Cinta Juga Berarti Kerja

(catatan kecil seorang ibu bekerja)

Sejak kecil saya sudah melihat orangtua saya bekerja. Mereka bekerja karena butuh, karena mereka butuh aktualisasi diri dan uang untuk menghidupi keluarga. Mereka tak lahir dari kelas menengah, mereka adalah anak-anak yang lahir dari batas kemiskinan, orangtua dengan pendidikan rendah, ibu yang single parent, keluarga/masyarakat yang menganggap remeh pendidikan, pendidikan mentok biaya di D-1. Namun semua tak mematahkan mereka untuk bisa meniti karir di Pertamina. Bahkan hingga pindah dari tanah kelahiran mereka Kalimantan Timur ke kantor pusat di Jakarta pada saat rekan-rekan di Jakarta diposkan di daerah. Dan di atas itu semua, mereka adalah orangtua yang baik.

Secara alami juga saya tumbuh dengan anggapan memang sewajarnya orangtua, atau pada khususnya, ibu bekerja.

Ibu memang tak selalu ada saat acara sekolah, saat kelas 3 SD saya harus terbang sendirian dari Balikpapan ke Jakarta karena mereka sudah di sana terlebih dahulu, saya terbiasa memilih dan mengurus sekolah sendiri, hingga (jika mau contoh di titik ekstrem) saat kerusuhan Mei 1998; saya masih kelas 2 SMP, sendirian di rumah dan mereka sedang berjuang menembus kerusuhan untuk pulang ke rumah.

***

Dan kini saya adalah ibu bekerja, tapi sayangnya (delapan tahun pernikahan, dua anak dan dalam perkembangan pesat sosial media kemudian) saya menyaksikan para ibu dijejalkan perasaan bersalah. Baik ibu bekerja atau ibu rumah tangga.

Kita diserang dari pesan viral yang diedarkan di Broadcast Message, Facebook, kultwit, Blog hingga di media sepersonal Path. Lebih sedihnya lagi, kemudian kita secara frontal atau dalam hati saling menyerang. Kita diserang karena jadi ibu bekerja, atau sebaliknya karena tak bekerja. Kita diserang kalau kita katanya melanggar perintah agama karena bekerja. Kita diserang karena “menitipkan” anak ke Mbak di rumah. Dan entah apa lagi.

Di mana diskusi soal para ayah dalam proses penjejalan rasa bersalah ini? Nyaris tak ada. Bagaimana perasaan mereka karena nyaris tak ada diskusi soal mereka dan anak? Saya tak tahu.

Tapi yang jelas saya rasa pesan-pesan itu tak adil untuk para ibu yang bekerja. Setidaknya yang saya kenal; Mereka yang membantu merawat anak saya di rumah, mengajar anak saya di sekolah, yang merawat anak saya saat sakit, yang mendedikasikan hidupnya untuk menerapi wicara anak saya yang celah bibir langit, yang menjadi konselor ASI, yang membuat media independen untuk informasi para ibu, nenek dan kakak saya yang single parent, yang melahirkan saya, untuk saya, teman-teman saya, dan untuk kita semua.

Dan hari ini saya memutuskan untuk berhenti diam. Saya capek untuk melihat pesan seperti di bawah ini disebarkan oleh para kawan perempuan saya, saya capek melihat tagar #jleb, saya sedih membaca postingan merasa bersalah karena meninggalkan anak dan semua tanggung jawab soal anak, diam-diam serta tak sadar, kembali ditujukan untuk para ibu tanggung sendiri.

Saya pikir saya harus menuliskan ini, karena saya tak mau teman-teman saya (yang rata-rata baru jadi ibu), kita semua, terus merasakan perasaan secara tak langsung dulu saya pupuk dari pesan-pesan (viral) yang awalnya hanya seperti postingan biasa: perasaan bersalah. Saya pernah merasakan saat saya tak bahagia dan memendam merasa bersalah karena bekerja. Kerja jadi tak maksimal, kurang berguna dan lebih parah lagi saya berpotensi membuat buruk keadaan saya, pernikahan, dan keluarga saya.

Saya cuma mau bilang, setidaknya dari pengalaman saya, jadilah ibu yang bahagia. Mungkin ini seklasik dari mulai jujur dengan diri sendiri apakah pekerjaan ini cocok dan apakah kita benar mau bekerja kantoran. Apakah ada alternatif untuk ini semua. Karena rasanya ibu-ibu pekerja keras yang saya saksikan tak pantas untuk dijejalkan dengan perasaan bersalah itu. Semua ibu berhak dan wajib bahagia demi keluarganya.

Rasanya lebih elok jika anak tahu jika ibunya yang bekerja karena si ibu tahu apa yang dia lakukan berarti. Ibu (dan ayah) bekerja justru karena cinta. Kita bekerja karena butuh jadi manusia yang lebih baik, bukan cuma karena uangnya. Karena kita tahu pekerjaan yang kita pilih ini yang akan membuat diri kita, keluarga dan bangsa ini berdaya. Kawan saya, alumnus Indonesia Mengajar dan penulis memoar “Anak Anak Angin”, pernah berbagi anggapannya soal pekerjaannya sekarang: “Maybe it is less nobel, but it is must not less meaningful.”

Mari berhenti bilang “kasihan anak dong anak di rumah sama orang yang pendidikannya rendah”. Setidak di sosial media. Mengapa? Pertama, internet bukan milik kaum dengan pendidikan setara kalian lagi, apa rasanya bila Anda yang mendapat pesan itu namun di posisi lain? Kedua, karena pendidikan bukan satu-satunya yang membuat orang berharga. Kita di titik ini karena ada orangtua-orangtua yang terus berusaha lebih keras, terlepas apa jenjang pendidikan mereka.

Punya ART di rumah dan anak kita diasuh oleh mereka? Mari ajak mereka untuk berdaya. Mari perlakukan mereka seperti kita mau diperlakukan oleh bos/perusahaan kita. Mungkin akan susah tapi jangan-jangan ini yang akan membuat kita punya rekan pekerja yang baik di rumah. Dan lagi, entah siapa yang tahu, mungkin jalan nasib anak-anaknya nanti bisa lebih baik lagi dari ilmu yang kita berikan untuk mereka.

Soal agama? Saya serahkan kepada kepercayaan masing-masing. Tapi rasanya Tuhan adalah yang Maha Bijak, Pengasih, Pemaaf dan Penyayang.

Dan rasanya Tuhan juga ingin mahluk-Nya berbahagia. Jadi mari bahagia. Mari berdaya. Mari berdayakan orang lain. Mari berhenti membuat orang lain merasa tak berdaya. Let’s make something meaningful and stop being mean to each other, including, being mean to yourself.

***

Anak tak bisa dibohongi apa yang terjadi pada orangtuanya. Anak tak pernah berhenti merekam, termasuk perasaan orangtua yang tak bahagia. Kita tentu ingat ini, kita semua pernah jadi anak.

Saya berani jamin kalau orangtua saya adalah orangtua yang bahagia justru karena mereka bekerja. Apakah saya dan kedua kakak saya merasa menyesal dan merasa diabaikan? Tidak. Apakah kami bertiga saudara tumbuh jadi orang dewasa yang tak bahagia? Alhamdulillah, tidak.

Mengapa? Karena kami tahu orangtua kami bekerja dengan hati penuh dan integritas. Mereka bekerja dengan kehormatan sehingga kami mau mengerti mengapa mereka bekerja. Kami dibuat mengerti apa yang mereka kerjakan dan gunanya untuk masyarakat. Kami dibuat mengerti kalau kami tak akan pernah diajak wisata ke luar negeri, seperti yang kolega mereka (walau tak semua) lakukan, karena uang kami tak cukup dan mereka tak mau menerima uang haram di kantor mereka. Mungkin dulu biasa saja bagi mereka, namun sekarang rasanya luar biasa untuk kami.

Saya belajar dari perjalanan bersama orangtua saya, bahwa di saat kita dewasa, kita tak akan ingat berapa detil jumlah uang apalagi detil total waktu yang pernah orangtua kita telah berikan. Namun kita, anak, akan selalu ingat ini; Apa makna yang mereka berikan, apa nilai yang telah mereka teruskan.

Dan semoga kerja kita semua dapat memberikan yang terbaik untuk anak-anak kita.

Aamiin.

*

Gina S. Noer (@ginasnoer)
ibu rumah tangga selama 6 bulan, ibu pekerja freelance selama 2 tahun, ibu wirausaha selama 3 tahun.
Selamanya ibu untuk Biru Langit (5,5 tahun) dan Akar Randu (3 tahun).


19 Comments - Write a Comment

  1. sanetya

    Dari kemarin dengar selentingan ada bahasan lagi soal SAHM-Working Mom tapi malas cari tahu karena buat gue, sih, urusan ini nggak penting. Masing-masing ibu punya tantangan, kebutuhan, dan pastinya, hidup, keluarga, anak yang berbeda. Lalu kenapa kalau SAHM? Atau ibu bekerja? ASIX atau tidak? Homemade atau kasih makanan instan bayi? Masih banyak hal lain (lebih penting pula) yang mesti dipikirin, hahaha.

    1. setuju bun, ngurus keluarga itu sudah menguras tenaga dan pikiran. gak perlu ditambahi dengan dgn memikirkan komentar2 tersebut. semua ibu pasti ingin memberikan yg terbaik. bentuknya tiap ibu beda2. jadi jgn dibanding2kan deh.

  2. Nice post!!
    IMHO sebenarnya ga perlu diambil hati postingan2 dari SAHM. Viral or not, blm tentu maksudnya utk membuat working mom merasa bersalah. Mungkin itu cuma posting utk menguatkan diri bahwa mereka telah memilih jalan yg benar (paling tidak yg mereka percaya terbaik utk mrk). Di sisi lain, kalo as a working mom memang jadi pilihan terbaik (alasan financial, aktualisasi diri, being happier), we don’t have to feel offended by any internet post. Semua ini kan hanya pilihan, ga ada yg benar atau salah.

    I was a working mom, and now a SAHM with a freelance job.

  3. ah pas pesan itu terbaca, saya memilih untuk mengabaikan. tapi memang setuju dengan mbak Gina, tolong berhenti membandingkan diri mana yang lebih baik, sampai kapan pun nggak akan ada pemenangnya karena setiap ibu punya pilihan & prioritasnya masing2. siapa kita kok berhak menghakimi kenapa si ibu itu bekerja kenapa si ibu itu di rumah saja.

    saya lahir dan dibesarkan dari seorang ibu bekerja. saya tetap dekat dengan beliau. kini pun saya bekerja, anak saya di rumah bersama mbak. setiap siang alhamdulillah sempat pulang untuk lihat anak. ini pilihan saya :)

    btw, pilihan hidup itu nggak sehitam putih soal pilihan berganda di ulangan/ujian. apapun pilihan kita, semuanya benar menurut kita karena setiap orang punya jalan hidup yang berbeda. TFS mbak :)

  4. nenglita

    Gue setuju banget sama artikel ini. Terutama bagian, anak nggak bisa dibohongi sama perasaan orangtuanya. Pasti suah banyak yang buktiin, kalau ibunya sedih atau stres, rasanya ‘nular’ ke anak.
    So ibu-ibu, kalau sudah memilih, maka terima dan jalani risikonya dengan ikhlas. Karena anak tetap mencintai kita dan kenal kita sebagai ibunya, no matter what :)

  5. dan teman saya punya jawaban gokil atas pertanyaan di pesan viral tersebut…

    “Karena bunda tidak bisa meninggalkanmu di dalam lemari dan menguncinya seharian, tanpa merasa khawatir saat bunda pulang kamu masih dalam keadaan baik-baik saja seperti saat bunda meninggalkanmu di pagi hari.”

    #cuma jokes untuk refreshing ya

  6. Ibu saya dulu juga working mom. She’s a farmer alias petani, petani rendahan, saya rasa sama sibuknya bahkan lebih sibuk dr orang kantor. Bapak cuma pns biasa yg gajinya sebulan habis buat uang kuliah kakak2 saya, sepulang kerja lanjut kerja disawah. Saya terbiasa sendirian dirumah tanpa pembantu, mengerjakan semua pekerjaan rumah sendiri. Saya tidak sedih, karna saya tahu mereka capek bekerja demi anak2nya, pulang dari kebun kecapekan dan ga ada waktu buat ngobrol juga tidk masalah. Toh hasilnya anak2 lebih mandiri. Saya justru melihat anak2 sekarang terlalu dimanja baik ibu dirumah maupun ibu bekerja tapi baby sitternya seabreg. Sorry no offense.

  7. Sebenarnya klo kita memang sudah menjalankan tugas sebagai ibu dg porsi masing2, dgn baik dan benar ya mestinya ga perlu merasa bersalah . Just do ur best. Saya SAHM juga pernah merasa bersalah dgn suara2 di sekeliling saya yg bilang? Ngapain dia susah2 sekolah tinggi2 klo ujung2 nya cuma ngurus anak dan suami di rmh. Apa enaknya minta duit sama suami terus. Apalagi klo mau bantu kluarga sendiri, kan gak enak kalo harus minta sama suami. Tapi Alhamdulillah justru suami saya yg minta saya utk tdk bekerja, krn dia ingin saya lebih intens mengurus anak di rumah. Dan suami benar2 konsekuen dg ucapannya. Saya hampir tdk pernah minta apapun ke suami. Justru dia yg selalu rajin menanyakan segala keperluan saya dan anak2. Bahkan dia yg sering menelpon orang tua saya di jogja. Juga kepada adek saya satu2nya. Untuk sekedar menanyakan kabar mereka dan keperluan mereka. Tiap bulan suami tdk pernah lupa untuk transfer uang ke rekening orang tua saya. Dan membayar tagihan listrik di rumah orang tua saya . Dan itu dilakukannya seperti sdh menjadi kewajiban bagi dirinya Dan sayapun total menjalankan peran saya sbg IRT. Dr mulai anak pertama kami lahir. Saya berikan ASI eksklusif untuk anak2 , saya nikmati setiap detik perkembangan anak2 kami, saya berusaha untuk selalu menyediakan hidangan hasil masakan saya sendiri untuk mereka. Krn bagaimanapun, masakan di rmh pasti lebih bersih, sehat dan dijamin bebas pengawet. Dan sekarang, anak kami yg pertama 14 tahun ,kelas 3 SMP dan anak kedua kami 11 tahun, kelas 6 SD.mereka tumbuh menjadi anak2 yang sehat dan cerdas . Suami saya sering membicarakan dengan bangga tentang kehebatan saya sebagai istrinya kepada teman2 dan saudara2 nya. Mulai dari ASI dan makanan sehat yg saya berikan yg membuat anak2 kami selalu sehat dan hampir tdk pernah sakit.sehingga kami bisa menghemat biaya untuk beli susu kaleng jg biaya ke dokter. Sampai anak2 yg saya berikan bimbingan belajar sendiri di rumah. Sehingga kami tdk perlu mengeluarkan biaya untuk les akademis utk anak2. Karena kebetulan latar pendidikan saya dr Teknik. Jadi saya masih bisa memberikan bimbingan belajar Matematika IPA dan English kpd anak2. Setidaknya sampai mereka lulus SMA nanti. Dan Alhamdulillah … prestasi anak 2 kami di sekolah sangat baik. Dan sekarang? Ketika smua orang bertanya, untuk apa sy dulu susah2 sekolah klo ujung2 nya cuma jd IRT. Dg mantap saya jwb. Saya sdh mengaplikasikan smua ilmu yg sy dapatkan untuk anak2 saya. Dan suami saya benar2 suami yg luar biasa. Dia menikahi saya bukan hanya cinta kpd saya, tp dia juga menyayangi seluruh keluarga saya.so… just do ur best…! Gak perlu pusing mikirin apa kata orang . Pikirkan saja apa yg bisa kita lakukan untuk anak2 dan keluarga. Krn kita bisa memajukan bangsa ini dimulai dr kluarga kecil kita ini. Dan pengaruh kita sbg ibu…adalah yg paling besar untuk bisa mencetak generasi2 masa dpn kita menjadi generasi yg lebih baik.

  8. JUST DO YOUR BEST , MOMS …!

    Ibu yg bekerja demi anak dan benar2 untuk membantu menambah penghasilan keluarga dengan sebaik-baiknya itu lebih mulia daripada ibu yang bekerja hanya karena alasan bosan / bete mengurus rumah, suami dan anak yang rewel.

    Ibu yang di rumah mengurus rumah, suami dan anak2nya dengan sebaik-baiknya itu lebih mulia drpd ibu yang di rumah tp anaknya , suaminya dan rumahnya gak ke urus. (Sibuk ngrumpi dg tetangga ,shopping yg gak penting, , ikut pengajian dan arisan ke sana ke mari).

    Everybody has their own battlefied. Semua bisa jd pemenang atau pecundang.

    Pemenang adalah mereka yang sibuk berkarya dan terus memperbaiki diri.

    Be a winner wherever we be.

    So… just do your best, moms…! :)

Post Comment