Fenomena Bullying di Sekolah (II)

Pada artikel dua minggu lalu, kita sudah membahas mengapa bullying bisa terjadi, sekarang mari kita bahas yuk langkah-langkah apa yang sebaiknya diambil untuk mencegah anak kita menjadi pelaku bullying atau bahkan korbannya. Informasi berikut masih saya dapat dari Lestari Sandjojo, Psi. – General Manager Academic Division Sekolah Cikal.

Bagaimana cara paling ideal untuk mencegah terjadinya bullying?

  • Mengajarkan kemampuan asertif, yaitu kemampuan untuk menyampaikan pendapat atau opini pada orang lain dengan cara yang tepat. Hal ini termasuk kemampuan untuk mengatakan TIDAK atas tekanan-tekanan yang didapatkan dari teman/pelaku bullying.
  • Sekolah meningkatkan kesadaran akan adanya perilaku bullying (tidak semua anak paham apakah sebenarnya bullying itu) dan bahwa sekolah memiliki dan menjalankan kebijakan anti bullying. Murid harus bisa percaya bahwa jika ia menjadi korban, ia akan mendapatkan pertolongan. Sebaliknya, jika ia menjadi pelaku, sekolah juga akan bekerjasama dengan orangtua agar bisa bersama-sama membantu mengatasi permasalahannya.
  • Memutus lingkaran konflik dan mendukung sikap bekerjasama antar anggota komunitas sekolah, tidak hanya interaksi antar murid dalam level yang sama tapi juga dari level yang berbeda.

Bagaimana mencegah supaya anak tidak menjadi pelaku bullying?

Perilaku ini sebenarnya bisa dicegah jika sekolah dan orangtua memiliki pemahaman yang menyeluruh mengenai anak. Kunci utama dari antisipasi masalah disiplin dan bullying adalah hubungan yang baik dengan anak. Hubungan yang baik akan membuat anak terbuka dan percaya bahwa setiap masalah yang dihadapinya akan bisa diatasi dan bahwa orangtua dan guru akan selalu siap membantunya. Dari sinilah anak kemudian belajar untuk menyelesaikan masalah dengan cara yang tepat.

Dan sebaliknya, bagaimana supaya anak tidak menjadi korban bullying?

Hal ini berkaitan erat dengan konsep diri anak. Jika anak memiliki konsep diri yang baik, dalam arti mengenal betul kelebihan dan kekurangan dirinya, ia tidak akan terganggu dengan tekanan-tekanan dari teman-teman atau pelaku bullying. Biasanya jika korban atau calon korban tidak menggubris, pelaku bullying tidak akan mendekatinya lagi.

Yang penting juga adalah membekali anak dengan keterampilan asertif, sehingga bisa memberikan pesan yang tepat pada pelaku bahwa dirinya bukan pihak yang bisa dijadikan korban.

Lalu, kalau anak telanjur jadi korban, bagaimana cara mengembalikan kepercayaan diri anak yang menjadi korban bullying?

Ada karakter-karakter tertentu pada anak yang biasanya menjadi korban bullying, misalnya:

  • Sulit berteman
  • Pemalu
  • Memiliki keluarga yang terlalu melindungi
  • Dari suku tertentu
  • Cacat atau keterbatasan lainnya
  • Berkebutuhan khusus
  • Sombong, dll.

Anak yang menjadi korban biasanya merasa malu, takut, tidak nyaman. Sehingga untuk membuat ia kembali mampu menjalani kegiatannya sehari-hari seperti biasa, ia harus dibekali dengan “tools” yang membuat ia yakin bahwa ia akan mendapatkan pertolongan. Ia harus tahu dan percaya bahwa guru kelas dan temannya akan membantu, misalnya. Atau ia kemudian mendapatkan teman selama jam istirahat atau kegiatan di luar kelas. Rasa percaya dirinya kembali dipupuk dengan memusatkan perhatian pada hal-hal yang menjadi kelebihan dan potensinya. Yang terakhir ini biasanya berjakan dengan sendirinya jika rasa aman sudah kembali dimiliki.

Tuh kan, balik-balik lagi semuanya berasal dari rumah moms! Yuk, kita berikan berikan kasih sayang yang cukup agar ia siap menghadapi dunia luar :)

*Gambar diambil dari sini


28 Comments - Write a Comment

Post Comment