Karantina dan Konflik dalam Rumah Tangga

Sex & Relationship

Mommies Daily・06 May 2020

detail-thumb

Ditulis oleh: Ficky Yusrini

Di dalam rumah, situasi 4L alias lu lagi lu lagi, memaksa kita menghadapi sisi terburuk dari orang-orang terdekat kita. Ya pasangan, ya anak. Apa yang bisa kita lakukan untuk mengurangi konflik?

Barusan saya menonton video yang sedang viral, seorang pria muda di Bogor, marah-marah saat ditegur polisi karena berkendara tidak sesuai aturan PSBB, penumpang mobil tidak boleh duduk bersebelahan, dan diminta pindah ke tempat duduk di belakang. Reaksinya mengejutkan. Ngamuklah dia, bicara dengan nada tinggi, tidak terima dengan aturan tersebut, karena penumpang yang ia bawa tak lain adalah istrinya. “Saya hormati aturan, tapi saya lebih nurut sama aturan Allah,” ucap pria tersebut, lepas katup emosinya, otak reptilnya yang bekerja. “Saya sudah pakai masker, pakai hand sanitizer, masih kurang juga?” katanya lagi. Reaksi saya saat nonton video ini, kalau dengan orang asing dia bisa marah-marah begitu, apalagi di rumah, ya.

Okelah, PSBB membuat kita semua tidak nyaman, merampas ‘kebebasan’ kita. Nggak bisa mudik, nggak bisa nongkron, sampai urusan naik motor dan mobil pribadi saja diatur. Kita pun seolah jadi ‘tahanan rumah’. Tapi kalau sampai kelepasan terus viral, jejak digitalnya bisa membuat runyam.

Lucu baca curhatan teman di WAG maupun di dinding medsosnya tentang situasi karantina dalam rumah tangga mereka.

“Aku nggak bisa kerja di rumah. Berisik banget, dengerin orang berantem terus. Kalau nggak anak-anak berantem, anak sama ibunya berantem!”

“Kenapa ya, istriku selalu saja punya kerjaan rumah buatku. Udah ada jadwal tugas, eh, masih saja dia revisi berkali-kali. Kan, kerjaan kantor udah banyak, woy!”

“Kemarin dan kemarinnya lagi udah masak donat. Sekarang, bikin donat lagi? Oh, tidak!”

Baca juga:

Giliran para Ayah Curhat Tentang Serunya WFH

Karantina dan Konflik dalam Rumah Tangga - Mommies Daily

Photo by Frank Busch on Unsplash

Lu Lagi Lu Lagi

Di dalam rumah, situasi 4L alias lu lagi lu lagi, memaksa kita menghadapi sisi terburuk dari orang-orang terdekat kita. Ya pasangan, ya anak. Di Wuhan, Cina, hal pertama yang dilakukan oleh lusinan pasangan suami istri ketika mereka selesai dari isolasi, adalah mengajukan perceraian. Anak-anak yang sudah merasa cukup umur, pindah dari rumah orangtua dan bersumpah untuk tidak berbicara dengan keluarga lagi.

Kebayang, kan, situasinya. Hal sepele, bisa memicu otak reptil kita. Saya sendiri, kadang bisa drop banget, kalau suami atau anak mengkritik hasil masakan saya. Kezel! (Walaupun aslinya memang enggak jago masak, hehehe…). Kadang juga terjadi, eyel-eyelan dengan suami atau anak, gegara kuota internet. Bohonglah, kalau dibilang, tidak ada pertengkaran dalam rumah tangga.

Baca juga:

Hal-hal Tentang Anak dan Pasangan yang Baru Diketahui para Ibu Saat Karantina

Belajar dari Stoik

Sekeras apa pun kita berusaha menjaga kewarasan, kalau ‘sakit’nya sudah mengendap di alam bawah sadar, akan sulit untuk dikontrol. Ada tip menarik dari Stoik, yang bisa kita ambil. Ajaran Stoikisme berfokus pada etika dan kebijaksanaan. “Kaum Stoa percaya bahwa jalan menuju ketenangan bukanlah dengan berpikir bahwa semuanya akan berjalan mulus. Sebaliknya, cara untuk mencapai ketenangan pikiran adalah dengan fokus pada skenario terburuk, karena dengan begitu, apa pun yang terjadi, semuanya akan baik-baik saja, karena Anda siap untuk itu,” saran dari filsuf zaman now, Alain de Botton.

“Kita harus tertawa dengan badai yang berputar-putar di sekitar kita. Ketika Anda tahu apa dasarnya, ketika Anda memahami seberapa buruk itu bisa terjadi, itu artinya Anda siap,” ucap Alain, seperti yang dikutip dari artikel di Haaretz.com. Badai itu bisa apa saja, bisa karena kena virus, atau bisa juga badai dengan pasangan karena karantina.

Hindari ‘Menghina’

Berantem, kesel, marah, frustrasi, sedih, ingin menyalahkan, adalah emosi wajar saat menghadapi perbedaan atau konflik dengan orang terdekat. Sebaliknya, orang terdekat juga orang yang paling rentan kita sakiti. Karena apa? Kita punya ekspektasi yang tinggi, pada suami, anak. Kita sering menganggap, mereka adalah orang yang paling kenal karakter kita. “Harusnya, tahu, dong!” Kita menganggap, mereka sudah tahu sisi buruk kita. Jadi bisa cuek dan enggak perlu jaim. Padahal, kalau kita tidak bisa mengekspresikan dengan baik apa yang ada di dalam kepala kita, mereka juga tidak akan mengerti. Suami atau anak tidak akan bisa baca pikiran kita.

Saat pertengkaran tak bisa dihindarkan, ada saran menarik dari kolumnis The Guardian, Eleanor Gordon Smith, satu hal yang jangan sampai kelepasan, kata atau gesture yang menghina pasangan. Kalau sudah terlanjur tersakiti hanya gara-gara ‘ledakan’ sesaat, bisa-bisa, kita yang dihantui penyesalan panjang.

Baca juga:

Dampak Lain Covid-19: Terjebak dengan Pasangan KDRT dan Toxic Parents