Saya Menjadi Ibu yang Lebih Baik Setelah Bercerai

Ditulis oleh: Venny Indraswari

Ini jawaban saya untuk orang-orang yang kerap masih menganggap bahwa perceraian adalah akhir segalanya bagi perempuan maupun bagi anak-anaknya. I’ll prove them wrong.

Saya bukan fans fanatik sebuah perceraian, namun saya juga bukan orang yang anti dengan perceraian. Buat saya, di saat pernikahan sudah tidak kondusif dan membuat saya serta anak-anak berada di area berbahaya, itu saatnya kami harus berjalan ke luar dari arena yang bernama pernikahan.

Yakin untuk berpisah bukan berarti tidak ada rasa takut dan khawatir. Malah dua rasa itu yang mendominasi ketika semakin dekat putusan sidang perceraian. Belum lagi keyakinan sebagian besar orang yang merasa bahwa menuntut perceraian berarti saya menggadaikan masa depan kedua anak saya. Anggapan bahwa saya akan gagal sebagai ibu sekaligus ayah, anggapan bahwa saya akan terlalu sibuk bekerja demi memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga sehingga menelantarkan anak dan sederet anggapan miring lainnya.

Dan 2 tahun sudah berjalan setelah perceraian, saya bisa mengatakan bahwa saya mampu membawa kedua anak saya terbang hanya dengan satu sayap.

menjadi ibu yang lebih baik setelah bercerai

Satu hal yang sangat membantu adalah perubahan-perubahan positif yang terjadi dalam diri saya pasca perceraian, yang saya sendiri aja takjub merasakannya. Takjub, bahwa ternyata perceraian membuat saya menjadi ibu yang lebih baik. Dan percaya deh, ini membuat anak-anak menjadi pribadi yang lebih baik :).

Baca juga: 7 Hal yang Jangan Anda Katakan Kepada Single Parent

1. Saya lebih relaks dan sabar
Hilangnya intensitas bertengkar dengan pasangan membuat hidup saya jauuuuh lebih relaks dan santai. Yang saya rasakan hanya ketenangan. Ini membuat saya secara otomatis juga menjadi lebih sabar menghadapi kedua anak saya.

2. Saya menjadi lebih fokus dan terencana
Memikul tanggung jawab sendiri membuat saya mendorong diri untuk lebih fokus dalam melakukan apapun, karena sudah tidak ada partner yang menjadi back up plan saya. Saya membuat banyak rencana untuk pribadi maupun untuk anak-anak dan fokus untuk merealisasikan itu semua.

3. Saya benar-benar menghargai quality time bersama anak
Membesarkan anak hanya dengan satu sumber penghasilan (dari yang awalnya dua sumber) memang membuat saya harus lebih bekerja keras. Namun, ini malah membuat saya berusaha sebisa mungkin menciptakan quality time bersama anak-anak tanpa ada interupsi apapun. Karena saya selau beranggapan bahwa saat ini hanya ada saya dan mereka. Hanya ada saya sebagai tempat mereka untuk curhat, diskusi atau ngobrol.

4. Saya menjadi lebih tahan banting
Menikah, mengalami kekerasan rumah tangga, diselingkuhi berkali-kali kemudian bercerai tanpa support ekonomi dari mantan suami. Kalau saya mampu menjalani hal-hal ‘besar’ seperti itu, tidak ada lagi yang bisa membuat saya down. Setiap kali ada hal yang membuat saya nggak nyaman, dalam hati saya langsung membatin “Masa gini aja membuat saya pusing sih. Cemen.”

5. Saya belajar untuk menghargai hal-hal sederhana
Makan es krim sambil pelukan sama anak-anak di teras rumah, belanja bulanan di supermarket dekat rumah, bisa ngemall bareng si kakak dan adik, menikmati macet sepulang kerja adalah sekian banyak hal yang sekarang membuat saya bersyukur. Saya jadi ingat tulisan di Instagram mommiesdailydotcom beberapa waktu lalu “Take time to be thankful for everything that you have. You can always have more, but you could also have less.”

6. Kedekatan saya dan anak-anak semakin meningkat
Kami saling memiliki satu sama lain, ini membuat kami saling bergantung sama lain. Dibandingkan dengan hubungan saya dengan anak-anak ketika saya masih menikah dengan saat ini sebagai single mom, saya bisa bilang bahwa inilah kedekatan ibu dan anak yang sesungguhnya yang ingin saya miliki selama ini. Dan akhirnya saya bisa merasakannya.

Please don’t misunderstand—I’m not here as an advocate for divorce. It isn’t anything I would wish on a family because the effects will always be felt. Saya hanya ingin meggambarkan, bahwa jika memang perceraian harus terjadi, itu bukan akhir dari segalanya.


Post Comment