Berbahagia Atas Pilihan

Belakangan ini saya (semakin) sering melihat ulasan/artikel/quotes atau sekedar foto mengenai SAHM (Stay At Home Mom) versus WM (Working Mom) di media sosial, yang saya rasa jika semakin berlarut-larut maka akan menimbulkan perpecahan internal maupun universal di kalangan perempuan terutama MOTHERS. Sudah sejatinya sifat manusia ketika diposisikan di situasi terjepit/terpojok maka defense mechanism-nya akan muncul, ada rasa kewajiban untuk membela dirinya.. Beberapa postingan yang saya baca belakangan ini merupakan curahan hati para WM yang merasa dipojokkan terang-terangan lewat media sosial terutama.

Please let me start/share with this one, agak pribadi tapi ya sudahlah ya, kita sama-sama seorang Ibu. Saya mulai bekerja sejak di bangku kuliah sekitar usia 17 tahun, pekerjaan dan kuliah dibarengi jadi satu. Beberapa minggu sebelum wisuda saya menikah dan langsung hamil. Keadaan tersebut membuat saya banyak menghabiskan waktu di rumah, rendah mobilitas dan tidak se-produktif dahulu. Hal tersebut berlanjut hingga pascamelahirkan dan masa-masa menyusui.  Saya memilih menjadi SAHM karena alasan yang simple, ingin merawat sendiri anak yang sudah saya kandung dan saya lahirkan. Di pandangan saya, rasanya tidak mungkin menyerahkan anak saya pada ‘tangan’ lain (pengasuh) kecuali sesekali Mama saya sendiri. Kuno mungkin, tapi itulah saya. Melihat wajah innocent anak, rasanya melted. Seiring berjalannya waktu, perlahan mulai terkejut dengan pertanyaan maupun pernyataan yang mulai banyak ditujukan pada saya, baik dari orang yang saya kenal, tidak kenal, hubungan profesional, bahkan saudara.

“Shan jadi lo ngapain aja dong di rumah doang nganggur?”

“Shan kamu nggak balik jadi model lagi? Sayang banget, kapan kamu kurus lagi? Kapan foto-foto lagi?”

“Mbak ga merasa rugi kah? Mbak lulusan UI tapi di rumah aja?”

“Shanti ngga kerja? Biar bantuin suami nggak kerja sendirian”

“Kok datengnya telat sih, kan di rumah doang nggak ngapa-ngapain”

“Kapan punya anak lagi? Kan di rumah doang, nggak capek”

“Nggak sayang menuntut ilmu tapi ga dipergunakan?”

“Jadi ngapain aja sehari-hari? Begini aja?” (melihat saya sedang menyusui anak)

“Masa nggak tau waist skirt sih, di rumah doang siiihhhhh soalnya”

“Di bioskop udah nggak ada, udah lama banget, ah nggak update banget sih ga pernah nonton bioskop lagi”

“Tadinya model lalu beralih jadi tukang pita nih?”

Dan masih banyak lagi pertanyaan/pernyataan yang dilontarkan secara serius, bercanda, berbeda-beda intonasi, dll, yang saya rasa cukup mengusik peran saya sebagai SAHM (pada saat itu). Seperti yang kita ketahui juga, menjadi SAHM maupun WM butuh support dari sekeliling agar nyaman menjalankan peran pilihan kita tersebut.

*gambar dari sini

Semua orang punya tafsiran sendiri untuk akhirnya tersinggung kan? Apakah saya terlalu sensitif? Itu tergantung orang lain yang menafsirkan. Setiap orang punya tingkat sensitif masing-masing kan? Menurut saya sih sama aja, apapun kalimat yang kita dengar, apapun foto/gambar yang kita lihat, jika kita tafsirkan itu sebagai sindiran atau serangan, maka tersinggunglah kita, maka sakit hati lah kita. Terlepas kita ini SAHM ataupun WM. Apapun peran seseorang, ketika diposisikan di zona tidak nyaman, otomatis keluarlah pertahanan diri. Muncul sensitif, muncul rendah diri, merasa bersalah, tak nyaman, tak berharga, marah, benci, dan sebagainya dan sebagainya… Reaksi saya menerima pernyataan/pertanyaan beragam seperti itu? Beragam juga, kadang marah hanya dalam hati, kadang dijawab langsung, kadang ketawa… “Lho, siapa bilang nggak sibuk?”, atau “Dikira SAHM leha-leha di rumah?”. Jawaban-jawaban sejenis itu selalu muncul di otak, tapi alhamdulillah lama-kelamaan saya kebal kok dengan kalimat-kalimat sejenis itu.

Saya paham, kodrat sebagai SAHM memungkinkan timbulnya keresahan atas kurangnya aktualisasi diri. Ga perlu ditanya lagi, saya pasti mengalaminya.

Ini versi situasi saya: Punya badan nyaris tanpa lemak, pekerjaan idaman saya sebagai seorang model dan master of ceremony, menatap wajah saya di majalah-majalah ternama, membawakan acara-acara beken, menghasilkan uang dengan mudah tanpa perlu merasa bekerja, mobilitas tinggi sana-sini, bertemu banyak orang berbeda-beda setiap hari, mengenakan baju berbeda-beda style setiap hari, make up, high heels, popularitas, dan sebagainya (you name it)..

Itu semua adalah image SAYA di masa lalu yang saya ingat hari ini. Lalu kemudian saya bertransformasi menjadi perempuan ber-daster menyusui, setiap hari saya hanya bertemu suami, mama atau adik-adik saya saja, jarang keluar rumah dan berinteraksi dengan banyak orang, tidak pernah menyentuh alat make up, apa itu high heels? Paling-paling saya hanya punya dua flat shoes yang selalu dipakai kalau keluar rumah. Keluar rumah juga bukan meng-update fashion terkini atau nonton film terbaru di bioskop. Berat badan dan bentuk tubuh juga bukan ideal nya seorang model pastinya,  lemak bertaburan rata. Banyaknya serangan yang saya terima juga membuat saya merasa tidak berharga.

Ingin kembali mengaktualisasi diri? Pastinya itu keinginan setiap wanita terutama pasca melahirkan/memiliki anak. Termasuk saya, deep down inside my heart, saya ingin mengaktualisasikan/mengekspresikan diri saya, namun semakin tinggi hasrat itu, semakin tinggi juga hasrat keibuan saya yang tidak rela dan tidak tega meninggalkan anak saya terutama di saat masa emasnya, demi hasrat aktualisasi diri saya tadi. Dalam pikiran saya, saya dan anak saya adalah satu paket, ketika saya mengaktualisasi diri, maka dia juga berhak hal yang sama.Menurut saya, keberadaan saya di sisi anak saya akan memengaruhi proses aktualisasi dirinya. Saya tidak ingin sukses sendirian.

Saya sampai pada poin 50:50 dalam kasus ini, dan memilih stay at home with my daughter. Im happy with it, full support dari suami, saya puas merawat dan mendidik anak saya sendiri, and im happy to express my feelings about how lucky i am to have a daughter like her… I dont really care about the ‘serangan’ or ‘tatapan sebelah mata’ anymore. Saya juga punya banyak pembenaran untuk menghadapi serangan-serangan itu. Aktualisasi diri sendiri dilupakan? Of course NOT, Alhamdulillah Tuhan selalu baik mengabulkan doa-doa saya, pada akhirnya saya dipercaya menjalankan bisnis dari rumah, hingga proses aktualisasi diri saya dan anak saya bisa berjalan bersamaan. Bisnis ini memungkinkan saya untuk menggali kreativitas, maksimal mengekspresikan diri, berinteraksi dengan banyak orang, dan tetap memegang kontrol penuh terhadap perkembangan anak di rumah sambil terus memberinya ASI hingga dua tahun. Entahlah status apa yg saya pegang sekarang, saya tidak pernah memedulikan lagi. I’m stay at home, im doing business, my house is my office, my house is a workshop, im working hard everyday, earning money everyday, terkadang juga kesulitan membagi perhatian antara bisnis dengan anak. The most important thing : IM HAPPY with my life, satisfied, and grateful. Nothing’s perfect in this world, walau nggak bisa sempurna mendidik anak, walau nggak bisa sempurna menjalani bisnis, tapi inilah yang saya inginkan, BERJALAN BERSAMA.

Kembali pada isu awal, apapun profesi ibu, memungkinkan dirinya tersinggung atas perkataan orang lain tentang profesinya, kemudian membalas dengan berbagai macam justifikasi/pembenaran atas peran yang ia pilih. Sama halnya dengan WM yang juga gerah dengan ekspos perannya di socmed belakangan ini. WM berhak sensitif, berhak marah, sedih, tak berharga, dan sebagainya. Foto-foto dan kalimat di socmed dirasa sungguh menyudutkan. Again, tingkat sensitif setiap perempuan juga berbeda-beda kan, ada yang marah, ada yang diam, dan sebagainya. Bahkan ada WM yang sensitif dengan motto salah satu MLM make up di Indonesia kira-kira intinya berbunyi demikian : “Bisa berpenghasilan jutaan hanya bekerja dari rumah” . Well, siapapun bisa bebas menafsirkan apa yang dia lihat/dengar. Keputusan menjadi seorang WM juga sama reasonable-nya dengan keputusan ibu SAHM. Setiap perempuan butuh aktualisasi diri, mungkin karier/kantor adalah wadah yang dirasa tepat untuknya. Tidak semua suami beruntung memiliki penghasilan cukup untuk rumah tangga, hingga akhirnya istri harus turut bekerja agar biaya tercukupi. Atau tidak semua suami royal memberikan gajinya untuk istri, hingga istri harus mencari tambahan sendiri untuk kebutuhan pribadinya, dan lain sebagainya alasan-alasan yang sering saya dengar.

Setiap perempuan  punya pilihan sendiri untuk hidupnya, kebahagiaan yang diinginkan pasti berbeda satu sama lain. Yang sama hanya satu, kodratnya sebagai ibu. Sama aja dengan ‘serangan’ ke SAHM tadi, bedanya ini memang lebih terekspos media. Satu hal yang saya lihat/saya alami di sini (correct me if im wrong, or if you have another opinion), ‘serangan’ yang ditujukan untuk SAHM seringnya (masih) bersifat terselubung atau tertutup, secara sindiran, psikologis, internal, tatapan sebelah mata, dan sejenisnya. Tidak tersurat namun tersirat. Informasi yang tidak berimbang di media inilah yg membuat keadaan juga semakin tidak adil. Karena peran WM yang diekspos terus, maka kesannya WM kok buruk banget. Padahal SAHM juga sama-sama sering merasa dipojokkan kok walau ga banyak yang tertulis.

Intinya, menurut saya SAHM dan WM sama-sama memungkinkan untuk diserang oleh siapapun atas statusnya. Saat ini yang membedakan mungkin wadah/medianya. Walau (saat ini) ‘serangan’ untuk SAHM tidak banyak terlihat di socmed, namun bukan berarti SAHM bebas dari pandangan negatif. Begitu juga dengan maraknya sorotan untuk WM di socmed, bukan berati WM lebih buruk daripada SAHM. Semua tergantung pada pribadi masing-masing, dari angle mana kita melihat ini? Banyak saya jumpai WM hebat yang menyeimbangkan kerja di kantor dengan tugas utamanya sebagai ibu, misalnya yang paling saya kagumi adalah susah payah pumping ASI untuk oleh-oleh anak sepulang kerja. Bekerja mencari nafkah sekaligus tidak memutus hak anak yaitu ASI. Niat tulus ini sungguh mengharukan, karena banyak juga SAHM yang belum tentu memiliki tekad bulat untuk memberikan ASI pada anaknya. Banyak WM yang berusaha pulang cepat dan rela menggunakan ojek, demi curi waktu bed time story sebelum anaknya tidur, belum tentu lho semua SAHM melakukan ini untuk anaknya di rumah.

Walaupun menjadi  SAHM, bukan berarti tidak bisa produktif dan mengaktualisasikan diri. 24 jam bersama anak itu kesempatan besar yang tidak mungkin akan terulang lagi dalam hidup.  Pendidikan tinggi yang ditempuh SAHM  juga dapat ditransfer untuk anaknya, tidak akan terbuang sia-sia. Produktivitas tidak melulu diukur dengan materi atau nominal uang. Banyak hal-hal priceless di dunia ini yang tidak perlu dibeli dengan materi. Lets not thinking about the PRICE of something, think the VALUE of it. Menjadi WM juga tak kalah berharga, apa jadinya dunia ini jika tiada lagi tokoh-tokoh wanita hebat yang turut berdedikasi membangun setiap bangsa? Mereka mungkin tidak 24jam bersama anaknya namun mereka berdedikasi untuk orang lain yang membutuhkan. Ibu memang wajib merawat anaknya, namun tidak ada larangan ibu bekerja seperti beberapa wacana yang mengatakan salah satu agama melarang wanita bekerja. Bekerja adalah sebagian dari ibadah.

Apapun yang mendasari pilihan para ibu, lets not judging each other. Be happy for what you are, kita pilih A maka mari pede dengan pilihan A itu. Memang masih banyak sekali WM ataupun SAHM yang ngga pede dengan pilihannya atau merasa terjebak dengan statusnya tersebut. Misalnya sebenernya dia mau di rumah urus anak, tapi karena tuntutan ekonomi maka terpaksa kerja keluar. Atau misalnya sebenarnya dia ingin sekali bekerja di kantor, tapi karena susah mendapat pengasuh maka terpaksa stay di rumah. Apa yang kita lihat dari luar belum tentu menggambarkan kondisi sebenarnya, karena setiap keluarga punya ‘rahasia’ sendiri. Tapi memang benar sih salah satu quotes yang pernah saya baca “Tuhan yang menciptakan, manusia yang menjalani, orang lain yang mengomentari” :)

 


2 Comments - Write a Comment

  1. Wow, ini seperti wakeupcall bagi saya yang seorang working mom (to be, karena saya belum dikaruniai anak), bahwa semua pilihan memiliki resiko, tanggung jawab dan imbalannya masing2. Bahwa sebagai working wife, terkadang saya terlalu lelah untuk membuatkan makan malam untuk suami saya. Pagi hari pun, terkadang terlalu hectic untuk menyiapkan sarapan sederhana untuknya -itu karena saya hoby bangun kesiangan-
    Being WM atau SAHM menurut saya adalah sama – sama mulia, sama-sama sangat berharga. #mengutip kata2 mamah dedeh yang kebetulan minggu pagi kemarin juga membahas tentang wanita bekerja, bahwa perempuan bekerja di luar rumah ataupun perempuan yang tinggal di rumah, keduanya sama – sama dimuliakan oleh TUHAN. Sepanjang bekerja di luar rumah tidak berarti menelantarkan anak dan suami (lah, saya?? suami aja jarang dibikinin sarapan??). Sepanjang berada di rumah tidak mematikan aktualisasi diri.
    Well, berbahagia atas pilihan dan mensyukuri nikmat yang ada. Itulah kuncinya.

Post Comment