Pesan untuk Mereka yang Sedang Bertahan dalam Toxic Relationship

Ditulis oleh: Ficky Yusrini

Berapa banyak orang yang terjebak dalam hubungan ‘beracun’, hobi mengeluh, tetapi tidak mau melakukan apa pun untuk keluar dari situasi yang membuatnya menderita.

Bicara tentang toxic relationship, baru-baru ini saya sedang mengikuti serial televisi The Affair, yang sekarang sudah memasuki season kelima. Ceritanya tentang seorang pria yang berselingkuh, lalu memilih meninggalkan istri dan empat anak untuk menikah dengan selingkuhannya. Noah, pria yang memiliki segalanya, keluarga bahagia, pasangan yang cool, cantik, pintar, kaya, tetapi kemudian memilih untuk meninggalkan semuanya. Noah adalah tipe pria yang menikmati toxic relationship.

Baca juga:

Pesan Pernikahan Untuk Anak Remajaku

8 Hal Penting Ini Sering Lupa Kita Lakukan di Dalam Pernikahan  - Mommies Daily

Saya jadi teringat, belum lama, kita juga dikejutkan oleh kabar tentang sesembak yang mengunggah video di Instagram Story, yang menampilkan dirinya menangis dan meminta tolong agar Kedutaan Besar RI bisa memulangkan dia karena ia tak tahan dengan perlakuan kekerasan dari suaminya, hingga kakinya patah dan harus dioperasi.

Akan tetapi, setelah ditawari untuk pulang, ia menjawab, jika pulang, ia akan malu pada keluarganya. Lagipula, apa yang akan ia lakukan setelah kembali nanti? Another toxic relationship example.

Ternyata, hubungan asmara yang ‘beracun’, juga pernah dialami oleh salah satu teman dekat saya. Ia terlibat affair dengan pria beristri. Ia sendiri sudah bersuami dan punya dua anak. Kendati tahu bahwa hubungan mereka tidak punya masa depan, tetapi teman saya mengaku sulit untuk keluar dari hubungan tersebut. Sekuat apa pun ia berusaha, tetapi ia selalu luluh setiap kali selingkuhannya mulai kembali menghubunginya.

Sebagai temannya, saya jadi ikutan ketar-ketir dan mendoakan agar ia secepatnya memutus ‘cinta terlarang’.
Setidaknya, teman saya ini masih berusaha untuk melakukan sesuatu. Berapa banyak orang yang terjebak dalam hubungan ‘beracun’, hobi mengeluh, tetapi tidak mau melakukan apa pun untuk keluar dari situasi yang membuatnya menderita. Istilahnya, ada orang yang addicted to suffering.

Orang seperti ini tidak membutuhkan solusi. Ia hanya ingin memperlihatkan bahwa ia ini korban, ia menderita, tapi ia tidak mau melakukan apa pun untuk tidak lagi menjadi korban. Sebab, itu adalah zona nyaman baginya.

Baca juga:

5 Hal Tentang Pernikahan yang  Bisa Jadi Pelajaran Untuk Anak Kita di Masa Depan

Hati-hati kecanduan

Suffering ternyata bisa menimbulkan kecanduan, lho! Ada orang yang bertahan dalam toxic relationship karena ia menikmati suffering yang ia terima. Pada dasarnya, setiap emosi, baik positif maupun negatif, adalah campuran neurotransmitter dan hormon yang diproduksi otak kita secara langsung sebagai respon terhadap pikiran.

Campuran kimiawi emosi ini beredar di seluruh tubuh, menghasilkan sensasi sedemikian rupa, yang dirasakan pada tingkat psikologis dan fisik, yang muncul dalam bentuk emosi negatif. Jika terjadi berulang dalam waktu yang lama, akan mengakibatkan kecanduan. Pastinya, butuh ketegasan dan keberanian untuk keluar dari situasi ini.

Jangan lari dari masalah

Saat terjebak dalam situasi toxic relationship, banyak orang yang memilih untuk ‘melarikan diri’ dari masalah. Dalam kasus teman saya, misalnya, teman saya tidak mau menghadapi selingkuhannya dengan ketegasan. “I am done with you.” Ia takut dirinya patah hati. Takut kehilangan pegangan saat sedang rapuh-rapuhnya karena masalah dengan suami. Merasa tak mendapat perhatian dari suami yang terlalu sibuk. Padahal, masalahnya sudah jelas. Tapi, ia seolah tak punya pilihan. Begitu juga, sesembak dari Chicago yang takut untuk pulang ke tanah air dan meninggalkan suami yang abusive.

Saat punya masalah, jangan diam. Ada kalanya kita perlu menghadapi penderitaan untuk menyelesaikan masalah tersebut. Ketika Anda terus menerus menghindari penderitaan yang perlu, maka Anda akan mendapatkan yang namanya gangguan jiwa. Neurosis is always a substitute for legitimate suffering, begitu menurut Carl Jung.

Jika hubungan asmara ataupun pernikahan terindikasi toxic, terima realitas dan cari solusi. Kalau harus pergi ke psikolog dan mendapatkan terapi, itu adalah penderitaan yang perlu dilakukan. Tapi sebaiknya jangan merasa hubungan Anda baik-baik saja. Kalaupun suami tidak tahu perselingkuhan Anda, bukan berarti pernikahan Anda aman sentosa.

Begitu juga, dalam kasus KDRT, misalnya, suami sudah meminta maaf, lantas merasa masalah sudah selesai. Tapi, siapa yang bisa menjamin suami tidak akan mengulangi lagi perilaku kekerasan terhadap Anda?

Baca juga:

Pernikahan Abad Ini: Bahagia Tak Hanya Modal Cinta


Post Comment