Say No To Bully!

Kemarin, timeline Twitter saya ramai dengan kisah bullying yang (katanya) terjadi di sebuah sekolah elit di Jakarta Selatan. Sang korban tak hanya mengalami bullying secara mental namun juga fisik. Pelakunya merupakan  para seniornya di sekolah, plus para alumni. Yang disayangkan adalah reaksi pihak sekolah yang terkesan membiarkan, tanpa menjatuhkan sanksi apa pun kepada para pelaku.

Sebelumnya, seorang sepupu saya juga mengalami peristiwa serupa. Sepupu saya ini masih duduk di bangku kelas 1 SMP swasta ternama di kawasan Bekasi Selatan. Di sekolah, ia di-bully oleh teman-temannya, bahkan direkam dengan video ponsel dan disebarkan. Sepupu saya diancam untuk tidak buka mulut. Namun tante dan kakak-kakak si korban mengetahui hal ini dari teman sekelasnya. Mereka pun marah dan mengadukan masalah ini ke sekolah.

*gambar dari sini

Rupanya, sekolah sudah menjatuhkan sanksi skors kepada para pelaku. Ponsel mereka juga disita. Tante saya pun cukup puas meski tetap meminta agar para pelaku dikeluarkan dari sekolah itu. Namun yang membuat beliau sebal, orangtua para pelaku mengajukan komplain yang cukup keras dan mengancam akan melakukan berbagai tindakan dengan kekuasaan karena mereka tidak terima dengan sanksi dari sekolah.

Terus terang, saya gemas sekali dengan beragam aksi bullying. Nggak usah menyangkut saudara, deh, kalo kejadian sama orang lain saya juga ikut bete. Dan dari yang saya perhatikan, korban bully biasanya merupakan sosok yang berbeda dibanding teman-temannya. Baik menonjol atau justru sebaliknya.

Kategorinya gimana? Semua sangat relatif. Bisa dari sisi kecantikan, popularitas, kekayaan, prestasi di sekolah hingga hal-hal konyol. Teman kuliah saya cerita, waktu SMP ia kerap di-bully teman-temannya karena tubuhnya yang tinggi besar. Lalu seorang teman yang lain bercerita, ia kerap di-bully semasa SMA karena selalu jadi bintang kelas dan tidak mau diajak tawuran. Sementara di sebuah tabloid yang saya baca, dituliskan kisah hidup seorang artis yang kerap di-bully teman-temannya saat SD hanya karena orangtuanya bercerai. :(

Saya lihat, aksi bullying ini bikin peer pressure semakin kuat. Efek dominonya, supaya nggak di-bully, anak-anak jadi “maksa” untuk bisa tampil sama dengan teman-temannya. Bahkan tak jarang yang rela menraktir teman-teman atau memberikan “setoran” kepada para para pelaku bully di sekolah. Yang punya tubuh tinggi, jadi membungkukkan badan supaya sama tinggi dengan teman-teman lain. Yang punya tubuh gemuk, jadi diet mati-matian supaya tidak dikucilkan. So sad.

Dari pengalaman pribadi dan juga teman-teman plus saudara, peer pressure dan bullying lebih kerap terjadi di sekolah dengan latar belakang finansial homogen alias swasta kelas menengah atas. Jadi, kalo ada yang beda sedikit (nggak punya iPad atau sepatu Adidas misalnya) akan dianggap beda. Later on, kalo anak itu nggak bisa keep up dengan pergaulan di sekolahnya, ia akan dijadikan bulan-bulanan.

Lantas, buat orang tua, harusnya bertindak apa? Masa anak kita nggak bisa jadi dirinya sendiri karena takut tampil unik lalu jadi korban bully? Lalu kalau anak kita (amit-amit) jadi pelaku bullying, bagaimana mengatasinya?

Kemarin saya baca beberapa sharing dari Mbak @AlissaWahid. Ia menyebutkan bahwa bullying (seperti juga banyak hal lainnya) berawal dari rumah dan orangtua. Bullying biasanya disebabkan oleh minimnya harga diri si anak. Untuk selengkapnya, bisa disimak di http://chirpstory.com/li/14707, ya.

Kalau anak sudah terlanjur jadi pelaku bullying, sebaiknya orangtua langsung introspeksi diri dan melokalisir masalah lalu mencari solusinya sendiri. Fokuslah pada solusi, jangan melulu pada kesalahan anak.

Jangan seperti orangtua senior sepupu saya yang justru mengancam pihak sekolah karena tidak terima dengan sanksi yang didapat anak-anak mereka. Menurut saya, sih, tindakan ini justru membuat anak merasa jumawa karena ia merasa, apa pun yang ia lakukan, salah atau benar, akan selalu didukung orangtuanya secara membabi buta

But anyway, peer pressure and bullying, happen at all stages of age. Dari TK, SD, SMP, SMA, Universitas, kantor-kantor swasta atau instansi pemerintahan, sampai institusi politik. Apalagi kalau dari kecil sudah terbiasa mem-bully orang, bisa jadi akan terus terbiasa sampai dewasa. Kalo terbiasa jadi korban bullying, bisa jadi saat dewasa dan punya power, dia akan membalas dendam kepada orang-orang yang less powerful compared to him. Lingkaran setan ini pun nggak akan kelar-kelar.

Mau di lingkungan nyata atau di lingkungan maya, bullying does exist. Jadi kalau nggak suka di-bully, ya, jangan mem-bully orang dong. Istilahnya, kalu nggak suka dicubit, jangan mencubit orang lain, ya, kan? Intinya jadi korban atau pelaku bully, itu bukan masalah utamanya. Yang penting adalah gimana kita bisa keluar dari lingkaran bullying itu dan memotivasi lingkungan sekitar untuk melakukan hal yang sama, terutama orang-orang tercinta.

Gimana menurut Mommies?

 


23 Comments - Write a Comment

Post Comment