Pasangan Selingkuh, Dimaafkan atau Bercerai?

Ketika mengetahui pasangan berselingkuh tindakan apa yang sebenarnya perlu kita lakukan?

Rasanya sudah puluhan atau bahkan ratusan kali saya mendengar ada pasangan suami istri yang memutuskan bercerai lantaran masalah perselingkuh. Selingkuh memang kerap dianggap sebagai musuh besar sebuah pernikahan. Nggak heran kalau ada pasangan yang memasang harga mati, ketika menemukan fakta kalau pasangannya selingkuh langkah yang harus diambil selanjutnya adalah bercerai.

divorce*foto dari  sini

Salah satu teman saya pun ada yang memegang prinsip seperti ini. Baginya, perselingkuhan adalah sebuah kesalahan yang tidak termaafkan. Termasuk selingkuh di sosial media. “Buat apa maafin pasangan yang selingkuh? Dari sejak pacaran gue sudah bilang ke suami, bahwa nggak ada kata selingkuh dalam kamus hidup gue. Kalau memang di antara kami ada yang selingkuh, berarti harus siap cerai,” serunya ketika kami sedang ngobrol seputar masalah selingkuh.

Saya cukup paham jika teman saya memegang prinsip seperti ini. Siapa, sih, yang nggak akan merasa sakit hati dan kecewa kalau pasangannya selingkuh? Perempuan ataupun laki-laki tentu akan merasakan hal yang sama jika dihadapkan dalam kondisi ini. Tapi apa iya, pernikahan yang tujuan awalnya untuk mendapatkan kebahagiaan, lantas harus hancur karena pasangan selingkuh?

Terus terang, saya paling ngeri membayangkan masalah perceraian. Bukan karena saya tipe perempuan yang selalu bergantung dengan suami sehingga takut untuk hidup sendiri. Tapi buat saya pribadi, perceraian bukan sebuah pilihan sehingga saya pun nggak mau terburu-buru memutuskan untuk mengakhiri perkawinan. Harapannya, pernikahan saya bisa mesra sepanjang waktu. 

Lagi pula, jika masalah perselingkuhan ini selalu dijawab dengan perceraian, apakah lantas menjamin kita bisa lebih bahagia? Saya jadi ingat dengan apa yang dikatakan Anna Surti Ariani, S. Psi.,M.Si, bahwa sebenarnya perceraian tidak selalu menyudahi kekhawatiran hidup.

Senada dengan Mbak Nina, Dr. Brad Sachs dalam bukunya The Good Enough Teen menuliskan bahwa banyak pasangan yang akan berpisah memimpikan perceraian yang sempurna—langsung terbebas dari konflik sengit yang menekan secara permanen, dan digantikan oleh kedamaian dan ketenangan yang menyegarkan dan menyejukkan. Kenyataannya, keadaan semacam itu sama mustahilnya seperti perkawinan yang sempurna. Oleh karana itu, ia mengingatkan bahwa penting bagi pasangan untuk mencari informasi selengkapnya dan mempertimbangkan masalah perceraian secara realistis.

Lalu, apakah perceraian meruapakan jawaban apabila terjadi perselingkuhan? Simak ulasannya laman selanjutnya.


9 Comments - Write a Comment

  1. gw blm nikah mba, tp selama menjalin komitmen sama cowo gw yg namanya selingkuh ya konsekuensinya putus dan jangan ngarep lu balik sm gw, blm nikah aja selingkuh gimana nikah. nah kalo nikah kata nyokap “sekompleks apapun rumah tangga lu pertahanin” artinya mau selingkuh apapun tahanin cari prob solving terbaik jgn ada cerai. taaapiii buat gw itu harga mati. selingkuh = bye..

  2. Berkali” d selingkuhin dan sll ketauan tp suami gak pernah ngaku itu sakitt bgt rasa nya.. gatau hrs kya gmn.. bertahan dpernikahan yg ud ga ada rasa percaya jadinya.. krn terlalu sering d bohongin jd ga gampang balikin kepercayaan itu.dan ujung” nya kl dy pergi sndri gtu jd nya parno sndri.. curiga.. jd brantem deh hahahaha
    aku gatau bertahan krn cinta sm suami atw demi anak” ku yg masi kecil..
    bercerai jg blm tntu bkin ak tenang.. yg ada aku korbanin anak” ak kl smp ak cerai.
    pernikahan itu rumitt memang.. hrs saling mengerti dan tau aturan kl dlm pernikahan itu jgn pernah ad perselingkuhan dan suami istri hrs bisa bljar utk jujur dlm sgla hal..
    praktek tak segampanh teori memang… hihihi

  3. Actually ini benar2 perjuangan untuk dilakukan. Butuh kebesaran hati untuk memikirkan banyak kepentingan lain diluar perasaan kita yang tersakiti saat itu. (Baca : urusan anak).

    Nanti anakku gimana perasaannya? Gimanapun juga, seorang anak tetap membutuhkan figur seorang ayah dalam hidupnya. Entah untuk menjadi contoh yang baik (bahwa jadi suami harus setia, misalnya) atau menjadi contoh yang menjadi pengingat (bahwa jadi suami yang tidak setia akan menghancurkan anak dan keluarga).

Post Comment