Tatap Mataku, Bukan Gadget-mu

Beberapa waktu lalu, saya mendengar gaung ‘gerakan’ digital detox yang bertujuan menambah kualitas relasi antar sesama manusia, juga merekoneksi manusia dengan sanubarinya sendiri. Di negara seperti Amerika Serikat dan Inggris, bahkan telah diadakan semacam summer camp khusus untuk menjalankan digital detox.

Terkait dengan peran sebagai orangtua, Hani, memasukkan digital detox sebagai salah satu resolusi parenting-nya.

Sementara dari kondisi yang saya rasakan sendiri, kehadiran gadget di tengah interaksi saya dengan anak, memang cenderung membuat saya kurang fokus dalam berkomunikasi dengannya. Perhatian saya terbagi antara mendengarkan celotehan anak, dan distraksi dari bunyi-bunyian yang keluar dari gadget. Dari situ, saya berusaha menerapkan “no gadget policy” guna mencapai waktu berkualitas bersama anak.

Saya ingat sebuah artikel di majalah Good Housekeeping yang pernah saya baca, berjudul “Antara Orangtua, Anak, dan Gadget,” yang ditulis oleh Maharani Indri. Artikel itu sangat menarik perhatian saya karena memaparkan apa yang terjadi di otak saat seseorang sedang bermain gadget. Otak akan berada dalam keadaan survival mode, di mana bagian otak yang cenderung aktif adalah batang otak, atau otak reptil.

Fungsi bagian otak ini, salah satunya, adalah mengontrol reaksi insting dalam keadaan bahaya atau terancam. Seperti alasan marah, terancam atau tidak nyaman ketika seseorang mendekati[1].  Respon dari insting ini akan berwujud fight and flight emotions, di mana wujud reaksi akan berupa menyerang (fight), atau bersikap tidak peduli (flee).

Yang membuat miris, artikel ini menyatakan hasil survei terhadap sekian ratus anak kelas 4 dan 5 SD, di mana 5 dari 10 anak mengatakan orangtua mudah marah kalau sedang memegang gadget. Ini menjadikan anak merasa takut untuk mengganggu orangtua. Sehingga lalu enggan untuk berinteraksi.

Saya kutip dari artikel tadi,

“Saat kondisi otak berada dalam survival mode, kita cenderung memandang semua orang sebagai musuh, terutama bila merasa terganggu, termasuk oleh anak kita sendiri.”

Padahal, dalam tatanan jangka panjang, kita bisa membayangkan jika anak merasa tidak nyaman berinteraksi dengan orangtua. Hubungan emosi antara anak dan orangtua akan menjadi sangat rapuh.

Psikolog Aric Sigman, juga telah mengingatkan para orangtua akan bahaya “passive parenting” dan “being neglect” (pengabaian jinak) yang disebabkan oleh ketergantungan orangtua terhadap gadget [2].  Ia menyarankan agar televisi sama sekali tidak ‘disajikan’ kepada toddler, dan dibatasi penggunaannya untuk anak-anak yang lebih besar. Lebih lanjut, menurutnya, risiko bagi anak dari orang tua yang menjadikan teknologi digital sebagai ‘babysitter’ adalah, bahaya kesehatan seperti obesitas, tingginya kadar kolesterol dan tekanan darah, kurangnya konsentrasi, penurunan kemampuan dalam matematika dan membaca, juga gangguan tidur dan autisme.

Meskipun memang tidak mungkin untuk mengeliminasi secara menyeluruh kehadiran gadget dari kehidupan kita dan anak, tapi setidaknya kita dapat berusaha mengurangi dampak negatifnya terhadap anak-anak kita. Misalnya dengan cara:

  1. Mengatur waktu penggunaan gadget oleh anak, dan diri kita sendiri.
  2. Membatasi jenis aplikasi, maupun tontonan dan game yang dapat diakses oleh anak.
  3. Memonitor penggunaan gadget dan alat elektronik lain oleh anak.
  4. Mengatur waktu khusus untuk berinteraksi tanpa gadget bersama keluarga.
  5. Membentuk komunikasi yang efektif dengan anak, dengan menunjukkan atensi sepenuhnya kepada anak, dan dengan menanyakan pendapatnya terhadap konten dan pengalaman yang ditemuinya dari tontonan, game, atau aplikasi internet.

Jadi, mari kita mulai meletakkan gadget saat bersama anak dan tatap matanya ketika berbicara :)

*thumbnail dari sini