7 Hal yang Jangan Pernah Anda Katakan Kepada Single Parent

Ditulis oleh: Waristi Amila

Menjadi single parent bukan hal yang saya inginkan, menjalaninya pun tidak mudah. Bantu saya dengan tidak mengatakan tujuh hal ini kepada kami, para single parent.

Menjadi orang tua itu tidak mudah. Menjadi orang tua tunggal? Itu jauh lebih menantang namun tetap seru :). Orang tua tunggal harus melewati dan melakukan banyak hal sendirian – yang seharusnya dilakukan dengan dukungan pasangan. Orang tua tunggal tidak selalu berteriak meminta pertolongan atau dikasihani, tapi yang pasti kami juga tidak ingin mendengar dan menerima komentar “tidak penting” dari sekeliling. Komentar seperti apa? Ini misalnya:

suami istri bertengkar-4

1. Saya juga berasa seperti nggak punya pasangan nih, karena pasangan saya kan kerjanya di luar kota
Ok, begini, memiliki pasangan yang bekerja di luar kota tapi masih kembali ke rumah sebagai suami kita, sangat berbeda dari tidak memiliki pasangan sama sekali. Ini bukan tentang kedekatan fisik, orang tua tunggal bahkan tidak memiliki kedekatan emosional dengan siapapun. Dan itu artinya TIDAK SAMA.

2. Did you try to make it work?
Saya selalu tertawa keras saat ada yang bertanya hal ini ke saya – dan bukan cuma satu atau dua kali saya mendengar ini. Saya tidak mengerti kalau ada yang berpikir saya tidak mencoba memertahankan pernikahan saya. Apa mungkin saya mendatangi pengacara dan Pengadilan Agama hanya setelah satu kali pertengkaran?

3. Kasihan anak-anak kalau harus tumbuh dalam keluarga yang tidak lengkap,anak-anak itu butuh Ayah dan Ibunya loh.
Ok, simple, bagaimana dengan mereka yang kehilangan pasangannya karena maut memisahkan? Saya yakin nggak ada yang berani bilang begini. Lagipula siapa yang bisa menjamin kalau anak dengan orang tua lengkap akan lebih bahagia?

4. Anak yang “broken home“ itu pasti bermasalah deh
Kadang ada yang seolah jadi peramal. Dia bahkan bisa membaca masa depan anak kita. Pengalaman pribadi ya moms, saya bercerai saat anak tertua saya berumur satu tahun dan sejak saat itu saya dan keluarga selalu berusaha menerapkan nilai-nilai positif. Dan sekarang? Dia tumbuh menjadi anak remaja yang membuat saya bangga – berprestasi di sekolah, rajin ibadah, dan menjadi team mate yang baik buat saya.

5. Yaaah seenggaknya kamu nggak punya pasangan yang ngajak berantem terus kan?
Well, pertama, kalimat ini bisa digunakan ke seorang sahabat saat kita masih SMA. Kedua, memiliki pasangan dan bertengkar itu tidak bisa disamakan dengan saat kita sendirian ketika anak masuk rumah sakit atau harus menghadapi sidang perceraian. Ketiga, siapa bilang kami tidak bertengkar saat kami sudah berpisah? Dan yang terakhir, saya ingin bertanya kembali kenapa harus tetap bertahan dalam sebuah hubungan saat yang terjadi hanya terus bertengkar dan lelah dengan pertengkaran?

6. Terus, gimana kamu bisa bertahan hidup?
Hmmm… dengan Bekerja? Berusaha? Berdoa? – saya bahkan tidak mengerti kenapa harus ada yang menanyakan ini.

7. Memang susah jadi single parent? Kamu kan kerja, jadi secara finansial nggak susah dong!
Reaksi saya sih akan sederhana moms, “Really? Mau coba?”

Kami bukan orang yang pahit atau sinis dengan hidup yang kemudian jadi negatif. Kami mungkin terlihat lebih keras, karena kami harus bisa berdiri dan melawan banyak tantangan hidup sendirian saat kami menggenggam masa depan anak-anak kami. Dan yang pasti, kami bukan mahluk asing, jadi jangan memberi komentar seolah-olah kami berbeda. Kita masih sama-sama manusia kok, sama-sama punya masalah hidup. Percaya deh :).