Pernikahan Abad Ini: Bahagia Tak Bisa Hanya Modal Cinta

Ditulis oleh: Ficky Yusrini

Jangan sampai, habis nikah hidup malah tambah susah.

Beberapa waktu lalu, viral di Twitter cuitan seseorang yang mengeluhkan, perempuan sekarang mana bisa memasak dengan tungku kayu. Bisanya menghabiskan uang untuk belanja make up. Lalu, perdebatan pun meluas ke mana-mana. Tentang tungku kayu yang sudah jauh ketinggalan zaman, tentang memasak yang seharusnya bukan hanya tugas domestik perempuan, tentang para suami yang mau enaknya sendiri, dan sebagainya.

belajar untuk jatuh cinta setiap hari
Perdebatan rupanya masih berlanjut, dengan adanya cuitan tentang seorang suami yang hanya memberi istri jatah uang Rp500 ribu sebulan, dengan dua anak balita, sementara sisa gajinya diberikan ke orang tua. Dalihnya, semua kebutuhan makan numpang ke orang tua. Lalu, banyak netizen yang mengecam, “Uang Rp500 ribu bisa buat apa?” “Si istri mau-maunya nikah sama orang seperti itu?”, “Jangan sampai, habis nikah hidup malah tambah susah.”

Apa yang Anda bayangkan tentang pernikahan? Kehidupan asmara yang selalu manis dan bergelora seindah di film-film dan novel romantis?

Pandangan semacam ini adalah imbas dari era romantisisme, kebiasaan mengagung-agungkan cinta. Romantisisme muncul sebagai ideologi di benak para penyair, penulis, seniman, dan filsuf Eropa sejak tahun 1750. Cinta digambarkan sebagai sesuatu yang mendayu-dayu, bergandengan tangan sepanjang waktu, berduaan di kafe yang Instagrammable, kencan di danau, dan sebagainya, sebagaimana kita lihat di foto-foto pre-wedding pada umumnya.

Masa-masa pacaran adalah masa yang dipenuhi hal-hal romantis. Dunia seperti milik berdua. Dan ketika memasuki pernikahan, romantisisme tidak bisa menjawab realitas kehidupan. Bagaimana berbagi peran domestik di rumah? Siapa mengerjakan apa? Siapa yang mengambil keputusan?

Dan yang menjadi kegagalan terbesar dari romantisisme adalah ketidakmampuan menghadapi ketidaksempurnaan pasangan. Seringkali, jatuh cinta hanyalah dilandaskan pada kekaguman kita akan kelebihan-kelebihan seseorang. Entah itu karena finansial, karier cemerlang, ketampanan atau kecantikan, kepintaran, dan sebagainya.

Tentang persoalan cinta di abad modern ini, saya tertarik pada apa yang dikemukakan oleh Alain de Botton. Ia seorang filsuf, penulis buku-buku tentang relationship yang tulisannya bisa mengaitkan antara filsafat dan tantangan kehidupan keseharian, salah satunya buku berjudul The School of Life.

Menurut Alain, romantisisme dalam pernikahan modern digambarkan sebagai gabungan antara marriage of reason (pernikahan karena alasan rasional, misalnya pasangan yang sudah mapan) dan passionate love affair (bertemu soul mate). Kedua hal yang tidak semua orang beruntung bisa menemukan dua-duanya dalam satu paket. Ada yang menikah dengan orang mapan, tetapi sebetulnya tidak dilandasi passionate love. Dan sebaliknya, ada yang cinta menggebu-gebu, tetapi hidup miskin.

Ada beberapa pelajaran menarik yang disampaikan Alain tentang bagaimana kiat mempertahankan romantisisme agar sebuah hubungan bisa bertahan langgeng.

Ia mengibaratkan, pernikahan ibarat sebuah ruang kelas di mana pasangan saling bertukar peran sebagai guru dan murid. Pernikahan adalah sebuah proses belajar, belajar menerima perbedaan dan kekurangan pasangan satu sama lain.

Di titik inilah letak berjuang bersama dalam pernikahan. Bukan hanya tentang berjuang dalam masa-masa sulit dan miskin, tetapi bagaimana saling bertahan, agar dengan perbedaan itu suami istri bisa saling bertumbuh. Belajar untuk saling mendukung agar masing-masing bisa menjadi pribadi yang lebih baik.

Pelajaran lain dari Alain adalah bahwa cinta adalah sebuah keterampilan yang harus diasah. Bagaimana kita bisa menjadi seorang guru yang sabar bagi pasangan kita, tanpa menjadi emosional, sekaligus menjadi murid yang legowo dan mau menerima kritik.

“Bayangkan pasangan Anda adalah seorang anak berusia dua tahun. Apa pun yang dilakukan oleh anak dua tahun, kita bisa menerima perilaku mereka dengan tingkat kesabaran dan pemahaman yang tinggi. Seberapa pun menjengkelkan, kita selalu bisa mencari pembenaran atas sikap mereka. Oh, mungkin mereka lapar, perlu tidur siang, dan sebagainya. Begitu juga dengan pasangan kita. Sesungguhnya, orang dewasa hanyalah versi besar dari bayi. Dan terkadang, kita pun bertindak seperti itu,” saran Alain.

Benar ya, selain uang, pernikahan juga tak bisa sekadar modal cinta. :)


Post Comment