Catatan Ibu Rumah Tangga Pemula

Bulan ini adalah bulan ke lima saya menjalani lakon sebagai ibu rumah tangga. Ya, ibu rumah tangga “saja,” yang stand by menunggui anak 24/7, dan tidak punya bisnis online :)

Perjalanan ini baru seumur jagung. Penyesuaian masih terus dilakukan. Tantangan-tantangan baru akan singgah. Makanya, saya sadar masih pemula.  Saya membuat catatan ini selain untuk merekam, juga untuk memberi gambaran kepada Mommies yang mungkin juga ingin mengubah ‘jabatan’ menjadi Ibu Rumah Tangga :)

Bulan ke-1.

Mungkin tepat jika masa ini disebut masa bulan madu. Semua masih terasa begitu segar dan exciting. Saya begitu menikmati ritual baru di rumah: sarapan bersama setiap pagi. Duduk bareng tanpa terburu-buru (karena kini suami menggunakan jasa KRL) terasa seperti sebuah ‘kemewahan’ dan menjadi penyemangat hari.

Saat ini juga masa awal adaptasi, dengan rutinitas baru di mana waktu luang seolah terbentang luas, dengan angan-angan yang agak ambisius, juga dengan kondisi finansial yang baru. Untuk yang terakhir, ini saatnya saya mempraktikkan peta finansial baru dengan single income.

Di masa ini juga, I think I’m (still) relaxed about everything. Saya menikmati pilihan yang terbentang luas untuk mengisi hari. Kadang, untuk menghindari kepenatan, saya mengajak anak berjalan-jalan berdua saja, mencicipi kenyamanan coffee shops baru, atau sekedar grocery shopping di supermarket baru.

Bulan ke-2.

Kini, waktu luang yang seolah abundant tadi, malah membuat saya limbung.

Karena masih memutuskan tidak memakai jasa ART, kegiatan sehari-hari saya diisi dengan mengurus rumah — masak, bebenah — di samping tentu saja mengurus anak. Ternyata ‘padat’nya aktivitas fisik ini malah membuat saya penat, secara fisik maupun mental. Saya kerap merasa kehabisan energi di akhir hari, sehingga tidak bisa melakukan hal-hal untuk “me time” seperti menulis atau sekedar browsing internet.

Tapi ketika saya sedang leyeh-leyeh bersantai, saya malah merasa rikuh. Karena merasa “Pekerjaan rumah ‘kan numpuk, kok saya malah santai-santai?” Saya kerap merasa HARUS melakukan a, b, c. Padahal mood sedang tidak ingin.

Bulan ke-3.

Belajar dari apa yang terjadi, saya mencoba mencari jalan keluar dengan menyusun jadwal kegiatan yang jelas dan realistis untuk kegiatan di rumah. Jadwal kegiatan ini penting terutama untuk Bumy. Setelah menjalani assessment psikologis di calon sekolahnya, saya jadi tahu bahwa pembentukan rutinitas berperan besar dalam perkembangan anak.

Saya sendiri masih tidak menggunakan jasa ART. Karena, yah, saya merasa masih bisa meng-handle pekerjaan rumah tangga tanpa bantuan ART (little did I know… ;D).

Jadi, jadwal ini akan memuat selain kegiatan untuk Bumy, juga jadwal kegiatan untuk saya sendiri. Bentuknya seperti ini:

 

Saya menempelkannya di tempat yang paling sering saya lihat, yaitu di badan kulkas, hehehe. Selain jadwal tersebut, saya juga (ehem) menempelkan motivational writing. Apa sih tujuannya? Meskipun saya kurang doyan melahap buku-buku motivasi, tapi saat ini adalah saat di mana saya merasa sangat membutuhkan suntikan penyemangat to be a little bit better in doing my new role. Salah satu di antaranya adalah “Memberi saja, percaya saja,” yang saya dapatkan dari psikolog keluarga terkenal Toge Aprilianto ;)

Selain jadwal kegiatan, saya juga menyusun menu mingguan untuk memudahkan kegiatan masak. Akibat jam praktik yang semakin sering, menu yang saya buat mulai variatif dan rasanya juga lebih enak (Disclaimer: Kesan ini subjektif, hehe).

Di sisi lain, saya menghadapi masalah baru tentang bagaimana mengontrol emosi saat menghadapi anak balita. Usia 3 tahun sepertinya usia ABG versi bayi, deh. Anak mulai mahir ngotot mempertahankan keinginannya, suka usil, tantrum, dan lain-lain. Meskipun sudah beberapa kali mengikuti seminar pengasuhan anak, ternyata saat masuk ke tahap praktik, untuk melakukan apa yang (menurut para pakar pengasuhan itu) benar, sangatlah sulit.

Untuk setidaknya memudahkan saya dan Bumy melalui fase ABG-versi-bayi ini, saya menjadikan kegiatan outdoor wajib dilakukan setiap hari agar energi anak tersalurkan, dan dia tidak mudah cranky. Saya sendiri kerap bertanya dulu sebelum bereaksi, “Anak 3 tahun pantas diomeli untuk ini atau tidak?” Well, at least I tried to.

Satu hal lagi yang ‘terlupakan’ oleh saya di awal menjadi IRT tanpa jasa ART, adalah membuat rumah lebih fungsional untuk aktivitas anak dan child-proof. Bumy sudah ‘jago’ memainkan kunci rumah, dan dia semakin curious saja setiap hari. Jadi, kami membuat beberapa penyesuaian, seperti

  • Memasang rantai di pintu utama, and to always take the keys off every door.
  • Make space for Bumy’s activities while he’s downstairs with me -> sediakan karpet untuk main di dalam, alat-alat taman dan bola kaki untuk main di halaman.
  • Facilitate Bumy to be able to go the toilet himself (menyediakan dingklik dan toilet seat anak), and involve him in my activities (mengajaknya menyapu, berkebun, memotong-motong bahan makanan, mengaduk adonan, dsb).

Bulan ke-4.

Saat ini, dampak positif dari dibuatnya jadwal kegiatan mulai terasa. Saya jadi punya persiapan mental untuk menghadapi hari yang akan datang, karena tahu what to expect from it. Pada hari yang ‘sibuk,’ saya tidak kaget dan merasa kekurangan “me time“. Sementara pada hari yang ‘santai,’ saya tidak merasa rikuh karena berpikir “Kok nggak ngapa-ngapain, nih?” karena memang sudah dijadwalkan nyantai, hehe.

Tapi, ada masalah baru lagi. Kali ini soal mengatur porsi belanja bulanan. Karena baru kali menjadi kapten urusan dapur rumah tangga, saya belum menguasai cara mengatur menu yang efektif dan efisien dari segi biaya. Akibatnya, saya bisa grocery-shopping ke supermarket 2-3 kali seminggu.

Saya juga (akhirnya mengakui) mulai kewalahan tanpa bantuan ART. Tenaga dan waktu menjadi terkuras untuk urusan rumah tangga. Padahal tujuan utama saya “kembali ke rumah” adalah supaya bisa men-deliver pengasuhan yang lebih berkualitas.

Sementara itu, ada hal-hal baru yang saya pelajari dan terapkan, seperti

  • Membiasakan family weekly review. Saat ini hanya antara saya dan suami. Kalau sudah lebih besar, Bumy tentunya akan “urun rembuk” dalam review ini.
  • Memelajari tentang pentingnya nutrisi dan higienitas makanan untuk anak.
  • Baru menyalakan tv di rumah saat suami sudah pulang kantor, dan menjatah pemakaian gadget. Tidak ada salahnya dicoba, ‘kan?
  • Mulai mencoba hal-hal baru untuk dipelajari, seperti creative writing course, bahkan belajar berdagang akibat ajakan dari teman (hehe, never say never, really).

Bulan ke-5.

Highlight terbesar bulan ini adalah akhirnya saya menggunakan jasa ART. Kebetulan ada embak yang mau bekerja part-time dan bisa memasak. Wah, seketika separuh beban (berat) saya terangkat. Berkat adanya bantuan embak, pengaturan menu menjadi lebih efisien dan budget grocery-shopping bisa dihemat.

Dengan waktu yang lebih luang, saya bisa menjalani rutinitas baru berolahraga setiap pagi. Anak saya juga mulai bersekolah, sehingga saya bisa punya keleluasaan untuk “me time.”

It seems like things do get easier.

Tapi, seperti yang pernah saya baca,

“Everything is a phase, even the good parts.

Just when kids start sleeping, they stop napping;

Just when they start walking, they begin throwing tantrums;

Just when they get used to soccer, they add piano lessons;

Just when they start putting themselves to bed, they begin having homework and needing their parents’ help again;

Just when they get the hang of taking tests, along comes texting, dating, and online hazing.” – Bruce Feiler.

And I realize one thing, that doing this new role is like a whole new “school” for me.

Saya banyak BELAJAR mengenal sisi diri yang ‘baru'; yang ternyata bisa juga memasak; yang perlu lebih rileks dan less ambitious menangani urusan rumah tangga; yang menyesuaikan hasrat pribadi untuk peran utama saat ini — sebagai main caretaker anak.

Saya juga belajar menjinakkan sisi ‘gelap’ diri yang moody dan emosional.

Belajar mengatur ego (bukan mengalahkannya), dan menyelaraskan hubungan dengan anak.

Yang menarik, UJIAN di “sekolah” baru ini berlangsung setiap hari, bahkan bisa berkali-kali dalam sehari. Wujud ujiannya juga seringkali tidak terduga. Bisa dalam bentuk anak tiba-tiba gemar menyemburkan susu di atas karpet. Atau mengucapkan kata yang membuat mata terbelalak. Atau anak tantrum saat sedang diajak berbelanja berdua.

‘Bahan’ ujiannya juga sering belum saya kuasai sebelumnya. Seperti pertanyaan “Kok begini? Kok begitu?” yang tidak ada habisnya.

Exciting, isn’t it, Mommies? :)))

gambar dari Google search result

 

*thumbnail dari sini


13 Comments - Write a Comment

  1. huahahahaa Riskaaaa, sama ya punya jadwal harian! Kalau nggak bisa bingung mau ngapain x)) Gue bikin jadwal harian ini pas Menik masuk usia 6 bulan, awal MPASI. Jadi masukan supaya gue lebih teratur makan juga, karena walau iya makan 3x sehari, tetep aja jamnya sesuka hati.

    Kalo belanja, gue belanjanya mingguan, sih, isi belanjaannya sesuai menu masakan satu minggu. Belanja besar (tissue, sabun, pasta gigi, etc) itu bareng suami pas beliau gajian. Gue belanja bulanan buat tabungan isi kulkas seminggu. Hehehe..

    Eh suka kangen angka nambah (selain dari suami) pas tanggal muda nggak siihh? Hihiii..

    1. Saskii, elo salah satu SAHM tauladan bagiku, loh. Manajemen waktu dan emosi (baca: mengesampingkan kepentingan pribadi) itu jadi momok kalo gak segera para SAHM kuasai yaa. Bisa-bisa ngomel mulu bawaannya di rumah (been there, done that!) xD

      Hahaha, pastinyaaa (re: angka nambah pas tanggal muda). Kalo di eks-kantor dulu, kita biasa nyebutnya “SMS cinta” karena dering kehadirannya bikin berbunga-bunga :))) mungkin harus disiasati ya, bikin skenario supaya suami jadi pengirim SMS cinta di waktu-waktu tertentu, hihihi.

  2. Riska, TFS, yaaah….
    Banyak point yang bisa gue terapin juga, nih, di rumah. Dan ternyata gue punya temen juga yang senasip dan sepenanggungan menghadapi fase ABG anak balita :D yang sering kali bikin gue geregetan bukan main :D

  3. Hallo…
    Ternyata hampir sama nih problemnya… setuju banget mba. Dan yang paling sulit untuk saya adalah mengontrol emosi saat menhadapi mereka. Bener-bener serasa diuji setiap hari.
    Well, karena penasaran. saya cari-cari bacaan tentang parenting. Dan kebetulan ketemu satu buku yang lumayan untuk dibaca: Parenting Without Power Struggles by Susan Stiefelman. Setelah diterapin, ternyata lumayan berhasil…

  4. aduh mba riska.. bagus bgt post nya. tfs ya…

    iya bulan pertama itu indah buangedd pake “d”

    next months nya gundah gulana, hahaha…

    limbung kbanyakan waktu luang.

    tp di satu sisi, kerjaan rumah tangga ga pernah selesai. (akhernya pake art huahuhahahu)

    full time urus baby aja ternyata kurang menyibukkan. buat siasatin (dan antisipasi) kejenuhan, akhirnya mulai deh belajar baking.

    hehe secara doyan bgt ama dessert.

    secara sbg ibu rt tak berpenghasilan (slaen dr suami) bikin kue sndiri bisa lbih hemat dan tryt seruuu bok (padahal lom jago bikin apa-apa haha)

  5. TFS ya mba .mirip2 ceritanya sama aku, bulan september 2013 juga bulan ke5 menjadi SAHM. dan sukses nurunin berat badan sampe 10 kg karena belum punya ART, dan malah di bulan ke5 dihadiahi ‘isi’ lagi. hehe.

    dan bener banget untuk never say never. dulu kayaknya gimana gitu punya ART, ternyata sekarang malah punya 2 ART yang bolak balik sama yang ngurusin si kecil.

    karena hamil ke2 ini sempat pendarahan dan disuruh bedrest sampe 3minggu gak boleh ngapa2in sama dokter, mau gak mau nambah lagi pengasuh karna gak ada keluarga dekat yang ganti ngasuh. dan setelah itu juga aku mabok hamil muda jadi ngurus si kecil juga gak maksimal. liat nasi aja mual >.<.

    targetnya nanti klo 2 anak udah agak 'gede'an dikit mau balik lagi jadi IRT tanpa ART, tapi masih wondering juga..bisaaa gak yaaa…hehe

Post Comment