
Disayang mertua bukan mimpi. Ini 10 batasan sehat yang perlu disepakati agar bisa membangun hubungan yang sehat dan harmonis.
Siapa, sih, yang nggak ingin punya hubungan adem ayem dengan mertua? Hubungan yang hangat, saling menghargai, dan bebas drama tentu jadi impian banyak pasangan setelah menikah. Sayangnya, realita nggak selalu semanis ekspektasi. Perbedaan kebiasaan, nilai hidup, hingga cara memandang pernikahan sering kali bikin hubungan mertua dan menantu terasa… menantang.
Di sinilah aturan dan batasan sehat dalam hubungan mertua dan menantu jadi sangat penting untuk dibuat dan disepakati bersama. Bukan untuk menjauhkan, tapi justru supaya hubungan tetap hangat tanpa harus mengorbankan kesehatan mental dan keharmonisan rumah tangga.
BACA JUGA: 10 Tips Jadi Mertua Idaman dan Dicintai, Asyik bukan Toxic
Dalam psikologi hubungan, batasan adalah cara kita melindungi kesejahteraan emosional, mental, dan fisik. Batasan membantu seseorang tetap memiliki otonomi dan rasa aman dalam sebuah hubungan, termasuk hubungan dengan mertua.
Penelitian menunjukkan bahwa kualitas hubungan dengan mertua dapat berdampak langsung pada kepuasan dan stabilitas pernikahan. Saat batasan tidak jelas, konflik kecil bisa berkembang menjadi masalah besar yang menggerus hubungan pasangan.
Menurut Dr. Peter Pearson, terapis pernikahan dan pendiri Couples Therapy Inc., pasangan yang mampu menetapkan batasan yang sehat dengan keluarga besar cenderung memiliki hubungan yang lebih kuat karena fokus utama tetap pada pernikahan mereka.

Batasan sehat bukan berarti membatasi kasih sayang, melainkan mengatur keterlibatan agar tidak berlebihan. Mertua tetap bisa hadir dan mendukung, tanpa harus mengontrol atau terlalu ikut campur dalam kehidupan rumah tangga anak dan menantunya.
Dengan batasan yang jelas, menantu tidak perlu merasa bersalah saat menjaga jarak, dan mertua pun memahami perannya dalam keluarga baru yang sedang dibangun.
Psikolog Mert Şeker menjelaskan bahwa batasan emosional penting untuk melindungi diri dan memenuhi kebutuhan emosional. Empati dan batasan berjalan berdampingan: empati memperkuat pemahaman, sementara batasan memastikan setiap individu tetap dihormati. Pendapat ini sejalan dengan Dr. John Gottman, pakar hubungan internasional, yang menyebut bahwa pasangan yang solid adalah pasangan yang mampu melindungi “wilayah emosional” pernikahannya dari tekanan eksternal, termasuk dari keluarga besar.
Beberapa contoh batasan sehat dengan mertua antara lain:
Ada beberapa jenis batasan penting dalam hubungan dengan mertua:
Sebelum menetapkan aturan, ada beberapa langkah penting:
Menurut terapis keluarga Dr. Julie Schwartz Gottman, yang lebih banyak fokus pada terapi pasangan dan keluarga, komunikasi yang tegas namun penuh empati membantu orang lain memahami batasan tanpa merasa diserang.
Berikut batasan yang bisa dibuat dan disepakati demi hubungan yang lebih harmonis:
Supaya hubungan dengan mertua tetap hangat tanpa mengganggu keharmonisan pernikahan, ada beberapa aturan dan batasan yang perlu dibuat dan disepakati sejak awal. Batasan ini bukan untuk membangun jarak, melainkan menjaga hubungan tetap sehat dan saling menghormati.

Setiap pasangan membutuhkan ruang untuk beristirahat, berdiskusi, dan menikmati waktu bersama tanpa intervensi pihak lain. Menghargai ruang pribadi membantu pasangan menjaga kedekatan emosional dalam pernikahan.
Keputusan tentang keuangan, tempat tinggal, pola asuh anak, dan rencana masa depan sebaiknya dibahas dan diputuskan oleh suami dan istri terlebih dahulu. Keterlibatan mertua boleh ada, tapi sebatas masukan, bukan penentu.
Hubungan mertua dan menantu akan lebih sehat jika ada batas jelas soal sejauh mana mereka boleh ikut mencampuri dinamika pernikahan. Terlalu banyak intervensi justru berisiko memicu konflik.
Tradisi bisa menjadi pengikat hubungan keluarga, tapi hanya jika dijalani dengan sukarela. Tradisi yang dipaksakan tanpa kesepakatan justru bisa menimbulkan jarak emosional antara mertua dan menantu.
Masalah rumah tangga adalah ranah pribadi. Membawa konflik ke orang tua atau mertua sering kali memperkeruh keadaan dan membuat pasangan sulit menyelesaikan masalah secara dewasa.
Baik antara pasangan maupun dengan mertua, komunikasi yang sehat berarti berbicara tanpa menyalahkan, merendahkan, atau menyudutkan. Nada bicara dan pilihan kata sangat menentukan kualitas hubungan.
Dalam hubungan keluarga besar, penting untuk tetap menjaga kemandirian. Tidak semua rencana perlu diumumkan melibatkan, dan meminta izin orang tua, selama pasangan saling terbuka dan sepakat.
Bantuan finansial dari mertua boleh saja, tapi harus ada aturan yang disepakati agar tidak menimbulkan rasa sungkan, ketergantungan, atau konflik di kemudian hari.
Masukan dari mertua tentu berharga, tetapi keputusan akhir tentang pengasuhan anak tetap berada di tangan orang tua. Batasan ini penting demi konsistensi dan kesehatan mental orang tua.
Seiring waktu, kondisi keluarga bisa berubah. Batasan yang dibuat bukan sesuatu yang kaku, melainkan bisa dievaluasi dan disepakati ulang sesuai kebutuhan.
BACA JUGA: Agar Rukun dan Bebas Drama, Ini 12 Tips Tinggal Bersama Mertua yang Wajib Dicoba!
Dengan menerapkan batasan-batasan ini, pasangan dapat menjaga hubungan pernikahan tetap kuat sekaligus membangun hubungan yang sehat dan penuh rasa hormat dengan mertua dan keluarga besar.
Cover: Анастасия Триббиани/Pexels