Bertengkar Dengan Pasangan? Wajar, Kok!

Walaupun usia pernikahan memasuki usia yang ke-7 tahun ini, tapi yang namanya pernikahan, pasti tetap akan ada pertengkaran. Saya dan suami, atau bahkan mama dan papa saya yang usia pernikahannya ke-37 tahun, juga nggak terhindarkan dari pertengkaran. Wajar saja, kan? Yang namanya pernikahan, menurut saya, nggak selalu berarti 2 jadi 1.

In the early years, you fight because you don’t understand each other.  In the later years, you fight because you do.  ~Joan Didion

Berdasarkan sebuah riset yang diambil dari situs ini, 86% responden (yang belum menikah) percaya bahwa pernikahannya akan bertahan selamanya. Tapi dalam praktiknya, 40-50% perceraian terjadi.

Perbedaan pendapat, financial issue, bahkan sampai tidur ngorok pun bisa jadi penyebab pertengkaran yang berujung pada  perpisahan. Lalu, apa yang bisa dilakukan saat pertengkaran memuncak dan emosi nggak terkendali?

Kalau saya: mengingat kembali sweet moments antara saya dan suami.

Saat ia nggak keberatan beliin pembalut ke warung *mungkin bagi beberapa laki-laki biasa saja, tapi untuk ukuran saya yang bersuami tipe super cuek, hal ini jadi berarti :D *

Saat ia nggak pernah marah kalau saya bikin lecet mobil kesayangannya.

Saat kami bisa ngobrol asyik mulai dari gugatan Yusril Ihza Mahendra ke MK sampai Ayu Ting Ting sudah melahirkan.

Saat ia melepaskan semua gelang di tangannya dan memakai kemeja terbaiknya waktu menyampaikan niatnya menikahi saya ke Papa saya.

Saat ia berbisik ke saya di pelaminan, “Ternyata kawin itu ribet ya, pantes orang bilang nikah itu sekali aja..”.

Saat ia hujan-hujanan jam 12 malam keliling cari siomay karena saya lapar, padahal saya nggak ngidam! :D

Dan yang terpenting, saat saya mengiyakan ajakan menikah darinya tanpa paksaan dan dalam kondisi sadar. Kemudian jadi inget joke yang ia lontarkan, “Ngajak Lita nikah sekarang takut peletnya keburu hilang”, haha.

Biasanya kalau hal ini dilakukan, rasa amarah saya perlahan mereda. Masalah memang tidak selesai sampai di situ, harus dibicarakan supaya ketemu titik akhir penyelesaian. Menurut John Gottman, PhD, founder Gottman Institute and the University of Washington’s Love Lab, 69% pertengkaran dalam pernikahan tidak diselesaikan. Tapi, ini memang balik lagi ke pasangan yang bermasalah, apakah mereka memiliki emosi yang stabil, hubungan yang bahagia, dan seterusnya. Btw, Gottman ini bisa menebak pengantin baru  mana yang akan bercerai atau tidak, dan 90% tebakannya akurat!

Balik lagi nih, apakah cara saya berhasil? Untuk meredam emosi, ya, sejauh ini Alhamdulillah berhasil.

Apakah pernikahan saya berjalan mulus? Oh, tentu tidak. Banyak sekali rintangannya. Mulai dari yang seperti pasir, sampai bak kerikil di pernikahan kami. Dan saya yakin ke depannya pasti akan berhadapan dengan banyak kerikil lainnya. PR-nya adalah, bagaimana mau menghadapi kerikil tersebut. Menyingkirkannya? Berjalan di atasnya? Atau balik mundur nggak jalan terus?

Bagaimana dengan Mommies, ada kiat jitu untuk mengatasi pertengkaran dalam rumah tangga?


8 Comments - Write a Comment

  1. Gue merasa ada perubahan cara bertengkar pas udah ada Menik. Dulu sebelum punya anak, berantem nggak pake mikir. Sekarang, hadeuuhh.. susah meluapkan emosi, apalagi si anak ada di sekitar. Nah, biasanya gue tulis di email point by point hahaha.. jadi pas ketemu udah enak ngomongnya, nggak pake emosi tingkat tinggi. Dan karena di email itu, gue jadi gampang merunut masalah dan tentunya punya bukti tertulis :p abis gitu untuk menghabiskan emosi buruk, biasanya ya sayang-sayangan aja.. bercanda, dan puter lagu berdua hihii biar inget dulu jaman pacaran haha

    1. Kii.. gue tipe orang yang emosinya bisa keluar lewat tulisan dibanding omongan, hahaha! Jadi kalau lagi berantem, pas udah reda dan harus ngobrolin masalahnya, gue nulis apa aja yang bikin gue nggak suka dan apa solusinya. Nanti pas diskusi, gue sambil baca notes tersebut. Hahahaha.. dodol ye?

  2. tahun ini, tahun kelima gw nikah sama suami. setelah punya anak, emang beda ya cara berantemnya. dulu gue frontal banget. apa-apa langsung diomongin di depan muka dan kudu saat itu juga. tapi sekarang, mulai bisa handle emosi sambil mikir “latar belakangnya”, lit. tapi tetep, gue pilih ngomong langsung ketimbang kirim email, hahahaha… mentok-mentoknya, gw whatssapp suami dah wkwkwkwkwk

Post Comment