Televisi untuk Anak; Yay or Nay?

Sebuah penelitian yang diterbitkan dalam Human Communication Research, memerlihatkan bahwa menonton TV dapat menyebabkan berkurangnya interaksi antara orangtua dan anak. Bahkan juga berdampak buruk pada kemampuan menulis, membaca, dan bahasa anak.

Lebih jauh lagi, hasil penelitian menunjukkan, pada kelompok ibu dan anak yang membaca buku bersama-sama, secara signifikan mempunyai komunikasi yang lebih baik dibandingkan pasangan ibu dan anak yang menonton TV.

Walaupun jumlah komunikasi saat membaca buku tidak secara signifikan lebih tinggi daripada kelompok ibu dan anak yang mainan alat (mobil-mobilan atau boneka). Namun, kualitas respons ibu lebih tinggi ketika anak-anak mereka membaca buku dan bermain dibandingkan menonton TV.

Televisi memang bagaikan dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan. Satu sisi menguntungkan, sisi lain membahayakan. Bagian mana menguntungkannya? Jika tak ada televisi, kita mungkin kesulitan mendapatkan gambaran penuh kehidupan anak-anak di pedesaan Papua misalnya lewat program televisi untuk anak, para ayah mungkin tak bisa menyaksikan laga Barcelona atau Liverpool saat gemuruh liga Champion dan banyak lagi.

Tapi sudah menjadi rahasia umum juga bahwa televisi sesungguhnya memiliki bahaya yang mengancam bagi anak-anak kita. Berikut fakta yang saya ambil dari buku Batasi TV dan Nikmati Hidup terbitan Kita dan Buah Hati:

  • Satu dari dua orangtua mengaku bahwa bila mereka memiliki hal penting untuk dikerjakan mereka menggunakan TV untuk ‘menghibur’ anak
  • Menonton TV lebih dar 10 jam dapat menurunkan prestasi akademik anak
  • Satu dari dua anak usia 8-16 thun dan satu dari empat anak usia 6 tahun ke bawah memiliki TV di kamar mereka
  • Satu dari tiga anak usia 6 tahun ke bawah memiliki VCD/ DVD player di kamar mereka
  • Delapan dari sepuluh anak usia 2-7 tahun menghabiskan waktu untuk menonton TV tanpa diawasi
  • 95% anak usia di atas 7 tahun menonton TV  tanpa orangtua mereka
  • Anak-anak di bawah usia 6 tahun hanya menghabiskan waktu 41 menit per  hari untuk membaca atau dibacakan buku
  • Berita pembunuhan meningkat 721% dari 1993 ke 1996. Padahal itu lebih dari 15 tahun yang lalu. Bisa dibayangkan, berapa banyak potensi anak-anak menyaksikan berita pembunuhan atau kekerasan?

Saya pribadi jujur masih sering menggunakan televisi sebagai ‘pengalih perhatian’. Misalnya kalau lagi GTM (gerakan tutup mulut), maka boleh makan sambil nonton TV atau saat lagi tidak ada ART di rumah tapi saya harus bebenah/masak, maka TV akan menjadi pengasuh sementaranya dan lain sebagainya.

Padahal saat sebelum menikah, saya pernah berkesempatan membuat program kartun untuk anak bersama Ibu Elly Risman, menurutnya perubahan warna, gerak dan suara yang tersaji di televisi saat itu (sekitar 2006) berlangsung sangat cepat yaitu 2-3 detik. Sementara kemampuan otak anak untuk menyampaikan informasi antar sinaps adalah 4-6 detik. Inilah makanya televisi disebut sebagai membatasi daya konsentrasi anak dan menghasilkan anak dengan jarak perhatian 2 detik alias two minutes mind pada anak usia 1-3 tahun.

Perlu diakui, belakangan ini di televisi nasional banyak sekali program-program anak yang cukup bagus. Sebut saja Jalan Sesama, Si Bolang, dan banyak lagi. Tapi sayangnya, saat jeda iklan masih sering disisipkan promo iklan sinetron dewasa. Pernah suatu kali saat menonton sebuah program anak, tiba-tiba Langit berkata, “Wah, kakaknya dipukul sama ibunya, Bu! Kenapa, ya?” Haduuuuh …. *garuk-garuk kepala*

Belum lagi potensi televisi yang merenggangkan hubungan antara keluarga. Pada keluarga yang kerap saya temui, rata-rata memiliki 2 televisi. Untuk apa? Jika yang satu untuk anak, maka yang lain untuk ayah-ibu yang tidak mau ketinggalan menonton program kesukaannya. Bukan begitu, Mommies? *nyengir*

Banyak lagi pengaruh televisi yang dampaknya buruk bagi anak dan keluarga. Tapi akan saya ceritakan di artikel yang lain. Di bawah ini ada beberapa kiat dari Ibu Elly Risman soal bagaimana membatasi televisi:

  • No TV di bawah 2 tahun!
  • 5-7 tahun: paling lama menonton TV 2 jam/hari
  • Buat kesepakatan dengan anak tentang hari apa saja mereka boleh menonton TV dan diskusikan program yang boleh mereka tonton
  • Pindahkan TV dari kamar anak

Jadi bagaimana, parents? Televisi, yay or nay?

 


74 Comments - Write a Comment

  1. Dilematis banget topik ini, Mawww… Dulu waktu Zara (3y) masih bayi, kalo gue baca cerita orangtua yang anti dan menjauhkan televisi dari anaknya sempat gue anggap aksi yang sangat berlebihan. Sekarang gue kena batunya.

    Di usia saat ini -ternyata, oh, ternyata- anak daya serap “sponge brain”nya itu makin hebat. Mereka bener-bener menuturkan kata atau kalimat atas apa yang mereka denger. Nanny dan mbak di rumah, sih, memang nggak terlalu suka nonton televisi, kadang-kadang saja. Tapi sekalinya nonton, tiba-tiba Zara sudah bisa niru, misalnya, sebuah kalimat tagline iklan dan jingle iklan. Gue memang melarang keras nanny dan mbak di rumah untuk nonton sinetron atau sitkom kalo lagi sama Zara. Tapi gue juga sadar ga mudah memegang kendali atas larangan gue karena 9-5 gue ada di kantor.

    Sekarang ini DVD karaoke lagu anak dan lagu sekolah minggu masih bisa bikin Zara seneng. Kalau gue perhatikan, dia ga terlalu suka nonton walaupun itu Disney Junior channel. Tapi sampe kapan? Temen sekolahnya belom ada yang sampe, “eh, kamu nonton ini deh di tivi, aku suka banget, lohhh…” Yaaa, macam kita ginilah, ada testimoni dirasa bagus kita pun jadi penasaran pengen liat/tahu. Nah, kalo udah mulai piye?

    Ohiya, hiks, gue tau nanny dan mbak pun manusia yang butuh hiburan. Nnngg, anuuu… Itu, lho, program musik di televisi, Gue syok tiba-tiba Zara nyanyi sebaris lirik lagunya Cherry Belle dan 7 Icons. Oh my dear… Begitu gue mulai melotot sambil bilang, “Zara, itu lagu orang dewasa, Zara masih anak-anak,” langsung dijawab dengan, “Okelah, bunda. Hepi ya ya ya hepi ye ye ye, Zara senang jadi anak Tuhan….” kwakwaaawwwwww…

    Televisi, yay or nay? Gue belom bisa jawab saklek ya atau tidak, kecuali -sebaiknya- nonton apapun harus didampingi orangtuanya. *sesek napas*

    Halahhhh, jadi satu jurnal sendiri nih curhat gue… :D

    1. nenglita

      Utheee… :)) panjang nih! hahaha…
      Gpp deh. Sama kok, gue juga belum bisa mematuhi peraturan dr bu Elly :D
      Dan ya, karena ga bisa 24 jam mengawasi dan kasihan juga kadang2 sama mbaknya kan, kita juga pasti bosen tho kalo seharian nonton baby tv walaupun mungkin bisa menghalau niat pindah chanel karena ini anak kita ya. Coba bayangin si mbak2 itu gimana nasibnya? Hiihihi…

      Dan kalaupun baby tv dsb itu, masalahnya mungkin bukan di content tapi lebih ke gerak dan warna (seperti di sebutkan di artikel ya) yg berpengaruh ke sambungan sinaps gitu2nya :)

      Anyway, tfs ya the!

  2. Mrs. Adi

    Klo aku Dan suami memang g memperkenalkan tv ke Nara.. Selain Krn Kita mmg jrg nonton tv pertimbangan Kita sm spt yg ditulis diartikel diatas.. Menurut Kita Masi bnyk yg bisa dieksplor Nara selain tv.. Tv sesekali Masi disetel tp ya g mengarahkan ke Nara untuk nonton, jd Klo tv nyala pun dia cuek Aja main.. :D

  3. dewdew

    eh tapi kalo anak gue bolehnya cuma nonton BAby TV, Disney Junior, dan Jim Jam… tapi teteup aja lebih dari 2 jam haisssh…

    emang sih, gue ngerasa kok kayaknya anak gue kebanyakan nonton tv. Tapi secara gue dan suami kerja, andelan nyokap gue di rumah ya tipi deh…

  4. barney.. barney.. and barney…
    huuu kayaknya suka lebih dari 2jam nonton tv (akumulasi ya, ga terus2an nonton)… seneng buat belajar nyanyi lagu-lagu, soalnya kalo emaknya yang nyanyi nadanya lari kemana2.. xixixi… so i choose yay for tv (dengan batasan tertentu pastinya) & nay for tv dikamar anak..

    1. nenglita

      Nna, tos kalo Barney! Tentunya kalau anak2 ga seperti kita ya, yang betah duduk manis 2 jam (atau lebih) di depan TV. Jadi seringnya 5 menit, terus lompat2 dulu, baru duduk lagi, terus kemana dulu, duduk lagi, dan seterusnya. Ya ga? :D

  5. setuju sama kirana dan manda..
    yay utk tivi tergantung jenis tontonannya juga.. dan Nay utk tv dikamar anak..

    anakku banyak belajar hal baik juga dari elmo dan barney..

    cuma ya itu, kdg terkontaminasi sinteron krn nyokap hiburannya cuma itu dan akupun ngga bisa mengelak cz cuma nyokap yang ada dirumah berdua sama tania klo siang :(

    1. nenglita

      Iya mak, anak gue juga (untungnya) bisa dapet beberapa hal yang positif dari Barney misalnya, menghapal alphabet bahasa Inggris, dari Elmo tentang toilet training, dan lain sebagainya. Mungkin ini sebabnya kita harus mendampingi anak2 kalo nonton apapun, supaya mereka bisa kita bantu mencerna maksud dari program yang ada di TV terseebut :)

  6. nay! :)
    sharing aja, anakku umur 8 dan 4 tahun, dirumah ga ada siaran tv (kabel dan lokal).
    dan kita bisa bertahan :))
    mungkin karena aku dan suamiku juga ga doyan nonton tv dan ga ngerasa perlu nonton siaran tv.
    tv cuma mau dipake kalo mau nonton film yg kita mau. anak2 ku nonton film di weekend dari dvd yang karakternya mereka kenal duluan dari buku. both of my kids love to read.
    jadi awalnya kita cuma beli buku2, bacain buku2 dan waktu umur sekitar 3 taun-an anak2ku wants to meet book character alive, baru kita nonton dvd-nya. jadi jenis film yg ditonton juga sebatas sama karakter yg mereka tau aja.

    Pernah baca juga :
    Bahwa televisi sangat berpengaruh terhadap pembentukan dan perkembangan otak anak-anak kita, terlebih untuk anak-anak dibawah 3 tahun.Pembentukan otak manusia akan mencapai kapasitasnya sebesar 75% pada saat berumur 3 tahun dan 25% sisanya akan terbentuk sampai dia dewasa.Ironisnya televisi adalah suatu alat yang dapat menghambat perkembangan otak anak-anak kita. Dengan cepatnya pergerakan dan perubahan gambar dan maupun warna setiap detiknya tanpa disadari dapat merusak dan memutuskan jaringan-jaringan dalam otak anak-anak kita secepat perubahan dan pergerakan dalam TV itu sendiri.

    Maaf jadi curhaat..kepanjangan comment-nyaaaa :))

  7. Anak gw korban kebanyakan nonton TV nih *nangis guling2*

    Sejak baby sampe sebelum gw konsul ke dokter dwidjo…….anak gw always nonton playhouse disney, dvd elmo, n buanyaaaaakkkkk lagi dvd anak dari bangun tidur, makan, sampai mau bobo malam…….setelah konsultasi ke dokter dwidjo memang benar TV itu bisa merusak konsentrasi anak …………*nyeselnya hicks*……

    Sekarang dia hanya boleh main game setiap hari sabtu dan minggu, trus karena banyak kegiatan sekolah dan belajar dia sekarang jd males sendiri ntn tv :D

  8. rata-rata pada menggunakan tv kabel ya untuk menonton tivinya, emangnya tv lokal indonesia belum bisa memberikan dampak yang baiknya. harusnya ada program seperti apa sih yang aman bagi anak yang bisa ditonton saat kita gak dirumah?ini bisa jadi perhatian nih buat para pembuat acara televisi untuk bisa bikin acara yang aman buat anak :))

  9. Anak sulungku sekarang umur 4 tahun. Aku sukses menerapkan no TV sebelum usia 2 th. Tapi aku hanya berkuasa di rumah. Saat dia berusia 1,5 th dan mulai bersekolah, di sekolah saat anak2 yang datang sebelum jam sekolah diputarkan video anak2. Dengan bangga aku lihat anakku ga betah nonton siarannya, karena ngga biasa. Awalnya dia berminat melihat warna dan gambar kartun yang disajikan, tetapi tidak bertahan lama. Setelah dia melewati ultah ke 3, kita mulai membolehkan dia menonton saat berkunjung ke rumah kakak saya, kadang dirumah saya putarkan vcd lagu anak anak, barney. Dia menunjukkan minat juga tapi waktu yang saya perbolehkan adalah maksimum 15 menit dan setelah itu kami nontonnya udahan. Baru beberapa bulan terakhir ini kami mulai membelikan DVD film2 seperti Lion King, Cars, Kungfu Panda. Saat ini anakku suka sekali nonton Kungfu Panda dan Cars. Selalu minta nonton 2 film ini. Tapi yang aku perhatikan dia hanya sanggup nonton sampai maksimum 1 jam dan bilang sendiri “nontonnya udahan mami” Waaah senengnya…..

    Anakku tahu dan patut atas peraturan di rumah yang hanya boleh nonton saat akhir pekan/liburan. Yang menjadi dilema adalah dedeknya yang sekarang baru berusia 8 bulan…pada saat menemani kakaknya nonton, dedek ikutan liat2 TV. Kami (ibu dan kakak) selalu bilang ke dedek, “ jangan nonton dek, tidak baik buat mata kamu” Heee heee.

    Emang susah moms, apalagi moms yang urus anak sendiri, TV adalah babysitter yang sangat dapat diandakan saat mommy harus mengerjakan kerjaan rumah dll. Tapi walau susah, bisa kok ditekuni, sediakan banyak buku cerita dan ajarkan si kecil membiasakan diri membaca sendiri….

  10. wah, kalau boleh sharing , qnan ku dari kecil(umur dibawah 1 thn) udah kebanyakan nonton tv tp baby tv or tv laennya, cuman dia tau mana film yang dia suka mana yang engga… wah dibilang salah sih salah ya, tapi kl ada tv dia jadi cepet tuh nyerap bahasanya sama ada ketrtarikan dengan musik… should be not watching tv ya? :(

  11. share yaa…abimku (12m25d) ga terlalu suka nonton tv, tp malah suka di ajakin sama yg besar2 di rumah biar ga rewel..tp paling dia cuma bertahan 5 menit utk liat, abis itu ngacir pergi kemana..dia paling tertarik sama sponge bob, again paling cuma bentar liatnya…yg aq agak khawatir, dia seneng banget liat video lagu anak2 muslim dr BB..klo udah liat itu anteng bgt bisa bertahan mpe 15 menit…dia juga sudah bisa milih mana yg mau di lihat mana yg enggak….gimana yaa..sama ga siy efek nya dg TV klo liat video dr HP gitu ato more danger dg sinyal dll nya….

  12. hi lam kenal, baru join trnyata keren2 skali artikel2 dsini. Mo share jg, anakku Kimi (skrg udh 3,5 thn) kuterapkan nonton tv hanya sabtu minggu, bebas boleh nonton dr pagi ampe malem, nah di hari2 lain, Kimi hanya blh nonton ketika makan n minum susu aja. Dia minum susunya rada susah soalnya, klo liat TV langsung satu gelas dihabiskannya. Tontonannnya juga hanya Disney Junior atau You tube utk lihat video2 Thomas and friends. Kadang klo aq kelupaan matiin tvnya, dia yg inisiatip utk mematikan TV or Kompi stlh mkn or susunya habis. Malahan dia melarang ayahnya utk nonton TV klo bukan sabtu minggu. oiya, drmh hny gw yg asuh anak sndiri, n kebetulan ga suka bgt nonton tv, jd mang TV nyala klo dia pas mo mkn/mnm susu doank. Klo TV udh mati, biasanya gw alihkan ke mainan2 yg ada drmh, makanya gw suka bgt beliin dy maenan2 biar dia sibuk terus. Efek bagus TV : bahasa inggris kimi bagus bgt! jaman gw msh umur segitu mungkin taunya cuma ‘yes’ or ‘no’ doank, tp dia bs mngucapkan kalimat2 bhs inggris, krn emang sih selain diberi tontonan dlm bhs ingg, gw jg suka ajak omong bhs ingg sehari2nya. so, Nay for TV on several conditions.

  13. Pingback: Deen Hanifa.

Post Comment