
Pernikahan baru kok sering ribut? Yuk, kenali sumber konflik di tahun pertama pernikahan dan solusinya. Mommies dan Daddies wajib tahu!
Banyak pasangan membayangkan tahun pertama pernikahan akan dipenuhi momen manis, sarapan bareng, pulang ke rumah yang sama, dan obrolan hangat sebelum tidur. Namun kenyataannya, fase itu justru sering jadi masa penyesuaian paling menantang. Hubungan yang dulu terasa mengalir kini lebih sering “kesenggol” hal-hal kecil yang tiba-tiba membesar.
Urusan keuangan, pembagian tugas rumah, sampai soal waktu bersama mendadak jadi pemicu keributan. Apakah ini normal? Apakah konflik di awal pernikahan pertanda cinta sedang diuji?
BACA JUGA: Ternyata Ini 10 Hal yang Paling Bikin Pasangan Baru Menikah Overthinking soal Anak
Jawabannya: ya, sangat wajar. Pernikahan mempertemukan dua individu dengan latar belakang, kebiasaan, dan nilai yang berbeda. Konflik muncul ketika perbedaan pendapat, kebutuhan, atau ekspektasi menimbulkan ketegangan.
Kabar baiknya, konflik tidak selalu berdampak buruk. Cara pasangan mengelola konfliklah yang menentukan apakah hubungan akan menjauh atau justru semakin dekat. Resolusi konflik yang sehat bukan tentang menghindari pertengkaran, tapi belajar memahami, berkomunikasi, dan mencari titik temu.
Menurut Maggie Martinez, LCSW, ketika pasangan berhasil menghadapi konflik bersama, hal ini justru dapat memperkuat kepercayaan dan kedekatan emosional.

Konflik bukan musuh. Anggap ia sebagai sinyal adanya hal penting yang perlu dibicarakan. Berikut ini tujuh masalah terberat di awal pernikahan yang sering menjadi sumber keributan.
Setiap orang membawa ekspektasi ke dalam pernikahan. Masalahnya, ekspektasi ini sering tidak diungkapkan secara jelas. Salah satu pasangan berharap pasangannya “mengerti sendiri”, sementara yang lain merasa tidak pernah diberi tahu.
Ketika ekspektasi tidak terpenuhi, rasa kecewa bisa berubah menjadi frustrasi dan akhirnya meledak jadi konflik. Di tahun pertama pernikahan, fase adaptasi ini terasa sangat nyata karena masing-masing masih belajar membaca kebutuhan pasangan.
Topik anak sering dianggap tabu untuk diperdebatkan setelah menikah. Padahal, perbedaan pendapat soal kapan punya anak, berapa jumlahnya, atau pola asuh yang diinginkan bisa menjadi pemicu keributan besar.
Ada pasangan yang ingin menunda, ada yang merasa sudah waktunya. Jika tidak dibicarakan dengan jujur sejak awal, perbedaan ini bisa menguji cinta dan kesabaran kedua belah pihak.
Urusan finansial termasuk sumber konflik paling sensitif di awal pernikahan. Mulai dari pembagian pengeluaran, gaya hidup, hingga cara menabung, semuanya bisa memicu pertengkaran.
Sebuah studi menunjukkan bahwa sekitar 22% perceraian berkaitan dengan masalah keuangan, hanya sedikit di bawah perselingkuhan dan ketidakcocokan. Di tahun pertama pernikahan, pasangan masih menyesuaikan diri dengan pola keuangan bersama dan di sinilah konflik sering muncul.
Setelah euforia pernikahan dan bulan madu berlalu, realita pun datang mengetuk. Waktu tetap 24 jam, tapi kini harus dibagi untuk karier, keluarga besar, teman, hobi, dan pasangan.
Maggie Martinez, LCSW, menjelaskan bahwa mempertahankan hobi dan minat pribadi setelah menikah justru penting untuk menjaga kemandirian dan mencegah hubungan menjadi terlalu melekat (enmeshment). Ketika waktu terasa timpang, pasangan bisa merasa diabaikan dan konflik pun muncul.
Perbedaan gairah seksual adalah hal yang umum, tetapi sering sulit dibicarakan. Ketika satu pihak memiliki kebutuhan seksual lebih tinggi dibanding pasangannya, rasa penolakan atau frustrasi bisa berkembang menjadi konflik emosional.
Di awal pernikahan, pasangan masih mencari ritme dan memahami kebutuhan satu sama lain. Tanpa komunikasi terbuka, isu ini bisa menjadi jurang yang melebar perlahan.
Silent treatment, nada bicara yang mengancam, sindiran pasif-agresif, atau memilih waktu yang tidak tepat untuk bicara semuanya adalah tanda breakdown komunikasi.
Konflik sering kali bukan soal topiknya, melainkan cara menyampaikannya. Ketika komunikasi tidak sehat, masalah kecil pun bisa terasa besar dan melelahkan.
Dalam pernikahan, ada pasangan dengan dinamika yang timpang. Satu dominan, satu cenderung mengalah terus-menerus.
Ketidakseimbangan ini dapat menciptakan perasaan tidak dihargai dan akhirnya memicu konflik berkepanjangan. Di tahun pertama pernikahan, pola ini sering baru terlihat jelas.

Konflik dalam pernikahan, terutama di tahun pertama pernikahan, sering terasa melelahkan. Rasanya, baru menikah tapi kok sudah sering ribut? Padahal, menurut Dr. Sue Johnson, tokoh penting dalam psikologi hubungan, konflik adalah bagian alami dari koneksi manusia. Konflik bukan tanda kegagalan, melainkan kesempatan untuk saling memahami lebih dalam. Konflik bahkan bisa menjadi jalan untuk mengenali kebutuhan, nilai, dan kerentanan pasangan selama dikelola dengan cara yang tepat.
Berikut tujuh cara efektif menghadapi konflik pernikahan agar keributan di awal pernikahan tidak berubah menjadi jarak emosional:
Salah satu pemicu keributan paling umum dalam pernikahan adalah komunikasi yang dilakukan di waktu dan suasana yang salah. Di tengah emosi, pembicaraan mudah berubah menjadi saling menyerang.
Cobalah membuat safe space khusus untuk bicara. Matikan TV, jauhkan ponsel, dan sepakati bahwa momen ini digunakan untuk saling mendengar, bukan memenangkan argumen.
Di banyak konflik pernikahan, pasangan sebenarnya tidak menuntut solusi instan. Mereka hanya ingin dipahami. Ketika perasaan diabaikan, konflik kecil bisa terasa jauh lebih besar.
Mengatakan, “Aku paham kenapa kamu merasa seperti itu,” atau “Pasti capek, ya, ada di posisi itu,” bukan berarti kita mengakui kesalahan. Namun pengakuan ini membantu pasangan merasa aman secara emosional, sehingga konflik tidak berkembang menjadi keributan berkepanjangan.
Tidak semua masalah harus dibahas saat itu juga. Di awal pernikahan, banyak konflik muncul bukan karena isunya berat, tapi karena timing-nya keliru. Keluhan tentu harus disampaikan tapi usahakan pilih waktu yang nyaman.
Salah satu kesalahan paling umum dalam konflik pernikahan adalah mengubah masalah menjadi serangan personal. Kalimat “kamu selalu…” atau “kamu nggak pernah…” sering kali hanya memperkeruh suasana.
Sebaliknya, gunakan I-statement seperti, “Aku merasa sedih ketika…” atau “Aku merasa tidak didengar saat…”. Cara ini membantu diskusi tetap fokus pada sumber konflik, bukan menjatuhkan pasangan.
Mendengarkan pasangan bukan berarti menunggu giliran membela diri. Di banyak konflik, pasangan sebenarnya hanya ingin didengar sepenuhnya.
Coba ulangi apa yang pasangan sampaikan dengan bahasa kita sendiri, misalnya, “Jadi yang kamu rasakan itu…”. Teknik sederhana ini menunjukkan bahwa kita benar-benar hadir, bukannya bereaksi defensif.
Kompromi bukan berarti selalu mengalah. Dalam pernikahan, terutama di tahun pertama, kompromi adalah proses mencari titik temu yang adil. Tanyakan, “Bagian mana yang bisa kita sesuaikan supaya sama-sama nyaman?”. Dengan begitu, konflik tidak lagi terasa sebagai ajang menang-kalah, melainkan kerja tim menghadapi masalah bersama.
Jika konflik mulai berubah menjadi pertengkaran sengit, time-out bisa menyelamatkan hubungan. Mengambil jeda memberi ruang untuk menenangkan diri sebelum kata-kata menyakitkan terucap.
Penting: pastikan jeda ini bersifat sementara dan ada komitmen untuk kembali membahasnya. Konflik yang dihindari terus-menerus justru bisa menjadi masalah terberat dalam pernikahan di kemudian hari.
Setiap pernikahan pasti menghadapi masalah yang terasa rumit dan tidak langsung menemukan solusi. Psikolog Dr. Harville Hendrix, penulis “Getting the Love You Want”, menyebut konsep holding space yaitu memberi ruang bagi masalah yang belum selesai tanpa memaksakan solusi instan.
Tidak semua konflik harus tuntas hari itu juga. Beberapa butuh waktu, kesabaran, dan proses bertumbuh bersama. Di situlah cinta benar-benar diuji dan juga dikuatkan.
BACA JUGA: 8 Cara Bertengkar dengan Sehat dalam Pernikahan, biar Makin Sayang!
Cover: Pexels