Decisions VS Consequences

Beberapa hari yang lalu, Path saya ramai dengan kehadiran tulisan soal Ibu Bekerja. Saya sendiri tidak ikut menyebarkan, karena memang dari dulu selalu menghindari semua yang berbau ‘kompetisi’ di dunia ibu-ibu. Mulailah dari proses melahirkan normal atau sesar, ASI secara ekslusif atau dengan bala bantuan Susu Formula, pakai dot atau tidak, Co-Sleeping atau tidur terpisah, MPASI rumahan atau instan, PAUD lokal atau Playgroup bertaraf internasional, investasi emas atau reksadana, dan tentunya yang sedang dan selalu jadi salah satu topik panas : SAHM or WM?

Tulisan Gina di Cinta Juga Berarti Bekerja sangat mewakili isi hati para ibu yang bekerja dengan dua alasan utama yaitu untuk aktualisasi diri dan mendapatkan penghasilan untuk menghidupi keluarga. Cerita Amel yang ternyata tetap harus jungkir balik ketika sudah menjadi Stay At Home Mom juga mewakili betapa ternyata badan rasanya tetap mau rontok dan banyak pikiran padahal tidak ada pekerjaan kantoran yang harus dipertanggung jawabkan. Semacam kurang pening dengan urusan masing-masing, ternyata rasa di dalam hati merasa butuh pembenaran untuk semua keputusan yang diambil. Lebih lagi, rasa ingin mendapatkan pembenaran ini disebar luaskan via social media yang akhirnya membuat orang lain terusik. Usikan dan juga rasa ingin mendapatkan dukungan (baca: pembenaran) atas apa yang sudah kita pilih dalam lingkaran sosial ini kalau dalam ilmu yang saya pelajari merupakan hal normatif yang wajar terjadi dalam hidup sebagai manusia. Wajar karena memang dalam hidup itu penuh dengan nilai. Ada nilai yang harus dijalankan dan ada nilai yang akan kita terima, sebagai satu kesatuan sosial. Sehingga biasanya jika ada yang berjalan tidak sesuai dengan nilai yang dianggap sudah menjadi kebiasaan, akan dianggap menyimpang. Kalau sudah begini, ada dua kemungkinan : jadi juara atau jadi terasing. Jika jadi juara, berarti ada nilai yang bisa digeser dan diterima. Jika terasing, berarti merasa salah dan karena beda sendiri jadi akhirnya diasingkan atau mengasingkan diri.

Kembali ke persoalan mengambil keputusan sebagai orangtua, ternyata walau ada di lingkaran sosial yang berbeda, namun kekuatan viral sosial media tidak bisa dihindari. Tanpa disadari, sosial media juga menjadi salah satu alat untuk menilai. Coba ingat-ingat, berapa kali Anda menghapus tweet yang sudah diketik dan memilih untuk menekan tombol Discard dibanding Send jika ada satu hal yang ingin disampaikan tapi ada rasa takut atau malas jika muncul salah penilaian terhadap kalimat-kalimat di akun sosial media? Ini merupakan salah satu bukti kalau dalam lingkaran sosial di dunia virtual, Anda berusaha untuk menjaga sikap agar tetap bisa diterima dan menjadi bagian lingkaran tersebut. Apalagi jika Anda memiliki kepribadian ‘hindari konflik’ maka mungkin akun sosial media tidak akan menjadi tong sampah yang membuat orang yang membaca merasa punya hak untuk menilai sesuai dengan interpretasinya masing-masing. Ingat dong, apapun keputusan yang diambil, pasti ada konsekuensinya kan? Baik konsekuensi yang memang terjadi setelah keputusan diambil, maupun yang muncul dari persepsi orang. Dan perlu ditambahkan, rasanya tidak mungkin tidak menjadi perhatian apabila setiap hari di sosial media kita ‘curhat’ sembarangan. Terlebih lagi, sosial media dijadikan tempat untuk menggalang dukungan terhadap apa yang dirasa. Tidak salah, tapi sebaiknya tidak membuat orang lain merasa bersalah.

Jadi bagaimana kalau di bulan yang katanya penuh dengan kasih sayang ini, kita mulai mengurangi rasa ingin membuat orang lain bersalah karena ternyata (mungkin) kita yang merasa kurang (atau belum) nyaman dengan konsekuensi dari keputusan yang diambil. Selain itu, belajar untuk tidak memasukkan kedalam hati tentang semua hal yang kita dengar, juga bisa membantu untuk tidak over reacting terhadap suatu pendapat yang terdengar mengganggu, sekaligus mengurangi kerutan karena terlalu banyak memikirkan ‘apa kata orang lain’ ;) Seperti kata artikel disini, parents do judge, deal with it.

Anyway, I have one mantra that always spelled out every time I hear negative judgement over my decisions like being a stay at home mom, or preparing to go study abroad with Menik. “Every decisions come with consequences. So let’s just deal with it, make a peace with it for the sake of ourselves. In the end, we have to remember, the only one who have right to judge us is only God.”

Gambar dari sini


3 Comments - Write a Comment

  1. persoalan di dunia ibu-ibu udah ada sejak zaman dahulu kala, cuma sekarang tambah rame karena sosial media. Dan ya, gue salah satu yang beberapa kalo menghapus tweet yang udah gue send atau masih diketik karena banyak faktor. Walaupun udah nggak efektif juga sih, secara ada teknologi baru bernama SCREEN CAPTURE! Hahaha.. Gila ya, nggak usah yang di-share ke sosmed, chat antara 2 orang atau di grup aja bisa kesebar. Luar biasah…

    *ini OOT sih dari artikelnya, hahaha*

Post Comment