Catatan Singkat Untuk (Calon) Orangtua Tiri

Berencana akan atau mungkin sudah menikah lagi dengan pasangan yang juga memiliki anak, seperti apa menyiapkan diri menjadi orangtua tiri?

Bertahun-tahun menjadi single mom, setiap kali ditanya orang, apakah saya berencana menikah lagi? Hingga detik ini, jawaban saya masih sama: Belum minat :D. Alasannya? Banyak. Beberapa di antaranya: saya masih trauma dengan yang namanya ikatan pernikahan, kesetiaan, drama mertua. Ditambah, saya masih nggak yakin kalau saya bisa menjadi sosok ibu untuk anak lain selain anak-anak saya, yang artinya, kalau saya menikah lagi berarti saya sebaiknya mencari laki-laki yang tidak punya anak, hehehe.

Bicara tentang menyandang status ibu tiri kok berasa beraaaat bagi saya. Akan ada value parenting yang berbeda pastinya, akan ada kemungkinan membandingkan anak suami dengan anak saya, dan apakah saya bisa bersikap adil ke depannya? Jadi, rasanya lebih baik saya tetap sendiri dulu hingga nanti ketika saya benar-benar siap lahir batin, hahaha.

Catatan Singkat Untuk (Calon) Orangtua Tiri - Mommies Daily

Baca juga:

Membesarkan Anak Tanpa Figur Ayah

Dan, kalaupun saya akan menikah lagi di mana dalam pernikahan tersebut ada anak-anak yang terlibat di dalamnya, mungkin ini yang akan saya lakukan:

- Lakukan pendekatan terhadap anak-anak dalam jangka waktu yang tidak sebentar. Selama masa pendekatan ini, menjadi momen untuk saya melihat, kecocokan, ketidak cocokan, apa yang saya suka dan tidak. Bagaimana dengan anak-anak sendiri. Pendekatannya seperti apa? Ya menghabiskan waktu bersama-sama, membiarkan anak-anak memiliki kesempatan untuk mengenal pasangan. Jika pendekatan sudah cukup dilakukan, maka rencana tentang pernikahan tinggal dijelaskan apa adanya.

Pahami juga bahwa kehadiran orang baru dalam hidup anak-anak bukan untuk mengganti yang lama, melainkan sesuatu yang baru hadir untuk melengkapi atau membuat kehidupan menjadi lebih baik. Karena kadang-kadang, pemahaman ‘mengganti’ terkadang membuat anak menjadi lebih sulit untuk menerima.

Saya akan melakukan pembicaraan dari hati ke hati antara saya sebagai orangtua tiri dengan calon anak tiri saya, atau meminta calon pasangan saya berbicara dengan anak-anak saya jika si anak sudah bisa diajak komunikasi. Apa yang mau saya bicarakan? Tentang harapan satu sama lain. Apa yang anak-anak harapkan dari pernikahan ini dan dari calon orangtua tiri, dan apa yang saya ataupun calon pasangan saya harapkan dari anak-anak.

Sepakati dari awal, hal-hal apa saja yang sebaiknya saya atau calon suami tidak terlibat (misalnya tentang keluarga besar orangtua kandung), lalu pengasuhan seperti apa yang akan kami gunakan. Nggak bisa juga sih step back tentang pengasuhan karena ketika memutuskan untuk menikah, artinya sata sudah siap menjadi bagian dari keluarga sehingga punya andil dalam berjalannya roda keluarga.

Kesepakatan tentang hal apa saja sih yang penting untuk dibicarakan terlebih dahulu? Pengasuhan, pembagian peran sebagai orangtua, ya sama saja kayak pertama kali menikah dulu.

Jangan terlalu memaksa diri agar semua berjalan lancar! Pahami bahwa segala sesuatu itu butuh waktu. Anak maupun orangtua tiri perlu sadar bahwa butuh proses adaptasi untuk sampai pada titik nyaman bagi semua pihak.

Pahami bahwa saya tidak akan bisa menggantikan posisi ibu kandungnya. Mau itu si ayah mendapat hak asuh sepenuhnya, mau ibu kandungnya ajaib banget. I can have a meaningful, loving relationship with my stepchildren, but it will be different from that between a mother and child. Dan itu sama sekali nggak kenapa-kenapa.

Tetap bersahabat baik dengan psikolog, ahahaha. Saya butuh psikolog tak hanya ketika saya akan bercerai atau masih single. Kalaupun suatu saat nanti saya menikah lagi, kunjungan rutin saya ke psikolog tetap akan saya lakukan. Ngobrol dan curhat sama psikolog setidaknya membuat saya bisa melepaskan kepenatan saya dan mendapat solusi yang membuat hati adem.

Jangan membandingkan diri saya dengan para orangtua tiri yang lain. Mereka dan saya pasti menghadapi situasi berbeda, memiliki pemikiran dan jalan keluar yang berbeda, memiliki pasangan dan anak yang berbeda. Lalu, kenapa saya harus membandingkan kondisi saya dengan mereka?

I can’t fix what I didn’t break. Nggak usah berusaha untuk memperbaiki segala sesuatu karena saya ingin dianggap menjadi pemberi solusi. Akan selalu ada banyak issue yang pasti akan dihadapi ketika kita menyatukan dua keluarga, dan ada issue masa lalu yang diakibatkan oleh perceraian, yang mana itu bukan salah saya.

Saya percaya akan ada drama, tapi saya juga percaya bahwa many wonderful times yang akan saya rasakan. Percaya aja, jika suatu saat saya menjadi ibu tiri, I’m here for a reason. Kita kumpulan manusia-manusia yang tidak sempurna. Kita semua pernah sama-sama terluka dan trauma. We are all messed up, but you know what? Pada akhirnya kita menjadi sebuah keluarga, kan?!

Baca juga:

Bercerai dan Berteman Baik dengan Mantan? Bisa Kok!


Post Comment