya menjambak rambutnya”

“Aku maunya jadi Elsa ah, biar dia yang jadi Olaf. Olaf kan jelek”

“Ih, dia jelek tau.. kulitnya item!”

“Biarin, kalo dia ganggu aku, aku tendang aja”

“..smack down!”

Dan seterusnya...

Tugas kita lah sebagai orangtua, mendampingi anak, apa yang mereka tonton, yang mereka mainkan, apa yang mereka baca, dan lain sebagainya.

4. Perbanyak kegiatan fisik

Kegiatan fisik selain mengalihkan anak dari tontonan yang nggak baik dan menyalurkan energi mereka. Saat energi sudah tersalurkan ke hal yang baik, biasanya pikiran juga lebih positif. Kalau saya selalu menyamakan dengan olahraga. Saat berolahraga tubuh kita mengeluarkan hormon endorfin yang menyebabkan tubuh lebih rileks. Saat tubuh rileks, pikiran nggak tegang, nggak stres, sehingga bisa menghindarkan kita pada konflik :)

Baca juga artikel tentang manfaat beraktivitas di luar ruangan hasil wawancara dengan Mbak Anna Surti Ariani, psikolog keluarga.

Yang terakhir, dan perlu kita ingat, nggak peduli seberapa besar kemampuan kita melindungi anak, anak akan tumbuh besar dan harus berhadapan dengan dunia luar. Kan nggak mungkin anak mau kita ‘kekepin’ sepanjang hidupnya. Yang harus kita lakukan sekarang hanyalah, mempersiapkan anak untuk menghadapi dunia luar sana, dan berdoa supaya buah hati kita ini dihindarkan dari kejamnya dunia *kok kaya judul sinetron?*. Ya kan?