banner-detik
SEX & RELATIONSHIP

Ekspektasi VS Realitas Pernikahan di Tahun Pertama, Apa Kata Mereka?

author

Sisca Christinain 5 hours

Ekspektasi VS Realitas Pernikahan di Tahun Pertama, Apa Kata Mereka?

Apa benar pernikahan itu menakutkan, atau justru mengandung unsur humor? Yuk, simak apa kata mereka tentang ekspektasi VS realitas pernikahan di tahun-tahun pertama.

Saya pernah mendengar celoteh beberapa orang perihal ekspektasi mereka tentang pernikahan. Ada yang bilang ekspektasinya seperti fairy tale. Ada juga yang bilang “Se-excited itu mau mengarungi bahtera rumah tangga berdua, karena yakin sudah menemukan tambatan hati.” Intinya, ekspektasi kebanyakan orang tentang pernikahan yaitu bahagia, asik, seru, romantis.

Tetapi ketika kemudian saya bertanya lagi kepada beberapa orang yang sudah melewati tahun-tahun pertama pernikahan, kok, realitasnya jauh berbeda? Hohoho, jangan ciut hati dulu. Nggak semua berarti buruk!

Di balik kaget, capek, berat, dan sensasi, “Kok begini, ya?” di awal pernikahan, justru di situ keseruan cerita pernikahan yang sebenarnya. Pernikahan nggak pernah menjanjikan hidup selalu bahagia, tenang dan estetik seperti di media sosial.

Sejatinya, pernikahan adalah sekolah kehidupan yang otentik bagi dua orang dewasa yang sama-sama berkomitmen untuk berelasi dan bertumbuh di dalam relasi tersebut; featuring bumbu-bumbu konflik harian, humor receh, pertanyaan mau makan di mana dan debat-debat kecil tiada akhir.

Tapi itulah yang membuktikan bahwa pernikahan ternyata nggak semenakutkan itu. Nggak selalu manis, tetapi hangat dan riil. Nggak seseram itu, asal siap ketawa bareng. Walau di awal berat, tetapi setelah melewati fase tersebut, Mommies dan Daddies akan bilang: “Oh, ternyata kita bisa juga, ya.”

Mari kita flash back sejenak. Menyimak apa kata Mommies dan Daddies tentang eksepektasi VS realitas pernikahan di tahun-tahun pertama.

Baca juga: Dulu Pacaran Romantis, Setelah Menikah kok Beda? Ini Kata Psikolog!

Ekspektasi VS Realitas Pernikahan di Tahun-tahun Pertama

Sesuai ekspektasi

“Bagi saya, tahun-tahun pertama justru sesuai ekspektasi. Mungkin saking pacarannya sudah kelamaan (9 tahun) jadi rasanya udah kenal banget. Tapi tetap ada sih ekspektasi yang nggak sesuai kenyataan. Awalnya mikir pasangan baru menikah, tinggal di rumah sendiri, belum punya anak, akan   aja gitu, bisa beli ini itu. Eh kenyataannya: Oh ternyata berumah tangga terlebih tinggal mandiri di rumah sendiri mahal juga ya, hahaha.” Detya, 5 tahun menikah.

Kurang sesuai ekspektasi

“Ngiranya honeymoon phase tapi ternyata penuh penyesuaian. Selain perbedaan satu sama lain (kebiasaan, gaya hidup, pandangan, kondisi finansial dan lain-lain), juga karena tinggal dengan mama papaku dan papa sakit. Alhasil kita berdua jadi latihan percepatan untuk jadi lebih solid dan saling backup yang cukup dar der dor.” Rahmasari, 11 tahun menikah.

“Ekspektasinya setiap pagi masak bekal buat ke kantor, realitasnya: mari kita support sekitaran kantor saja!” Siska M Purba, 13 tahun menikah.

“Kirain mesra, nggak taunya adjustment maksimal.” Elsa, 7 tahun menikah.

“Kirain bakal jalanin newlyweds and honeymoon era, nggak tahunya setelah tinggal bareng, semakin semakin kebuka lapisannya, semakin banyak hah hoh-nya.” Rachel, 9 tahun menikah.

“Ekspektasi newlywed: malam pertama seindah film biru, realitasnya: gila gila gila, sakitnya seperti dipenetrasi linggis!” Maya, 18 tahun menikah.

“Asik nih, bisa pacaran, pacaran, pacaran terus. Iya sih pacaran 1-2 tahun pertama, sisanya ups and downs tiada akhir.” Agus, 17 tahun menikah.

“Ekspektasi: mau traveling sm suami, backpackeran, jalur darat, laut dan udara, karena pas single blm sempet ke mana-mana. Eh bulan depannya langsung dikasih calon anak. Alhasil sampe sekarang nggak pernah traveling berdua suami. Udah hampir 10 tahun menikah, nggak pernah nonton di bioskop satu kalipun, hahaha. Jadi setiap pergi pasti paket lengkap berempat. Tetap disyukuri.” Mutiara, 10 tahun menikah.

“Ekspektasinya setiap hari bisa jalan malam-malam tanpa jam malam. Realitasnya setelah menikah ternyata enggak! Jalan-jalan sampai malam ujung-ujungnya hanya bisa di weekend doang.” Rachel, 8 tahun menikah.

“Setelah menikah kukira aku akan bisa jadi IRT seperti Nagita Slavina. Eh realitasnya harus tetap bekerja from 8 to 5. But it’s not a big deal. Aku dan suami jadi bisa lanjutin hobi traveling kami bareng-bareng.” Amel, 4 tahun menikah.

“Pas baru-baru menikah ekspektasinya bakal disenyumin bangun tidur, pelukan melulu. Realitasnya pas bangun rebutan charger, nanya remot di mana. Dahlah ya.” NN, 11 tahun menikah.

“Ngebayangin setiap hari jalan pagi sama istri, sarapan bareng. Eh pas menikah istri pindah domisili ke tempat saya yang jaraknya lebih jauhh dari tempat tinggalnya sebelumnya. Alhasil istri adaptasi dulu, kecapean, bangunnya jadi suka mepet dan keburu-buru deh.” RST, 14 tahun menikah.

Setelah baca ini, kelihatan, ya, kalau menikah itu sebetulnya nggak seram. Yang seram itu ekspektasi diri sendiri yang mikir bahwa bakal bahagia setiap hari, lalu happy ending. Sebab pernikahan itu bukan drama Korea, Buibuk! Hehehe.

Baca juga: 11 Tips Tinggal Serumah Bareng Mertua untuk Pasutri, agar Tetap Harmonis

Cover: Image by freepik

Share Article

author

Sisca Christina

Ibu dua anak yang berprofesi sebagai digital nomad, yang juga suka menulis. Punya prinsip: antara mengasuh anak, bekerja dan melakukan hobi, harus seimbang.


COMMENTS


SISTER SITES SPOTLIGHT

synergy-error

Terjadi Kesalahan

Halaman tidak dapat ditampilkan

synergy-error

Terjadi Kesalahan

Halaman tidak dapat ditampilkan