5 Hal Seputar Hubungan Suami Istri yang Sering Ditanyakan Saat Ramadan

Sex & Relationship

Mommies Daily・in 4 hours

detail-thumb

Masih banyak yang ragu soal hubungan suami istri selama Ramadhan? Apa saja batasan yang boleh dan tidak boleh? Cek jawabannya berikut ini.

Bagi suami istri, bulan Ramadan membawa perubahan yang cukup signifikan menyangkut rutinitas. Sebut saja pola tidur berubah yang berubah. Istri misalnya, mungkin akan bangun lebih awal karena harus menyiapkan sahur. Suami juga mungkin tak bisa langsung pulang setelah bekerja, karena harus lembur. Energi keduanya sudah pasti menurun, hingga waktu kebersamaan bisa jadi jauh berkurang.

Kebersamaan dalam hal ini adalah hubungan suami istri. Sebenarnya sah-sah saja berhubungan suami istri di bulan Ramadhan, namun tentu ada aturannya. Hal ini membuat banyak pasangan memiliki pertanyaan seputar hubungan suami istri selama berpuasa, mulai dari batasan kemesraan hingga hukum hubungan intim.

Topik ini sering dianggap tabu, padahal Islam justru memberikan panduan yang jelas dan bijak. Berikut ini beberapa pertanyaan seputar hubungan kebersamaan suami dan istri, apakah itu tentang hubungan intim, bermesraan, atau sekadar mengirim teks mesra. 

1. T: Bolehkah suami istri melakukan hubungan intim di bulan Ramadhan? 

J: Tentu saja boleh. Bagaimanapun hubungan intim antar suami dan istri juga merupakan ibadah. Waktu yang dibolehkan adalah setelah berbuka puasa, hinggasebelum waktu imsak atau subuh. 

Jika suami istri tak dapat melawan hawa nafsunya di siang hari di bulan Ramadan, selain membatalkan puasa, pasangan tersebut bagi wajib mengqadha puasanya serta membayar kafarat.

Apa itu kafarat? Dalam konteks zaman dulu, membayar kafarat, yaitu membebaskan seorang budak mukmin, ketika perbudakan masih berlaku. Namun di zaman ini wajib bagi pasangan berpuasa selama dua bulan berturut-turut. Jika ia tidak mampu melaksanakannya, maka wajib baginya memberi makan 60 orang miskin atau fakir, dengan ukuran satu mud untuk setiap orang, yaitu dari makanan pokok yang sah digunakan dalam zakat fitrah.

Baca juga: Sexting di Bulan Puasa, Batalkah?

2. T: Bagaimana dengan bermesraan? Misalnya saja, hanya berpelukan atau berciuman.

J: Dalam fiqih dijelaskan bahwa pada dasarnya sentuhan atau kemesraan ringan tidak langsung membatalkan puasa. Namun bukan tak mungkin, sentuhan dan kemesraan tersebut bisa menyebabkan keluarnya mani akibat rangsangan fisik. Suami dan istri harus berhati-hati. Pengendalian diri tetap menjadi kunci selama berpuasa.

3. T: Bagaimana jika suami mimpi basah di siang hari, bukankah ada air mani yang keluar?

J: Mimpi basah tidak membatalkan puasa. Mimpi basah terjadi di luar kendali seseorang saat tidur. Ulama menjelaskan bahwa orang tidur tidak dibebani hukum taklif sehingga puasanya tetap sah. Segeralah mandi junub ketika bangun tidur, lalu lanjutkan puasa seperti biasa. 

T: Ketika pasangan suami istri berhubungan intim sebelum shubuh, bolehkah mandi junubnya setelah azan subuh?

J: Boleh saja. Setelah azan Shubuh, suami dan istri dipersilakan untuk mandi junub dan kemudian melaksanakan sholat Shubuh. Puasa tetap sah, kok, meski seseorang masih dalam keadaan junub saat Subuh tiba.

Baca juga: Bagi Pasangan yang Baru Menikah, Ini Tips Membuat KK Baru

4. T: Normalkah jika frekuensi  hubungan intim menurun selama Ramadhan? Jujur merasa bersalah sama pasangan. 

J: Sangat normal. Melaksanakan ibadah di bulan Ramadan memang menggeser fokus kita dari kebutuhan fisik menjadi kedekatan emosional, spiritual bonding, hingga ibadah bersama-sama dengan pasangan. Dalam beberapa kajiran, Ramadhan justru menjadi momentum memperkuat kualitas hubungan, bukan sekadar intensitas fisik.

5. T: Bagaimana, ya, biar bisa tetap romantis sama pasangan tanpa takut membatalkan puasa?

J: Romantis dengan pasangan tidak harus selalu melalui sentuhan fisik, kan? Beberapa cara aman yang bisa dilakukan untuk tetap menjaga kedekatan antara pasangan selama bulan Ramadhan bisa dilakukan dengan menyiapkan sahur bersama, saling membangunkan untuk melaksanakan shalat tahajud, atau sekadar berjalan bersama ke masjid untuk sholat Tarawih. 

Yang penting diingat, Ramadhan itu tidak kemudian memperlebar batasan hubungan antara suami istri. Ramadhan justru mengajarkan keseimbangan antara kebutuhan fisik, emosional, dan spiritual.

Dengan memahami batasannya, pasangan tetap bisa menjalani Ramadhan dengan nyaman tanpa rasa khawatir atau salah langkah.

Cover photo by Envato