8 Hal yang Membantu Ibu Rumah Tangga Tetap Waras

Sempat banting setir menjadi ibu rumah tangga alias stay at home mom (SAHM), saya bisa menyimpulkan kalau jabatan SAHM nggak menjamin kita bisa menikmati hari-hari dengan manis bak bersaput gula.

Menjadi ibu itu seru. Pasti Mommies setuju kan kalau saya bilang menghadapi tantangan membesarkan manusia kecil dengan segala keribetan dan dramanya, membikin hidup lebih hidup? Di tengah perjalanan sebagai ibu, saya banting setir mengubah status. Saya yang awalnya ‘bertitel’ working mom, berubah haluan karir ke jalur ibu rumah tangga alias stay-at-home-mom (SAHM). Setelah dijalani selama 2,5 tahun, sayapun berkesimpulan bahwa ‘jabatan’ sebagai SAHM bukan berarti jaminan bisa menikmati setiap hari dengan manis bak bersaput gula-gula.

Seperti disinggung di artikel ini, awalnya saya merasa bebas karena bisa leluasa mengatur waktu. Tapi ternyata, tanpa time and mood management skill yang baik, sulit untuk bisa komit pada schedule dan rutinitas. Serta, meskipun bisa bersama anak setiap saat terdengar begitu indah, tapi kenyataannya, picture perfect moments are only one in a million! Saya pun menyadari kalau saya perlu survival guide. Bukan cuma untuk mempermudah hidup sehari-hari, tapi juga demi kewarasan!

Seriously, Mommies, karena ternyata apapun titel yang kita pegang, semua punya tantangan tersendiri. Maka tak heran kalau SAHM pun tidak bebas dari stres. Jadi, sayapun mencoba menyusun sederet “tips ‘n trick” agar tetap ‘waras’ sebagai ibu rumah tangga.

1. Bersosialisasi
Apa yang paling saya rindukan setelah jadi SAHM? It’s being surrounded by adults! Yup, dari yang tadinya dikelilingi oleh orang dewasa di kantor menjadi lebih sering bersama anak, pastinya muncul rasa jenuh. Makanya, saya senang banget kalau bisa kenalan dan ngobrol dengan orang dewasa lain, misalnya di sekolah anak, di tempat les, di lingkungan tempat tinggal, atau dengan bergabung di komunitas sesuai hobi. Manfaatnya bukan cuma menambah kenalan dan memperluas networking, tapi juga menjalin “connection” sehingga tak lagi muncul rasa kesepian.

2. Go outside.
Mommies pernah dengar kalimat “sunshine and fresh air are the best doctors?” Ini benar banget ternyata.
Para peneliti telah menemukan fakta bahwa berada di bawah matahari di udara terbuka bisa menjadi disinfektan alami terhadap patogen atau kuman yang berada di sekitar kita. Terlalu lama berada di antara empat dinding memang bisa membuat kepala mumet, jadi sebisa mungkin saya meluangkan waktu untuk jalan-jalan santai di pagi atau sore hari.

olahraga

3. Don’t be a couch potato!
Ini, nih, salah satu tantangan terbesar saya. Saat anak di sekolah atau saya sedang tidak punya kesibukan (meskipun standar sibuknya relatif sih, hehehe), bokong seperti menempel di atas sofa, mulut sibuk mengunyah camilan, dan mata fokus menonton serial televisi favorit. Sekali dua kali saja sih nggak apa-apa, ya. Tapi kalau keterusan? Tell me about it, because I’ve been there! Berat badan merangkak naik, dan saya juga kehilangan waktu tidur karena terlarut dalam tontonan dari kotak ajaib. How did it make me feel? Selain begah karena lingkar perut mulai membesar, saya juga merasa bersalah. Habisnya, ‘kan saya sendiri yang getol mengampanyekan “jangan keseringan nonton TV!” di rumah, tapi justru saya yang tidak bisa membatasi diri, huhuhu. Supaya badan tidak semakin melar, maka sayapun mulai berolahraga. Kalau malas keluar rumah, Mommies bisa memanfaatkan aplikasi smartphone, lho, untuk berolahraga.

4. Batasi screen-time.
Nah, ini sambungan dari poin di atas. Kalau layar TV membuat saya jadi couch potato, layar gadget membuat saya jadi seperti antara ada dan tiada untuk anak. Dengan dalih ingin tetap up-to-date dengan kabar dari dunia maya, kabar teman-teman, trend fashion atau kosmetik  terbaru, sayapun lengket dengan smartphone. Lagi-lagi, saya yang hobi mencereweti anak dan suami supaya nggak melulu main gadget (it’s a tool, not a toy!) ini dengan klisenya melanggar sendiri apa yang saya larang. Dan memang, lebih banyak efek buruknya, sih, jika keseringan menatap gadget. Mulai dari membuat anak merasa diabaikan, menggoda untuk jadi konsumtif, hingga larut dalam drama dunia maya. Terlalu sering memelototi gadget juga bisa bikin kita tidak sabaran menghadapi anak.

5. Do things you always dreamed of when you’re a full time worker.
Sudah saya bilang bukan, kalau salah satu privilege SAHM adalah bisa bebas mengatur waktu?
– Impian saya saat masih bekerja antara lain bisa short getaway di hari kerja dengan keluarga, saya juga ingin belajar memasak, merajut, dan lain-lain. It’s time to follow your passion, Mommies!
– Seiring waktu, saya sadar kalau me time = wajib. Mau jadi WM atau SAHM sekalipun. Biasanya saya melakukan me time dengan ketemu teman, nyalon, pijat, olahraga, atau skip mengantar anak ke sekolah sekali tiap dua minggu just to be alone at the house.

cooking

6. Yet still, stick to a routine.
Yup, meski sebagai SAHM saya bisa bebas menggunakan waktu, tapi saya masih memerlukan rutinitas. Tidur jam sekian, bangun jam sekian, punya jadwal untuk pekerjaan rumah tangga, semua keteraturan ini membuat saya merasa punya kendali atas hidup. Saya jadi tahu kapan saya perlu grocery shopping, kapan harus mengerjakan side job, dan kapan saya bisa bersantai.

7. Eat good things.
Enyahkan camilan penuh gula, MSG, dan pengawet itu, Mommies! Tangkis godaan delivery order!
Bukan cuma membuat kesehatan jangka panjang kita berada dalam risiko, kebanyakan mengonsumsi makanan tidak sehat juga membuat tubuh kurang berenergi dan mudah lelah. Setidaknya itu yang saya rasakan, ya. Jadilah saya mulai menyetok camilan sehat, baik buah, kacang-kacangan, atau jus buatan sendiri. Efeknya, selain jadi jarang sakit, dengan memberikan asupan makanan bersih pada tubuh, saya merasa lebih menghargai diri sendiri.

playdate

8. Stay positive.
Because it’s so easy to fall into comfort zone or bad habits. Jujur saja, yang mendera mental saya saat menjadi SAHM adalah perasaan lacking of achievement atau tidak melakukan sesuatu yang bernilai. Sebagai ibu rumah tangga, keberhasilan mencuci piring+menyapu ngepel+masak+melalui hari tanpa berantem dengan anak dalam sehari tidak terasa sebagai pencapaian, karena besoknya, you’ll do the same thing all over again. Sayapun mulai membanding-bandingkan hidup dengan orang lain yang nampak lebih ‘bahagia.’ Next thing you know, you’re trapped in a negative state of mind. Jadi, sayapun mengubah cara pandang, dengan tetap memandang diri sedang dalam misi penting.

I respect myself by always dressing up, eating clean and working out. I try to hang out with the positive crowd.
Dan kalau kepala rasanya sudah sangat penuh, saya akan menuangkan curahan hati lewat tulisan, kembali fokus pada saat ini, dan mengingatkan diri lagi dan lagi kalau semuanya akan menjadi lebih baik. :)


4 Comments - Write a Comment

  1. Dulu, ibu ini temen kantor saya, kenal sebentar, trus pindah kantor. Trus ketemu lg di sosmed, ga nyangka klo ternyata beliau ini dah banting stir jd nyonyah rumah. Hmm..ngiri deh. Jd punya waktu sepenuhnya utk urus anak & ngabdi sama suami. Bener jg sih, kadang, seharian sama anak doank (baca: urus anak) bikin jenuh jg. Bahkan, kdg berasa kyk katak dibawah tempurung (Ngga update).

    Makasih bgt tips & sharingnya. Sangat bermanfaat utk saya yg lg mempertimbangkan utk jd full time mom jg . :-)

  2. Ibu saya SAHM, beberapa teman kantor saya yang lama sudah berubah status dari working mom menjadi SAHM. Tetapi dari yang saya lihat, mereka malah lebih sibuk dan sekarang lebih dandan dari waktu masih working mom lho…
    Mungkin dulu gak sempet mempercantik ddan merawat diri karena pagi-pagi sudah harus berjibaku di jalan untuk menuju kantor, trus di kantor seharian ngadepin setumpuk kerjaan dan deadline. Weekend harus menghadiri event klien. Jadi pas jadi SAHM mereka terlihat malah lebih fresh dan happy…

Post Comment