Bunda, Si Lembaga Sensor Film Anak

Spiderman, Batman, The Avangers, Iron Man, dan masih banyak lagi karakter superhero favorit anak yang dijadikan film layar lebar. Tapi apa semuanya layak ditonton anak? Menurut saya tidak. Pertama, komik aslinya saja terkadang tidak diperuntukkan bagi anak kecil, begitu juga filmnya. Kedua, ukuran PG-13 di Amerika tempat asal film-film ini pastinya berbeda dengan ukuran di negara berbudaya timur macam Indonesia, contoh saja film The Amazing Spiderman yang PG-13 tapi banyak banget adegan ciuman Spiderman dan Gwen, atau Transformer yang PG-13 tapi ingat Megan Fox? Atau PG-13 semacam The Dark Knight yang kontennya cukup banyak adegan kekerasan.

Nah sebelum ngoceh panjang lebar, sebenernya apa sih PG-13 itu? PG-13 adalah tanda yang diberikan oleh badan sensor (dalam hal ini di Amerika tempat film-film ini berasal) yang menandakan film tersebut jika si anak berusia dibawah 13 tahun, berarti harus didampingi orangtua karena seperti kemudian dijabarkan: PG-13 – Parents Strongly Cautioned – Some Material May Be Inappropriate For Children Under 13. These films may contain sex references, up to four uses of explicit language, drug innuendo, strong crude/suggestive humor, mature/political themes, moderately long horror moments, blood,and/or moderate action violence.


Untuk urusan pemilihan film, saya biasa ‘mengelompokkan’ film-film yang boleh ditonton anak. Film yang memang mereka boleh tonton seperti Madagaskar, Toy Story dan film animasi lainnya. Untuk film-film ini saya tenang-tenang saja ngajak mereka nonton di bioskop. Lalu tentunya yang tricky adalah film-film superheroes diatas tadi. Karena pastinya si adik Aidan merasa itu film yang diperuntukkan bagi dia, toh semuanya cerita superhero, padahal kenyataannya belum layak ditonton oleh anak seusia Aidan. Apalagi biasanya teman-teman di sekolahnya diajak nonton oleh orangtua mereka, dan saling cerita di sekolah. Aidan awalnya selalu protes, kalau itu bukan film anak-anak (seperti yang selalu saya bilang) kenapa teman-temannya boleh nonton. Tapi untuk soal film ini saya tetap pada prinsip saya, tidak perduli orangtua lain menyebut saya berlebihan. Biasanya saya akan menjelaskan ke Aidan kalau peraturan setiap orangtua berbeda, dan menurut penilaian saya film-film itu belum boleh ditonton Aidan.

Tapi kemudian akhir-akhir ini saya sedikit melunak, ada beberapa film superhero yang kemudian saya ijinkan Aidan nonton, di rumah, bukan di bioskop. Dengan pertimbangan adegan action yang jadi sumber kekhawatiran saya efeknya tidak sedasyat di bioskop jika nontonnya di layak kecil, dan yang tidak ada adegan seksual. Film-film ini pun saya pilih, so far yang lolos sensor saya hanya film superhero Marvel yang dirilis setelah studio tersebut dibeli Disney, seperti Capntain America dan The Avangers. Ini pun sudah pasti Aidan tidak boleh nonton sendiri, harus bersama saya.


Kalau Aira? Aira sudah saya ijinkan menonton film-film ini sejak kelas 5 SD. Tetapi ada ritualnya dulu. Untuk film-film PG-13, ritualnya adalah saya nonton dulu, kalau aman baru saya ajak Aira nonton di bioskop. Jadi saya menonton film-film seperti Spiderman, The Hunger Games, dan sebagainya 2 kali di bioskop. Berlebihan? Biar saja, yang penting saya tenang. Untuk Aira hal ini berlaku bukan hanya untuk film, tetapi juga buku. Mengingat hobi baca Aira yang luar biasa, beberapa buku dari kelompok young adults sudah ingin Aira baca. Untuk buku-buku yang saya tidak yakin apakah sudah layak dibaca Aira, seperti serial Hunger Games dan Mortal Instrumen yang populer sekali itu, maka saya yang baca dulu. Lagi-lagi kalau aman baru saya ijinkan Aira baca. Serial Hunger Games ini contohnya, termasuk yang belum lolos sensor Bunda untuk bukunya, tetapi filmnya boleh ditonton Aira karena di film tidak sedetail di buku, terutama untuk adegan kekerasan. Saya janjikan ke Aira kalau sudah SMP dia boleh baca.

Harus nonton film dua kali di bioskop, musti nemenin nonton di rumah, musti baca buku duluan. Repot? Terkadang memang ‘nambah kerjaan’ rasanya. Tapi saya tenang. Kayaknya akan lebih repot kalau harus ngejelasin ke Aira kenapa Bella mencium Edward dan juga mencium Jacob, Bella suaminya dua? Atau menjelaskan ke Aidan kenapa teman perempuan Sam Witwicky bajunya ‘malu’ gitu. :)


4 Comments - Write a Comment

  1. Aduuh, PR banget memang kedengarannya, ya. Tapi menurut gue, harus, sih. Kadang2 suka miris lihat orang tua yang bawa anaknya ke bioskop. Mungkin kita dulu juga begitu, ya, tapi masalahnya sekarang zamannya juga beda, kan. Poster film aja udah kaya apaan tau dan judul-judulnya menggoda. Mungkin anak-anak anggapnya biasa, tapi kita ortu yg harus bisa menjelaskannya.

    Nice sharing, Puan. I’ll do this for my daughter too :)

  2. Gue suka paling gemes liat orangtua yang sembarangan ngajak anaknya nonton di bioskop. Dan kebanyakan ortu juga cuma merhatiin konten seksual aja, padahal kalau menurut ng gue konten kekerasan juga penting banget untuk diperhatiin. Berhubung bioskop di Indonesia emang gak ketat untuk soal usia, gue rasa udah seharusnya kita sebagain ortu yang jadi pihak yang ‘lebih pintar’. Kalo malas nonton film dua kali, google aja review/sinopsis film tersebut. Liat trailernya juga cukup untuk kasih info ke kita kurang lebih film itu cocok buat anak-anak apa enggak. Ya kan? Ya kan? :)

Post Comment