Sorry, we couldn't find any article matching ''

8 Cara Bertengkar dengan Sehat dalam Pernikahan, biar Makin Sayang!
Sering berdebat dengan pasangan? Yuk, simak cara bertengkar dengan sehat untuk mengelola konflik dalam pernikahan. Jadi adem ayem lagi!
Mommies, siapa bilang pernikahan bahagia itu harus selalu adem ayem tanpa perdebatan dan bebas pertengkaran? Faktanya, pasangan yang ngaku nggak pernah bertengkar justru patut dicurigai. Bukan karena kurang romantis, tapi bisa jadi justru karena terlalu banyak hal yang dipendam.
Menariknya, hubungan yang sehat bukanlah hubungan yang bebas konflik. Justru sebaliknya, perdebatan dan bertengkar bisa menjadi tanda bahwa kita peduli terhadap pernikahan kita dan ingin terlibat secara emosional dengan pasangan. Tinggal satu catatan penting: caranya harus sehat.
Pernikahan Bahagia Bukan Pernikahan tanpa Konflik
“Mungkin terdengar berlawanan dengan intuisi, tapi hubungan yang bahagia tidak selalu berarti hubungan tanpa konflik,” ujar Robert Allan, PhD, psikolog klinis berlisensi sekaligus profesor di University of Colorado Denver.
Menurut Dr. Allan, berdebat justru menunjukkan bahwa seseorang benar-benar peduli. “Orang tidak akan bertengkar denganmu jika mereka tidak peduli,” jelasnya. Jadi, selama dilakukan dengan cara yang tepat, berdebat bukan musuh pernikahan melainkan bagian dari proses membangun kedekatan.
Hal serupa disampaikan Maria Thestrup, PhD, psikolog klinis berlisensi di Washington, DC. Ia menjelaskan bahwa dalam hubungan yang sehat, baik romantis maupun hubungan dengan keluarga dan teman, konflik seharusnya dipandang sebagai katalis perubahan positif, bukan sesuatu yang harus dihindari.
“Konflik adalah kesempatan bagi dua orang untuk tumbuh dan memahami diri mereka sendiri dengan lebih baik,” jelas Dr. Thestrup. Artinya, konflik bukan masalahnya. Yang sering jadi masalah adalah cara kita bertengkar.
BACA JUGA: Marriage Burnout: Lelah dalam Pernikahan, Tanda, Penyebab, dan Solusi
Bukan Seberapa Sering Bertengkar, tapi Bagaimana Caranya
Ilmu pengetahuan pun mendukung hal ini. Sebuah studi menemukan bahwa pasangan yang menikah dan bahagia tidak lebih jarang bertengkar dibanding pasangan yang sedang bermasalah. Bedanya, mereka bertengkar dengan cara yang berbeda.
Pasangan bahagia cenderung lebih baik dalam menyelesaikan masalah dan menghindari pola komunikasi negatif serta menekan. Dengan kata lain, bukan aktivitas bertengkarnya yang keliru, melainkan tekniknya.
Pasangan yang bahagia punya cara bertengkar yang membedakan mereka dengan pasangan lain. Ini perbedaannya:
- Lebih fokus pada pemecahan masalah.
- Menghindari pola komunikasi negatif.
- Tidak menggunakan kata-kata yang merendahkan.
Dengan kata lain, bertengkar bukanlah musuh pernikahan. “Masalahnya adalah kebanyakan dari kita tidak tahu bagaimana cara bertengkar dengan benar,” kata Dr. Thestrup.

Foto: Polina Zimmerman/Pexels
4 Gaya Bertengkar yang Perlu Diwaspadai
Relationship expert Dr. John Gottman menyebut ada empat gaya bertengkar yang sangat merusak hubungan, yang ia sebut sebagai The Four Horsemen. Pola ini terbukti meningkatkan risiko perceraian atau bikin bentuk-bentuk relasi lain (hubungan keluarga dan pertemanan) bisa hancur berantakan karena memperparah konflik.
1. Kritik
Kritik muncul ketika pasangan menyerang karakter, bukan membahas perilaku. Akibatnya, pasangan merasa diserang dan direndahkan.
2. Defensif
Sikap defensif membuat seseorang sibuk membela diri, menyela pembicaraan, atau bersikeras bahwa dirinya selalu benar.
3. Contempt (penghinaan)
Ini adalah bentuk paling berbahaya. Penghinaan menunjukkan kurangnya rasa hormat, sering kali lewat kata-kata menyakitkan atau sarkasme.
4. Stonewalling
Saat seseorang selalu memilih diam, menarik diri, atau menolak merespons saat terjadi konflik, tembok emosional pun terbentuk. Semakin lama, tembok emosional akan semakin tinggi dan tebal.
Kalau Mommies merasa salah satu (atau beberapa) gaya bertengkar ini sering muncul, jangan buru-buru menyalahkan diri sendiri dan pasangan. Ini justru tanda bahwa hubungan butuh cara komunikasi yang lebih sehat.
BACA JUGA: Relatioship Audit, Cara Cerdas Mencegah Hal Kecil Mengikis Pernikahan
Kenapa Pasangan Bisa Bertengkar?
Ada banyak alasan kenapa konflik muncul dalam pernikahan, di antaranya:
- Perbedaan gaya komunikasi.
- Ekspektasi yang tidak terucap.
- Stres pekerjaan, finansial, atau keluarga.
- Masalah lama yang belum selesai.
- Pemicu emosional dari pengalaman masa lalu.
Kabar baiknya, semua ini bisa kok dikelola dengan pendekatan yang tepat.

Foto: Andrea Piacquadio/Pexels
8 Tips Berdebat dan Bertengkar dengan Sehat dalam Pernikahan
1. Mulai dengan rasa hormat
Dekati pasangan dengan sikap saling menghargai. Menyepakati batasan seperti tidak menggunakan kata-kata kasar atau merendahkan bisa membantu debat tetap produktif.
Namun, menurut Dr. Allan, tetaplah fleksibel. Emosi bisa membuat siapa pun sulit menjadi komunikator yang sempurna.
2. Datang dengan pikiran terbuka
Sisihkan ego dan keinginan untuk selalu benar. Dengarkan pasangan dengan sungguh-sungguh, tanpa menghakimi sebelum debat dimulai.
3. Ungkapkan perasaan, bukan tuduhan
Alih-alih berkata, “Kamu nggak pernah bantuin saya beres-beres,” cobalah mulai dari perasaan. Misalnya, “Aku merasa tidak diperhatikan setiap melihat piring kotor menumpuk.” Sampaikan juga solusi yang diharapkan secara jelas dan objektif.
4. Latih active listening
Active listening berarti mendengarkan untuk memahami, bukan mendengarkan sambil mempersiapkan ‘senjata ‘untuk membalas. Ulangi inti pembicaraan pasangan, ajukan pertanyaan, dan beri klarifikasi bila perlu.
Cobalah memperlambat reaksi dan tidak langsung menyusun pembelaan. Mindfulness bisa membantu melatih hal ini.
5. Ingat, kalian satu tim
Tujuan debat adalah menyelesaikan masalah, bukan memenangkan argumen. Jangan langsung berasumsi bahwa pasangan punya niat menyakiti Mommies. Musuh kalian adalah masalah yang sedang kalian perdebatkan, bukan satu sama lain.
6. Beri jeda jika emosi terlalu panas
Jika suasana makin memanas, tidak apa-apa mengambil jeda. Sepakati waktu yang lebih tepat untuk melanjutkan diskusi saat emosi sudah lebih stabil, tapi jangan lama-lama ya.
7. Usahakan ada penyelesaian
Konflik yang dibiarkan menggantung hanya akan muncul kembali. Meski perlu jeda, jangan benar-benar membiarkan apalagi meninggalkan masalah tanpa solusi.
8. Cari akar masalahnya
Jika konflik yang sama terus berulang, mungkin masalahnya bukan soal tumpukan piring kotor atau kantung sampah. Bisa jadi ada kebutuhan emosional yang belum terpenuhi.
Tanyakan pada diri sendiri: “Apa peranku di sini?” Mengenali pemicu pribadi bisa membuka peluang pertumbuhan dan kompromi.
Mengubah Konflik Menjadi Koneksi
Dr. Martha Tara Lee, sex therapist dan relationship counsellor, menjelaskan bahwa komunikasi efektif adalah keterampilan yang berkembang melalui latihan yang diniatkan, diupayakan.
“Setiap percakapan adalah kesempatan untuk memperdalam pemahaman, membangun kepercayaan, dan memperkuat ikatan,” jelasnya. Dengan menangani perbedaan pendapat menggunakan empati, rasa ingin tahu, dan komitmen untuk tumbuh bersama, konflik bisa berubah menjadi momen kedekatan yang bermakna.
Ingat, tujuan pernikahan bukanlah menjalaninya dengan tidak pernah bertengkar dan berdebat, melainkan melakukannya dengan cara yang membuat suami dan istri semakin dekat.
BACA JUGA: 10 Ide Kencan untuk Pasangan Sibuk Bekerja, Tetap Romantis!
Cover: Maksim Goncharenok/Pexels
Share Article


POPULAR ARTICLE




COMMENTS