SAHM= The Hardest Job on Earth

Ish, kalau ada spesialis bedah saraf, ilmuwan nuklir, dan astronot yang baca judul di atas, mungkin bawaannya mau keplak kepala saya, ya :D

Tapi benar, deh, jadi SAHM (stay at home mom) itu susaaah jendraaal! Saya benar-benar kena batunya karena dulu semasa berstatus WM (working mom), sering memandang SAHM dengan sebelah mata. Pikir saya, kerja SAHM gampil surampil. Cuma urus anak, masak, beberes rumah, lalu leyeh-leyeh nunggu suami pulang. Tidak perlu, tuh, memikirkan deadline pekerjaan, merasakan capeknya perjalanan berangkat-pulang ngantor, atau manajemen ASIP selama anak ditinggal ngantor.

Ternyata oh ternyata, realita berkata sebaliknya! Apa yang tadinya saya anggap ‘cuma’, nyatanya justru paling menguras saya abis-abisan secara fisik dan mental. Lewat, deh, capeknya gelantungan di TransJakarta selama 1,5 jam. Lebay? Biar, hahaha.

Dulu saat menulis artikel Dari Working Mom Menjadi SAHM, saya masih tinggal di Jakarta, di rumah ortu, dengan bantuan ART. Menjadi SAHM saat itu = santaaai. Banyak tangan dan mata yang bisa bantu jaga Rakata-Ranaka. Makan tinggal buka tudung saji, tidak perlu beberes rumah pula.

Begitu pindah ke Semarang, jreng-jreeeng … dua tangan ini (ektra dua tangan lagi kalau ada suami) mesti bisa akrobat melakukan segala hal. Apalagi, saya memang sok-sokan tidak pakai ART. Pikir saya, bule saja bisa, kenapa saya tidak? *kompetitif*

Saya punya prinsip, attitude saat jadi WM dan SAHM mesti sama, dong. Masa di kantor jor-joran menunjukkan prestasi kerja terbaik, tapi begitu urus keluarga malah malas-malasan dan seadanya. Saya tidak mau seperti itu. Di sisi lain, saya ingin membuktikan pada orang-orang terdekat (yang mayoritas meragukan), bahwa saya bisa, kok, menjadi SAHM teladan :D

Akibatnya, di bulan-bulan pertama, saya jadi SAHM yang sangat ambisius! Dalam sehari, nyapu bisa dua kali. Beresin mainan bisa tiga-empat kali. Bahkan, saya tidak sudi ada menu yang sama di meja makan dalam satu minggu. Tiap hari mesti gonta-ganti. Hah? Amel masak? Hahaha, bukan sulap bukan sihir, tapi jadi SAHM ternyata membuat saya yang sebelumnya ogah ke dapur jadi bersahabat dengan talenan dan panci. Anehnya, saya menikmatinya! From kitchen phobia to regular cooker. This is what I called evolving :)

Tapi, tentu saja ada harga yang mesti dibayar untuk itu. Badan rasanya rontoook. Duh, capeknya tidak terkira. Kadang saya jadi bingung sendiri, kenapa jadi SAHM malah jauh lebih capek daripada pas WM, ya :D

Bagaimana tidak capek, jika ‘jobdesc-nya’ hampir tanpa jeda. Bangun tidur, langsung masak, bersihkan pup, nyuapin, bersihkan pup lagi, meneruskan nyuapin, cuci piring, berenang, mandikan anak, menyuapi, menemani main lagi, ngelonin tidur siang, menyapu-mengepel, cuci piring lagi, menemani main lagi pas mereka bangun, kadang berenang lagi, dst, dst, sampai keduanya tidur. Rakata-Ranaka tidur pun, belum tentu bisa istirahat. Ada setumpuk mainan yang perlu dibereskan atau rice cooker menunggu dibersihkan. Capeknyaaa!

Jeleknya saya, jika lagi capek lalu dipadu lapar, jadi gampang emosi, kesal, dan marah-marah. Wah, jangan tanya, deh, berapa kali Rakata-Ranaka sudah kena semprot ibunya di awal-awal jadi SAHM. Seperti yang saya ceritakan di artikel ‘Beyond the Happy Family Snaps…’, bahkan saya pernah kelepasan menampar Rakata :'(

Sempat sediiih banget. Soalnya, dulu semasa jadi WM, ‘sumbu’ kesabaran saya itu sepertinya panjangnya 10 kilometer. Boro-boro, deh, ada kelepasan main fisik, wong, membentak anak saja bisa dihitung dengan jari. Tapi begitu jadi SAHM, kenapa ‘sumbu’, kok, malah memendek drastis. Hal sepele mudah sekali memicu kemarahan. Mungkin kalau dihitung, jumlah saya menghardik Rakata semasa masih berstatus WM (kira-kira selama tiga tahun), jumlahnya sama banyak dengan tiga minggu jadi SAHM :D

Mungkin, karena pas masih WM, waktu bertemu dengan anak terbatas, ya. Jadi sekalinya bersama anak, inginnya cium-cium, peluk-peluk, sayang-sayangan. Anak rada berulah, biarin saja, deh. Panjangnya ‘sumbu’ kesabaran ini tentunya merupakan kompensasi dari rasa bersalah. Rasa bersalah sudah ninggalin anak seharian. Masa sudah jarang ketemu, sekalinya ketemu, eh, anak malah diomelin?

Sementara pas jadi SAHM, karena sudah menghabiskan waktu 24/7 bersama anak, merasa lebih ‘berhak’ untuk tegas. Salah, tapi itulah yang saya rasakan.

Sempat ada teman yang setelah baca tulisan saya nyeletuk, “Ngapain jadi SAHM kalau jadinya malah marah-marah sampai menampar anak kayak gitu? Mendingan WM sajalah, jadi ketemu sama anaknya lebih berkualitas.”

Okesip. Sepertinya teman saya itu terlalu cepat menyimpulkan. Betul, jadi SAHM rasanya ‘sumbu’ kesabaran memendek. Tapiii, bukan berarti tiap hari, tiap jam, tiap menit, kerjanya mengomel melulu. Tidak begitu, maleeeh :D

Dibanding ‘sumbu’ terbakar, waktu yang dihabiskan buat memeluk, bercanda, sayang-sayangan, gegoleran, ataupun main bareng, tetap jauuuh lebih banyak. Kalau mau dihitung, misalnya dalam sehari ngomelnya lima menit, ada sisa 1.435 menit yang penuh kasih (tsaaah …). Sama saja seperti ngantor, kan, tidak tiap saat juga merasa overwhelmed dengan pekerjaan.

IMHO, yang penting, sih, mau jujur introspeksi diri. Setelah menyadari bahwa emosi saya sering labil jika lapar, sekarang saya selalu nyetok roti tawar dan camilan di kulkas. Jadi bila tidak sempat makan, minimal ada pengganjal. Efeknya lumayan, lho. Yang tadinya bisa dua-tiga kali ngomel dalam sehari, menurun jadi ‘cuma’ dua-tiga kali dalam seminggu :D

Saya pun makin fleksibel. Jika di bulan-bulan awal sangat ambisius menyelesaikan pekerjaan rumah tangga, belakangan dibawa santai. Urusan cuci baju dan setrika, misalnya, sudah sejak lama diserahkan ke laundry kiloan dekat rumah. Kalau kumat malasnya, ngepel pun bisa cuma sekali dalam seminggu. Tidak mood masak, langsung jajan. Bahkan yang tadinya selalu bangun jam 5 pagi, sekarang bangunnya mengikuti anak. Anak bangun jam 07.30, ya, ikut bangun jam segitu juga :D

Secara keseluruhan, sebenarnya bisa dibilang proses adaptasi saya menjadi SAHM cukup lancar dan cepat. Mungkin, karena keputusan resign memang murni dari keinginan saya sendiri, ya, yang memang sudah jenuh dengan pekerjaan terdahulu sekaligus puyeng menghadapi kemacetan Jakarta.

Jadi begitu ada kesempatan membuka lembaran baru di kota yang tidak sepadat Jakarta (seperti yang selama ini selalu saya impikan), tidak pikir dua kali untuk ngintilin suami.

Pernah ada teman yang curhat, mengaku jadi SAHM karena terpaksa. Tidak ada ART yang menjaga anaknya, sementara ortu/mertua pun jauh sehingga mustahil dititipi. Padahal, selain menyukai pekerjaannya, katanya kariernya pun lagi merayap naik. Akibatnya, teman saya ini sangat terlihat tidak menikmati statusnya sebagai SAHM. Sedikit merasa beruntung, karena saya tidak berada di posisinya dan punya kuasa untuk memilih.

Eh, kok, baca artikel ini, kayaknya jadi SAHM malah terkesan gampang banget, ya? Hahaha. Mungkin karena saya menulisnya setelah enam bulan jadi SAHM, pas sudah dapat pola dan celahnya. Coba jika di bulan-bulan awal, pasti isinya curhat panjang lebar :D

Tapi saya tidak bohong. Menjadi SAHM dengan dua balita tanpa ART itu beraaat. Apalagi jika sakit. Duh, rasanya ingin sekejap hilang ditelan bumi! Pernah saya migren parah dan bilang ke Rakata-Ranaka jika saya ingin tidur-tiduran sebentar. Ealah, ketenangan mereka cuma bertahan lima menit. Rakata ngajak ngobrol terus, Ranaka malah lompat-lompat di perut. Saking tidak tahannya, saya sampai nangis, hahaha.

Jadi bagi para WM yang merasa SAHM, tuh, gampil (hanya karena para WM ini pernah ambil dua-tiga hari cuti dan ngalamin juga 24/7 full urus anak), perlu saya tegaskan: cuti dua-tiga hari tidak sama dengan jadi SAHM. Ada perbedaan besar di antara keduanya.

Dulu semasa masih WM, saya suka menyepelekan SAHM yang bilang ada kepuasan batin tersendiri saat bisa mengikuti langsung pertumbuhan anak. Dalam hati saya, “Cih, itu, mah, bisa-bisanya SAHM saja buat membesarkan hatinya. Toh, meski ngantor, saya juga happy dan tidak merasa kehilangan anak.”

Lagi-lagi saya salah! Hukum alam selalu berjalan. SAHM, yang menurut saya the hardest job on earth, ternyata memang mendatangkan the hardest joy. Seperti apa joy-nya? Duh, saya tidak mampu menjelaskannya dengan kata-kata. Yang jelas, tidak pernah saya rasakan sebelumnya semasa jadi WM. Meski sulit mendeskripsikannya, tapi saya yakin semua SAHM pasti mengerti dan juga merasakannya. Bukan begitu buibuuuk? :)

 

 

*gambar dari sini (http://www.graphicshunt.com/images/cleaning-8765.htm)

 


46 Comments - Write a Comment

  1. lho ini amelnya mana? :D
    jadi kesimpulannya, masing2 ada pleus minesnya yaa..

    kebalikan dari dirimu, gue justru mulai empet bin bosen jadi SAHM. it’s my 9th year going to 10.
    buat gue malah liat WM itu huebat lho. udah sumpek dikatain bos/customer, masi kudu pulang dan banyak PR masi menanti di rumah. ngebayanginnya aja puyeng :D

    buat gw sih cm 2 rumus sukses SAHM, ga boleh ambisius/idealis dan pinter2 curi waktu me-time :D

    kalo salah satu gagal, sumbu mengkeret deh hihihi

Post Comment