Membesarkan Anak Tanpa Figur Ayah

Ketika seorang ayah tidak hadir dalam hidup seorang anak karena perceraian, bagaimana kita bisa mengisi kekosongan di dalamnya?

Saya bisa dikatakan lumayan beruntung, karena meskipun hubungan saya dengan mantan suami tidak bisa dibilang ‘sempurna’ setelah bercerai, seenggaknya mantan suami bertanggung jawab dan masih hadir di dalam hidup anak-anak saya.

Baca juga:

10 Hal yang Saya Pelajari Dari Perceraian

Saya pun mencoba mendahulukan kepentingan anak-anak. Bicara tentang hak asuh, semua anak hak asuhnya jatuh ke tangan saya. Kalau mau egois, saya nggak akan mengizinkan si kakak tinggal dengan ayahnya, ataupun melakukan pembagian waktu yang adil antara saya dengan ayahnya. Namun karena saya paham betul, pentingnya kehadiran figur semua orangtua, maka marilah kita menekan ego, hahaha.

Nggak semua single mom (yang bercerai) seberuntung saya. Ada yang mantan suaminya hilang lenyap tak ada kabar sama sekali, tak bertanggung jawab bahkan merasa terganggu ketika si anak menghubungi untuk mencoba berkomunikasi. Yang seperti ini saya nggak paham sih, di mana dia menempatkan hati nuraninya?

Padahal, menurut mbak Vera Itabiliana, Psi, setiap figur ayah maupun ibu memberikan stimulasi yang berbeda dan memiliki perannya masing-masing untuk memenuhi kebutuhan anak dari sisi yang berbeda juga. Anak yang hidup tanpa figur orangtua yang lengkap, berisiko akan terus merasa ada yang kurang di dalam dirinya. Sebenarnya, figur di sini bisa siapa saja yang berperan sebagai ayah atau ibu, tidak harus ayah atau ibu kandung langsung. Misal, anak bisa tumbuh dengan baik di bawah pengasuhan single mom tapi figur ayah dipenuhi oleh kakek atau om.

 Membesarkan Anak Tanpa Figur Ayah - Mommies Daily

Sebenarnya, ketika figur ayah hilang, apa dampaknya ke anak-anak? Ya bermacam-macam dan bisa berbeda pada setiap anak. Beberapa di antaranya:

- Anak akan tumbuh dengan masalah yang berkaitan dengan self esteem. Rasa percaya diri serta penilaiannya terhadap diri sendiri bisa berkurang dan menganggap diri tidak layak.

Baca juga:

Menumbuhkan Self Esteem Pada Anak

- Kesulitan untuk membangun dan mempertahankan sebuah hubungan. Trauma dengan penolakan yang dilakukan oleh sang ayah membuat seorang anak pada akhirnya memiliki ketakutan jika dia disakiti, dan ini membuat dia menjaga jarak untuk terlalu dekat dengan orang lain.

- Gangguan pola makan juga bisa dialami oleh anak yang kehilangan figur seorang ayah. Dalam buku The Parent’s Guide to Eating Disorders, penulis Marcia Herrin dan Nancy Matsumoto menuliskan bahwa ada kaitannya antara seorang anak perempuan dengan ketidakhadiran sosok ayah dalam hidupnya. Mulai dari anorexia nervosa, bulimia, binge eating dan masih banyak lagi.

- Cenderung lebih mudah mengalami depresi karena ketakutan akan penolakan serta diabaikan yang telah dilakukan oleh ayah mereka. Data menunjukkan bahwa anak-anak tanpa ayah memiliki kemungkinan dua kali lebih besar untuk melakukan percobaan bunuh diri.

- Menjadi pelaku sexual active di usia muda.

Intinya, menurut mbak Vera, seseorang akan terus mencari secara sadar atau tidak sadar, figur tertentu untuk memenuhi kebutuhan emosinya. Ada kasus di mana anak merasa ditolak oleh ayahnya yang pergi meninggalkan keluarganya begitu saja sehingga anak hanya tinggal dengan ibunya. Anak ini kemudian menjadi anak yang mudah dekat dengan figur laki-laki yang datang ke kehidupannya seolah ada kerinduan yang terpendam.

Maka, untuk mengurangi efek buruk dari tidak hadirnya ayah dalam kehidupan seorang anak, seperti yang sudah disinggung di atas, perlu kehadiran laki-laki dewasa lain di dalam hidup anak ini. Jika dari keluarga besar (seperti eyang atau om) tidak ada, anak biasanya akan menemukan figure tersebut pada guru atau pelatih olahraga. Yang perlu diperhatikan oleh ibu, pastikan bahwa kedekatan anak dengan laki-laki lain berada di dalam batasan-batasan yang aman dan sesuai koridor.

Salah satu kekhawatiran saya ketika perceraian terjadi dan JIKA ayahnya ternyata tidak memberikan waktu untuk anak-anak (yang untungnya saja itu tidak terjadi) anak-anak saya akan merasa tidak percaya diri dengan kondisi keluarganya yang berbeda dengan keluarga teman-temannya. Bagaimana menjelaskan ke mereka bahwa tidak ada yang salah dengan keluarga tanpa sosok ayah di dalamnya?

Mbak Vera menyarankan, agar saya menjelaskan mengenai konsep keluarga bahwa tidak harus selalu ada ayah , ibu dan anak. Keluarga adalah kumpulan orang-orang yang saling mencintai dan mendukung satu sama lain. Tekankan pada anak bahwa sekarang dia dikelilingi oleh orang-orang yang sayang dan mendukungnya. Dan itu cukup!

Baca juga:

Karena Semua Keluarga Adalah Sempurna

Maka, ketika ada teman-teman dari anak saya meledek perceraian yang dialami orangtuanya (iyaaaaa, ada lho anak SD yang meledek anak-anak saya), saya yakin anak-anak saya kuat menghadapi hal-hal semacam ini jika mereka tahu bahwa mereka tetap dicintai oleh orang-orang terdekatnya.

Pastikan saja kita mengajarkan anak bagaimana menghadapi ejekan dari orang lain dengan cara yang lebih baik tentunya. Bantu anak mengembangkan kelebihan dirinya sehingga ada banyak hal yang ia banggakan dan menutupi apa yang dianggap orang lain sebagai kekurangan.


Post Comment