Di mana Orang Dewasa Saat Bully Terjadi?

Siang, 28 Oktober 2011. Jakarta sedang terik-teriknya. Suara khas BlackBerry Messenger menganggu lari saya dari lokasi parkir Pacific Place ke Gedung BEI. Saya biarkan. Ia berdenting berulang kali hingga akhirnya diam waktu saya menitipkan KTP di lobby BEI. Selang satu jam, setelah selesai pertemuan saya dengan calon klien, baru saya tengok apa maunya bunyi-bunyian tadi.

Ini kelemahan saya. Apapun yang menyangkut anak gadis saya, Sekar, bisa seketika mencuri perhatian. Termasuk yang satu ini. Saya harus duduk …

Pesan itu dari Mama: “Ini dari Tante Dibyo. Kok kayaknya di sekolahan anakmu kejadiannya.

Lalu ia meneruskan pesan berantai dari Ibu Dibyo tadi: “Kejadian penganiaan kejam kepada anak saya BA kelas 1 di SD Quantum Indonesia, Cibubur, hari Senin 24 okt jam 2 siang. Anak saya BA sedang main menunggu kakaknya selesai belajar. Ketika bermain BA ditarik n diajak sama kakak kelas 3 perempuan nama VA ke toilet wanita. Setelah masuk toilet di kunci oleh VA lalu anak saya BA di tanya nama kakaknya siapa n dijawab Tommy lalu tanpa bicara lagi VA langsung menjedukkan kepala anak saya BA ke tembok berkali-kali. Lalu wajah anak saya BA ditampar, dicubit n tubuh anak saya disiram pakai selang closet toilet sampai basah kuyup lalu VA menyuruh anak saya BA buka baju. Guru yg tdk bertanggung jawab n sekolah yg tdk melindungi anak siswanya karna sampai jam 5 sore tdk ada pihak sekolah telp kami ortu BA. Jam 6 sore sy sampai rumah melihat anak sy BA muka memar lalu sy langsung telp walikelasnya n guru tersebut bilang hanya kesalahpahaman anak2 n minta maaf tdk kabari. Semudah itukah seorang guru n pihak sekolah yg harusnya melindungi n mendidik anak muridnya? Saya langsung membawa anak sy ke dokter lalu ke polisi. Besoknya selasa pagi saya ke sekolah n ketemu ka sekolah sd quantum n mereka minta maaf n bilang mereka tdk hubungi kami karna sibuk rapat guru. Astagfirullah anak saya yg nyawa hampir hilang tapi sekolah cuek saja? Kami yg hubungi sekolah n datang sekolah, harusnya sekolah yg melsayakan itu. Sekarang kami infokan kejadian ini agar para ortu berhati2 dalam memilih sekolah anak, jangan hanya mahal atau bagusnya gedung saja tapi liat kepala sekolah yg melindungi n tanggung jawab. Sekarang anak saya BA trauma n kejiwaan jadi tsayat ke toilet, mimpi buruk tdk bisa tidur n tdk mau sekolah. Mohon doanya agar anak kami BA sehat secara fisik n bathin. Amin.”


Ironisnya, pagi itu, saya ambil rapor tengah semester Sekar di sekolahannya. Semua tampak normal. Tidak ada desas-desus apa pun di sana. Saya berusaha mengingat kembali apa yang terjadi. Apakah saya melewatkan beberapa pengumuman. Sesibuk itukah saya sampai tidak memperhatikan? Tampaknya tidak. Seketika saya mengonfirmasi kabar ini pada Wali Kelas Sekar dan Perwalian Komite Sekolah.

Ibu Sheyla, Wali Kelas Sekar lewat SMS: “Sore Pak, iya pak, memang benar adanya gangguan dari kakak tingkat ke adik kelasnya, namun kronologisnya memang belum diketahui secara pasti. insyaAllah kami akan memanggil pihak ke3 yaitu psikolog, untuk benar-benar memastikan bagaimana kronologis kejadian yang sebenarnya, karena memang masih dibawah umur jadi harus hati-hati dalam menanganinya. semoga dapat diselesaikan dgn baik. kami akan meningkatkan pengamanan kami untuk menjaga siswa-siswa kami.

Keduanya mengonfirmasi positif pesan berantai Ibu Dibyo. Kepala saya panas. Pertanyaanya; kenapa? Bagaimana? Lalu anak saya? Tidak ada yang bisa jawab dengan pasti. Usaha saya mendatangi sekolah saat itu juga digagalkan kemacetan Jakarta sore hari.

Seperti biasa, lewat Google saya mendapatkan berita Okezone yang disiarkan 27 Oktober 2011. Menarik justru memperhatikan komentar pembaca atas berita itu, terutama yang datang dari seseorang bernama Riska  P. Susilo (silakan baca di link yang saya sertakan di atas). Meski saya tidak tahu bertindak sebagai apakah Riska P Susilo dalam memberikan klarifikasi, namun, sangat membantu pemahamanku mencerna, minimal, dari dua kacamata berbeda. Tentu saya harus mendengar sendiri. Saya hubungi sekolah Sekar, bukan sebagai orangtua siswa, tapi wartawan yang hendak menimba keterangan. Sayangnya, pihak sekolahan menolak dengan berkata, “Masalahnya sudah clear dan dituntaskan secara kekeluargaan.

Hingga, tanggal 30 Oktober 2011, siang, orangtua korban aniaya (entah apa padanan kata ‘Bully’ dalam bahasa Indonesia. Saya gunakan saja ‘aniaya’) melakukan siaran langsung di MetroTV. Beliau ditemani Kak Seto sebagai narasumber ahli. Saya tidak menyaksikan ini. Mama, Mbah, dan semua orang rumah saksinya. Saya terima siaran langsung dari BlackBerry Messenger.

Bully. Baiklah, saya tidak akan menggunakan ‘aniaya’ kali ini. Takut salah makna. Bisa jadi ini istilah baru. Tapi, kejadiannya sama sekali bukan barang baru di Indonesia. Lalu, apa itu bully?

Bullying adalah siksaan dengan sengaja secara fisik, verbal, atau psikologis”

Anak biasanya pernah diejek oleh saudara dan kawannya, hingga batas tertentu. Sifatnya tidak serta-merta berbahaya kalau ia masih dalam kisaran main-main, bersahabat dan secara mutual ‘bercanda.’ Tapi, ketika ejek-mengejek tadi mulai menyakiti, tidak menyenangkan dan konstan; ia sudah menjurus pada bullying dan harus segera dihentikan.

Bullying adalah siksaan dengan sengaja secara fisik, verbal, atau psikologis. Hal ini dapat berkisar dari memukul, mendorong, menghina orang lain, ancaman dan mengejek untuk memeras uang dan barang berharga. Beberapa anak di-bully lewat cara isolasi dari orang lain dan menyebarkan desas-desus tentang mereka. Ada juga yang menggunakan email, ruang chatting, pesan instan, situs jaringan sosial, dan pesan teks untuk mengejek orang lain atau menyakiti perasaan mereka.

Tanggapi bullying dengan serius. Tidak hanya sebagai sesuatu yang harus anak-anak hadapi untuk menjadi kuat. Efeknya sangat fatal. Ia bisa mempengaruhi harga diri dan masa depan anak. Bahkan, bullying pernah berujung tragedi, seperti bunuh diri dan penembakan di sekolah.

Saya tidak paham betul kenapa anak bisa melakukan bully. Banyak penjelasan psikologis yang berkembang. Seorang doktor behavioral health dari KidsHealth Child and Adolescent Psychologist, D’Arcy Lyness, PhD, menjelaskan: “Seorang anak melakukan bully oleh berbagai sebab. Kadang mereka melakukannya karena butuh korban dari anak lain yang secara emosional atau fisik lebih lemah (atau cuma berpenampilan berbeda) agar merasa lebih penting, popular atau berkuasa. Sering juga, pelaku bully telah diuntungkan lebih dulu dengan perawakan yang besar dan lebihkuat dari korbannya. Kadang juga anak menyiksa kawannya karena meniru apa yang ia alami. Mereka bisa saja berpikir kalau perlakuan macam itu normal, karena di dalam rumahnya sering terjadi perkelahian, teriakan, dan banyak tindakan kasar lain. Program TV, meski kecil angka pengaruhnya, juga berperan memberikan contoh kebiasaan anak-anak.”

Kecuali anak menceritakan bahwa ia di-bully, atau memiliki memar dan luka yang kasat mata, akan sukar mengetahui telah terjadi sesuatu yang buruk dengannya. Tapi, tentu saja, masih ada indikator penanda bagi orangtua. Kita akan dapat dengan mudah melihat kelakuan anak yang berbeda dari biasanya. Tampak gelisah, sulit makan, sukar tidur, tertutup, menyendiri atau menghindari kegiatan tertentu. Ketika anak tampak lebih sensitif dan mudah marah, atau tidak mau naik jemputan sekolah, bisa jadi karena bully.

Di sini, keterampilan dan pilihan kita sebagai orangtua diuji: bisakah kita bicara dengan anak kita? Bicara pada ranah hati ketimbang kata-kata. Bicara dengan media mata, bukan suara. Mendengarkan apa yang ia rasakan tanpa ucapan. Menangkap pesan “Tolong saya, Papa” meski tanpa air mata. Kalau Anda lolos ujian ini? Selamat! Banyak orangtua yang baru menyadarinya setelah mata anak mereka menutup untuk selamanya.

Seringnya soal waktu. Jangan paksa anak kita menceritakan hal-hal yang menurutnya tidak nyaman saat itu juga waktu kita pertama kali menanyakannya. Ulangi dan ulangi, sampai Anda menangkap ada waktu-waktu tertentu anak kita bercerita dengan bebas. Ajak mereka menonton film, ceritakan adegan-adegan yang memancing memori anak pada peristiwa serupa. Tanyakan: “Kakak pernah lihat ndak orang dipukul kayak gitu?” atau “Kakak pernah dipukul juga?

“Intinya, ada tempat berbicara untuk anak kita, baik pada orangtuanya, guru, keluarga atau saudara kandung mereka”

Waktu menjelang tidur, baik siang maupun malam, biasanya adalah waktu terjujur bagi anak menceritakan pengalamannya. Pancing dengan dongeng atau ceritakan saja betapa jengkelnya Anda dengan kemacetan Jakarta. Saya sering memanfaatkan Sekar sebagai tempat curhat. Tidak peduli ia paham atau tidak, intinya adalah kami saling berbagi. Di sana ada kepercayaan yang kami bangun dan penyembuhan emosi untuk saya pribadi. Ketika ia merasa nyaman mendengarkan ocehan orangtuanya, ia akan mulai mengambil alih sesi curhat. Dari konsultan menjadi pasien. Biarkan cerita itu mengalir. Dengarkan. Tanggapi seperlunya. Dan, voila! Kini Anda tahu semuanya. Intinya, ada tempat berbicara untuk anak kita, baik pada orangtuanya, guru, keluarga atau saudara kandung mereka.

Sekarang. Bagaimana kalau ternyata ia betul korban bully? Fokus untuk membuatnya nyaman dan dukung anak kita apapun caranya, meski kemarahan sudah diujung tanduk. Anak cenderung diam saja karena mereka merasa malu mengapa kejadian seperti itu terjadi. Atau cemas kalau-kalau orangtua mereka merasa kecewa. Tidak jarang anak merasa, bully adalah kesalahan mereka sendiri.

Bantulah anak membangun strategi menghadapi bully dalam kehidupan sehari-hari. Kembalikan rasa percaya dan harga diri mereka. Yakinkan si anak kalau ia tidak sendirian. Banyak orang yang di-bully setiap harinya. Tekankan, kalau tindakan bully itulah yang salah, bukan mereka. Yakinkan juga pada anak kalau Anda dan dia akan bekerjasama menghadapi ini. Anak mengandalkan kita sebagai yang terkuat. Jangan khianati kepercayaan itu. Jadilah yang terkuat, walau cuma di mata anak sendiri.

Kembali ke sekolah Sekar. Buat saya, ini adalah mutlak tanggung jawab sekolah dalam menjamin keamanan fisik dan mental anak didiknya, dari ancaman luar maupun dalam sekolah. Tidak ada pelaku dan korban sejauh hal ini menyangkut anak-anak di bawah umur. Mereka semua korban. Korban keteledoran kita yang dewasa ini dalam mengayomi. Korban bagaimana kemarahan mengambil alih sebagian besar energi kita untuk berpikir jernih.

Sekedar ilustrasi; saya sengaja menyamarkan semua nama anak yang terlibat baik dalam kutipan langsung maupun keterangan tertulis, untuk menghindarkan mereka dari cedera psikologis lebih lanjut. Tidak ada sedikitpun hak kita merusak masa depan anak-anak itu dengan menyebutnya sebagai ‘pelaku kejahatan.’

Biarlah kedua orangtua menyelesaikannya dengan cara apa pun yang mereka rasa paling nyaman. Orangtua lain, tentu saja menuntut jaminan dari sekolah kalau peristiwa serupa dapat dihindari. Ya, hal ini sangat mungkin terjadi lagi. Masalahnya, di mana orang dewasa ketika peristiwa macam itu terjadi? Selama kesadaran ini tidak terbangun, anak-anak kita akan terus jadi korban.

Seperti dikutip Okezone: Ketua Umum Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA), Aries Merdeka Sirait, menegaskan kekerasan di SD Quantum Indonesia seharusnya menjadi tanggung jawab guru. Hal ini merujuk pada pasal 54 undang-undang nomor 23 tahun 2003 tentang perlindungan anak, di mana seorang anak yang berada di dalam sekolah harus mendapatakan perlindungan dari guru, pengelola sekolah ataupun teman-temannya. Setidaknya, hal ini telah diakui Kepala Sekolah SMP Quantum, Januarisman Damanik, lewat Okezone: peristiwa ini terjadi karena kelalaian pihak sekolah.

“Sekolah HARUSLAH tempat yang AMAN bagi anak didiknya”

Soal moral, kebiasaan dan kelakuan anak boleh jadi tanggung jawab bersama antara orangtua dan sekolah. Saya bersikeras, kalau hal tersebut lebih pada tanggung jawab orangtua ketimbang sekolah. Tapi, jika menyangkut keamanan, mudah sekali dibedakan. Keamanan mental dan fisik anak di luar sekolah, tanggung jawab orangtua. Sebaliknya, ketika mereka berada di sekolah; kemanan mental dan fisik anak adalah tanggung jawab sekolah. Kami, orangtua murid, mempercayakan satu hal paling hakiki dari sebuah institusi pendidikan dan tidak berlaku toleransi: sekolah HARUSLAH tempat yang AMAN bagi anak didiknya.

Kalau prasyarat di atas tidak dapat dipenuhi, tidak bisa tidak, sekolah tersebut tidak boleh beroperasi.

Secara mental, saya cukup terlindungi sejak Sekar bisa  bilang, “Jangan takut, nanti Kakak tendang semuanya!” walau ini jalan terakhir melawan bully.

*gambar bully circle diambil dari sini

*Artikel ini diambil dari blog milik @gandrasta atas seizinnya. Thanks for sharing it!


54 Comments - Write a Comment

  1. Mrs. Adi

    pas pertama kali baca antara kaget, sedih, campur aduk.. setuju, tanggung jawab ada di orang dewasa, orang tua, sekolah, kita semua.. karena kita contoh yg nyata untuk mereka.. semoga kedepannya g ada lagi kasus2 kayak gini.. kitaorang dewasa harus aware dengan anak2 kita, jangan sampai tradisi bullying terus menerus terjadi.. :(

  2. nenglita

    Berita ini emang mengejutkan ya, sedih campur merinding anak kelas 3 SD (paling usianya baru 9 tahunan) udh bs melakukan itu ke orang lain.
    Anak udh pasti melihat dan menjadikan org2 terdekatnya sebagai role model mereka. Yang dipertanyakan Gandrasta dalam tulisan ini tepat banget, kemana org dewasanya? Baik saat kejadian atau sebelum kejadian (yang berarti saat si anak dirumah/ lingkungan tempat ia tumbuh, dimana ia mengadaptasi dari orang2 dewasa yang ada disana)
    Sediiiih banget bacanya. Sedih untuk anak yang di bully dan juga sedih atas perilaku mem-bully yang dilakukan oleh anak usia dini.
    Kalau pun harus, harusnya hanya orang dewasa yang merasakan kerasnya hidup. Bukan anak2.. :'(

  3. saya pernah menjadi korban bully secara verbal dan psikologis waktu SD dari kelas 5-6. saya tidak tahu kenapa saya menjadi sasaran. ada 4 orang yang jadi korban bully. kami ber-4 disebut dengan sebutan j1, j2, j3, j4. j itu singkatan dari jijay atau jijik. saya sangat tersiksa saat itu. saya mengadu kepada guru wali kelas tetapi beliau sepertinya tidak mengerti apa yang saya sampaikan. saya mengadu kepada orang tua, tetapi orang tua saya bilang saya untuk sabar karena kalau sudah SMP “main kata2an” itu akan hilang. dan memang betul ketika setelah SMP dan seterusnya saya tidak pernah lagi kena bully.

    satu hal lagi yang membuat saya tersiksa saat itu adalah guru wali kelas yang “strict”. strict dalam arti beliau tidak segan2 untuk meng-abuse secara mental dan verbal murid2nya bila tidak bisa menjawab atau mendapat nilai jelek dalam ulangan. saya SD di pertegahan tahun 80an. dan saat itu banyak pendapat yang mengatakan bahwa guru yang strict atau killer atau apalah namanya adalah yang paling bagus untuk kemajuan anak didik.

    saya pernah dendam sekali dengan wali kelas dan orang yang membully saya. ketika saya seorang teman memberitahu bahwa salah seorang yang membully saya membuka toko perlengkapan anak (sesuatu yang berhubungan dengan anak dengan awalan p kalo tidak salah) di kemang, saya menanggapinya dengan sinis. terus terang ada kepuasan tersendiri setelah mengetahu bahwa orang2 yang membully saya ternyata cuma “segitu doang”. saya jauh, jauh, jauh lebih baik dan beruntung dari mereka dalam hal pendidikan, pekerjaan dsb. tapi masa2 itu sudah lewat.

    1. Saya juga pernah ngalamin di bully. Rasanya sampai sekarang masih inget.. Tidak dengan fisik, tetapi mereka mengejek saya setiap hari, tidak mau berteman dengan saya dan tindakan2 lain. Saat itu entah kenapa saya juga takut bercerita kepada orang tua. Ditambah guru yang selalu membela anak2 yang mem-bully saya, karena mereka anak2 orang kaya (dengan sumbangan besar ke SD-I knew that years later setelah pindah SD).
      Kadang kalo liat anak kecil diejek2 sama sekelompok anak, saya suka marah dan belain. Mungkin di hati saya masih tersisa sedikit dendam.. Semoga satu hari saya bisa memaafkan anak2 kecil yg dulu mem-bully saya. Oh ya, umur saya sekarang 32 tahun dan kejadiannya terjadi saat saya masih SD kelas 2 s.d kelas 3. So it’s clearly KEJAM dan TRAUMATIS this bullying thingy.

      Trims banyak, banyak, banyak untuk sharingnya. Saya pastikan, insya Allah tidak ada satupun anak saya yang menjadi korban bullying..

  4. Thank you sharingnya.. seiring waktu memang orang sudah lebih aware dengan perkara bullying di sekolah.. ga seperti dulu2 dimana baik pihak sekolah maupun orangtua tdk menganggapnya hal yg serius.. bahkan seperti kata deeagus, ada guru yg hobby mem-bully muridnya, krn hal ini juga terjadi di sekolah saya dulu.
    Tapi hari gini, masih loh ketemu orangtua yg ada perasaan “bangga” kalau anaknya bisa mem-bully anak lain.. seolah senang krn anaknya berarti “jagoan”. Ga jelas apakah krn mereka sendiri dulunya adalah bully, atau pernah jadi korban bullying..

  5. Dulu waktu Carissa masih Nursery (kira2 4 tahun) dia pernah masuk RS sekitar 10 hari. Karena dia pindah sekolah waktu Nursery, memang di sekolah baru belum terlalu banyak teman. Kembali masuk dari sakit, teman yg cuma beberapa tiba2 menjauhi karena ada seorang anak yg melarang anak2 lain bermain dengan Carissa. Karena dia sudah sekolah sendirian dan tidak lagi ditemani, jujur saya sadar setelah berjalan beberapa minggu. Carissa yg biasanya senang sekolah, tiba2 malas dan selalu menangis kalau harus sekolah. Karena komunikasi masih terbatas, susah sekali untuk mengorek sebenarnya apa yg terjadi. Akhirnya saya minta dia cerita secara detail apa yg dia lakukan di kelas. Dari situ saya tahu bahwa Carissa harus diam2 mengambil mainan dan bermain di pojok kelas sendiri dengan menghadap tembok karena takut direbut mainannya. Awalnya saya bertanya dengan guru kelas, kenapa hal ini bisa terjadi. Saya kaget waktu guru “cuek” saja dan menganggap itu hal biasa. Menurut guru, harap maklum, Carissa kan anak baru yg tiba2 tidak masuk sekolah. Jujur saya kecewa berat dan sempat curhat ke sesama ibu di sekolah lama. Saya bilang, saya mau kembalikan saja Carissa ke sekolah yg awal. Teman saya diskusi dengan kepada sekolah. Lalu rupanya berita saya kecewa dan mau pindah, terdengar di sekolah baru. Tiba2 guru kelas meminta waktu ke saya dan menceritakan bahwa dia sudah menugaskan beberapa anak untuk “menemani” Carissa. Sejak saat itu, Carissa suka lagi bersekolah.

    Cerita lain adalah guru matematika yang menyalahkan jawaban Carissa karena tidak sesuai dengan “cara” yang seharusnya. Dengan enteng beliau mencoret jawaban, walau hasil akhir sudah benar dan menuliskan bahwa Carissa harus bekerja sendiri dan tidak boleh minta dibuatkan peer. Saya jujur kesal sekali dengan sang guru. Saya protes, krn memang caranya menjawab belum diajarkan. Guru menjawab, ini bonus point, jd anak harus berusaha mencoba mencari jawabannya dulu. Saya bilang, apa anak tahu kalau ini bonus point? Krn Carissa cuma tahu ini pe er dan harus dikerjakan. Lalu saya bilang, saya memang yang membuat jawaban, tapi saya ajarkan ke Carissa bagaimana caranya. Jd Carissa bisa tahu memakai cara tersebut dengan soal yg lain, Lalu saya tanya, apakah guru sudah mencoba menguji Carissa. Dia bilang belum. Ya saya bilang lagi, bagaimana anda langsung mengecap dia nyontek kalau begitu? Ujung2nya sih si guru banyak diprotes dan sekarang resign. Bukan resign-nya sih yg penting, tp saya mau share bahwa guru juga manusia. Guru bisa saja salah. Guru yang baik adalah guru yang mau berbesar hati bahwa dia bukan Sang Maha Tahu.

    Dari pengalaman2 tersebut, saya belajar:
    1. Sebagai orang tua, saya harus peka terhadap “keengganan” anak bersekolah. Komunikasi tidak boleh menjadi masalah. Saya yang harus berperan aktif mencari tahu.
    2. Guru dan sekolah mungkin sudah sering melihat hal ini terjadi, sehingga terkadang malah menjadi kurang peka. Mereka melihat apa yang menurut saya sebagai bullying adalah sesuatu yang normal dalam pergaulan. Sekali lagi, saya yang harus peka melihat kondisi anak saya sendiri.
    3. Sesama orang tua dapat menjadi dukungan yang kuat. Dari pengalaman selama anak2 saya bersekolah, banyak keluhan saya yang tidak ditanggapi serius oleh sekolah ketika saya bersuara sendiri. Tetapi ketika saya bercerita ke orang tua lain, mereka membantu saya melihat dari sisi lain dan menyampaikan keluhan tersebut dengan lebih objektif ke sekolah.

    Sekian curhat saya…
    ihhhh jadi panjang…. hehehe…

  6. Pingback: Fransiska Situmorang

Post Comment