Belajar Menerima Diri Sendiri

Akhirnya saat ini tiba juga.

Saat akhirnya saya bisa menerima diri saya apa adanya, diri saya sekarang. Saya yang sudah memilih untuk banting setir karier dari seorang wartawan, menjadi ibu rumah tangga.

Fiuh…butuh waktu satu tahun setengah, sampai akhirnya saya merasa percaya diri (tulus dari dalam hati) dan bangga menyatakan bahwa saya, adalah seorang ibu rumah tangga. Haha..

Sebelum punya anak, saya bekerja total. Dari pagi sampe malam, bahkan kadang sampe pagi lagi. Liputan sana-sini. Hampir semua desk sudah pernah saya rasakan, dari metropolitan-sospol-ekonomi bisnis-istana wakil presiden-istana presiden-halaman 1. Saya suka sekali pekerjaan saya, cinta malah!

Karena kecintaan itulah, saya menunda hamil hingga 1,5 tahun. Karena sejak awal menikah, saya dan suami sudah berkomitmen bahwa saya tidak akan menjadi working mom. Saya harus memegang sendiri anak saya.

Saat akhirnya hamil, dan sudah sembilan bulan kurang sedikit, akhirnya saya resign dan beralih profesi jadi ratunya rumah. Sebulan pertama setelah melahirkan, rasanya masih menyenangkan. Bisa bangun siang, nggak usah capek-capek ngalamin macet pagi dan malam, dan yang jelas enggak lagi diburu deadline.

Namun bulan berikutnya?

Mulai merasa useless karena nggak menghasilkan uang, bosan, malu tiap ditanya kesibukan, kesal tiap diledek “Selain gosip sama tetangga, belanja ke tukang sayur, masak, beberes rumah dan netein anak, ada kesibukan lain?”, dan akhirnya ngerasa bodoh.

Iya, itu sejujurnya. Meskipun enggak pernah nunjukin perasaan itu, tapi, dalam hati, selalu terbersit perasaan-perasaan semacam itu. Mungkin ngalamin Post Busy Syndrome, ya,  (hihi, istilah ngarang bebas, tuh) atau a bit baby blues? Nggak taulah, tapi yang jelas jadi berusaha memanfaatkan waktu bayi tidur untuk masak, baca koran, baca buku, belajar, bikin kerajinan tangan, nulis, jualan dan berbagai kegiatan.

(Gambar dari sini)

Lama kelamaan saya sadar, bahwa semua hal yang saya sebut sebagai ‘kegiatan yang lebih bermanfaat’ itu hanya upaya agar tidak kehilangan eksistensi. Upaya meningkatkan harga diri, agar tidak berakhir menjadi seorang ibu rumah tangga yang dasteran dan nonton TV seharian.

Ya, betul, tidak bermanfaat kalo kegiatan hanya seputar gosip, tukang sayur, nonton tivi seharian. Tapi, rupanya tidak perlu sengotot saya, hingga jam tidur hanya tinggal 3-4 jam saja, yang menyebabkan mengurus anak, alasan utama saya resign, malah tidak maksimal. Sudah rahasia umum, mengurus anak itu bukan perkara mudah.

Lama kelamaan saya sadar bahwa mengurus anak itu, artinya juga menstabilkan kondisi rumah tangga, menjaga kesehatan keuangan, menjaga asupan gizi, menjaga kebersihan rumah, menyensor acara televisi, menyensor waktu pemakaian gadget, menjaga kesehatan tubuh dengan berolahraga, cukup istirahat, dan masih banyak lagi!

Semua itu, ada dibawah tanggung jawab saya. Wow, berat sekali, kan? Lebih berat daripada liputan dari pagi sampai pagi! Percayalah :)

Seluruh tanggang jawab yang amat besar itu, ternyata, belum saya pahami sepenuhnya. Artinya, saya masih harus banyak belajar.  Artinya, belajar itulah yang harus saya lakukan acapkali si anak tidur, atau asyik bermain sendiri. Belajar masak yang enak dan sehat, belajar menjahit, meng-update ilmu parenting, belajar soal kesehatan keluarga dengan obat dan vitamin yang alami. Plus juga belajar bersama si anak, yakni belajar sekaligus mengajari anak bersosialisasi dengan lingkungan sekitar, belajar dan mengajari anak mandiri dengan sering bepergian berdua naik kendaraan umum, belajar lalu mengajari anak soal tanggung jawab misalnya dengan merapikan mainan yang berantakan dan masih banyaaaaak lagi.

Saya (akhirnya) sadar, bahwa ini merupakan bukti dari komitmen. Ya, saya sudah memilih. Harusnya saya bisa optimal melakukan kegiatan pilihan saya, tanpa mengorbankan waktu istirahat. Saya (akhirnya) sadar bahwa waktu istirahat itu PENTING, agar saya selalu sehat dan bisa selalu ada untuk anak dan suami saya.

Toh, nantinya anak saya juga besar, dan ada masanya dia sekolah lalu bermain bersama teman-teman. Di fase itu, otomatis saya akan punya lebih banyak waktu untuk diri sendiri, plus aktualisasi diri. Mungkin nanti akan ada fase saya bisa eksis lagi, bisa menghasilkan uang lagi (entah bagaimana jalannya), atau bisa aktif lagi di dunia’ persilatan’ :D

Yang jelas kini, saya memperlakukan pilihan sebagai ibu rumah tangga sama dengan pilihan saya dulu untuk berkarier. Optimal belajar dan optimal memanfaatkan waktu yang ada. Tidak berusaha untuk jadi sempurna dan nomor satu, tapi berusaha untuk jadi istimewa. Karena promosi seorang Ibu Rumah Tangga, bukan naik jabatan dari Reporter menjadi Redaktur. Promosi seorang ibu rumah tangga adalah keluarga sehat, keluarga bahagia, senyum lebar, peluk dan cium dari seluruh anggota keluarga.

Ibu rumah tangga juga profesi, dan harus dilakukan dengan profesional. Ya kan?

(Gambar dari sini)

 


18 Comments - Write a Comment

Post Comment