8 Masalah yang Sering Muncul Di Usia Pernikahan 10 Tahun

Belum 10 tahun menikah? Ya nggak kenapa-kenapa, baca aja dulu artikel ini buat dipelajari, tentang masalah pernikahan yang siapa tahu akan muncul. Jadi udah tahu kan ‘musuh’ yang akan dihadapi dan cara melawannya.

Kata orangtua zaman baheula, masa-masa pernikahan paling sulit itu di lima tahun pertama. Alasannya? Karena masih tahap penyesuaian dan terkaget-kaget dengan hal baru yang kita temukan dalam diri pasangan kita, yang ketika pacaran dulu sukses dia sembunyikan dengan baik, hahahaha.

Tapi menurut saya pribadi? Masa pernikahan punya tingkat kesulitannya sendiri-sendiri. Kalau lima tahun pertama tentang penyesuaian, di lima tahun berikutnya, saya menghadapi rutinitas dan kesibukan yang membuat kadang lupa terhadap hadirnya pasangan. Lalu lima tahun berikutnya? Mohon maaf, saya baru sampai usia pernikahan ke-13 kemudian bubar #sedihakutuh.

Dan menurut beberapa terapis pernikahan, ini dia 8 masalah pernikahan yang sering dialami oleh pasangan dengan usia pernikahan 10 tahun ke atas ……

1. Kita adalah roommate, bukan lagi romantic partner

Paham kan kalau misalnya kita dulu punya roommate yang seru dan asyik saking udah merasa kompak dan ngerti banget satu sama lain? Ini yang bisa terjadi dengan kita dan pasangan, berasa kayak teman, bukan pasangan. Makanya, kalau usia pernikahan udah lama, butuh effort lebih agar romantisme di kamar tidur nggak menguap begitu saja. Menurut Kurt Smith, seorang terapis pernikahan, “Pasangan yang sudah lama menikah cenderung berubah menjadi partner merawat anak dan keluarga, namun lupa untuk tetap menjadi partners in love.”

2. Merasa bosan dengan rutinitas hidup bersama

Apalagi kalau udah punya anak …… ahahahaha. Ya soalnya kan hidup berkisar antara kita, anak, kerjaan. Lalu lupa bagaimana kita dan pasangan. Di usia pernikahan 10 tahun ke atas ya kudu ada usaha. Jangan take it for granted. Kuncinya, cari ide untuk melakukan aktivitas yang berbeda. Nggak usah mahal atau terlalu ekstrem.

Dalam contoh saya yang saat ini sedang menjalin hubungan lagi dengan laki-laki setelah bercerai, dari yang dulu kegiatan kami rutin nonton film-film baru di XXI, sekarang kami rutin olahraga bareng. Nah, untuk yang berada dalam institusi pernikahan, boleh juga membahas topik yang selama ini seringnya dianggap tabu, seperti: fantasi seks, bagaimana ketika kalian beranjak tua, seputar ipar dan mertua. If you feel like your normal routine is getting, well, too routine, the solution is easy: Shake things up.

3. Gairah seks LUNTUR

Macam pakaian salah cuci aja ya pakai luntur. Tapi beneran lho…. Banyak banget hal yang mempengaruhi kedahsyatan urusan ranjang pasca menikah: punya anak, issue kesehatan, stress, emosi, tekanan pekerjaan, KURANG TIDUR OMG, dsb-nya. Awalnya hanya berniat ‘off’ sebentar, tapi lama-lama si urusan ranjang kalah oleh segalanya. Hmmm, mungkin coba ke sex therapist?? Malu?? Ya udah, coba beberapa hal ini: bahas yang menjadi masalah seks kalian, pergi tidur di jam yang sama dengan pasangan, biasakan lakukan sentuhan-sentuhan di tempat tidur walaupun tidak harus berakhir dengan kegiatan bercinta. Bisa itu pelukan, ciuman, kruntelan, apalah itu namanya. Jangan malah pura-pura tidur ketika dicolek sama pasangan, ya, hehehe.

4. Berandai-andai memiliki jalan hidup yang berbeda

Namanya juga menikah, prioritas pasti berubah haluan. Karena ada pasangan dan juga anak-anak. Prioritas apa pun itu. Bisa pekerjaan, pendidikan, kegiatan sosial, traveling atau lainnya. Karena saat itu, prioritas kita adalah membangun keluarga yang harmonis dengan relasi antar anggota keluarga yang sehat. Nah, saat tujuan itu sudah mulai tercapai di usia pernikahan 10 tahun, mulai deh kita mengingat kembali segala macam impian kita dulu yang ‘terhempas’ begitu saja. Kemudian berandai-andai, kalau dulu kita tetap menjalankan impian kita. Lantas, mulai menyalahkan. IMO? Mending kalau impian itu masih menggebu-gebu, obrolin lagi deh dengan pasangan, apa memungkinkan buat dijalani sekarang?

5. Tingkat toleransi kepada pasangan yang semakin rendah??

Di awal pernikahan, kayaknya apa kesalahan pasangan masih bisa kita mengerti. Kita masih bisa menegur pasangan dengan penuh senyum dan intonasi suara yang adem :D. Bertahun-tahun kemudian, kok kayak urat sabar kita hilang ditelan bumi ya? Sedih aja, saat usia pernikahan bertambah, kesabaran malah berkurang. Saya jadi ingat sebuah kalimat yang mengingatkan bahwa kita dengan pasangan itu adalah satu tim, bukan berada di tim yang berlawanan. Kalau menurut terapis pernikahan, mohon diingat, bahwa pasangan kita juga pasti mencoba melakukan yang terbaik, dan bahwa kita pasti juga memiliki banyak kekurangan.

6. Kita lupa caranya bersenang-senang

Jangan karena kita sudah TUA dan menjadi orangtua, lantas kita menjalani hidup terlaluuuuuuuu serius. Nope. Semua orang butuh bersenang-senang. We lose our child-like sense of wonder and goofy senses of humor. Sekarang, kegiatan saya dan pasangan nggak hanya diisi oleh makan, nonton, dan jalan bareng, tapi juga main boardgames bersama, hehehe. Mulai dari Monopoli, UNO, Ular Tangga sampai Halma, pluuus yang kalah harus rela mukanya dicoret.

7. Lupa merayakan apa yang penting bagi kita dan pasangan

Setiap detik pencapaian anak pasti kita rayakan. Setiap keberhasilan dalam karier juga kita rayakan. Pertanyaannya? Bagaimana dengan pencapaian kita dan suami sebagai pasangan? Jangan anggap merayakan hari pernikahan, atau hari pertama kali ketemu, atau hari apalah, itu macam alay lho! At least kita ingat dan nggak lupa say something sweet ke pasangan. Macam: Selamat hari ke 3.650 kita gengges bersama ya yang.

Jadi kembali kepada pengalaman saya pribadi, setiap tahun pernikahan itu akan selalu ada tantangannya sendiri. Sekarang, tinggal kita mau sekomitmen apa untuk bertahan, dan layak nggak apa yang kita perjuangkan :).


Post Comment