14 Hal yang Saya Sukai Setelah Menjadi Single Mom

Sex & Relationship

fiaindriokusumo・03 Sep 2021

detail-thumb

After all, menjadi single mom ternyata nggak seburuk yang pernah saya bayangkan kok. Nggak percaya? Ini buktinya.

Setiap kali saya mendengar atau mengetahui ada teman atau kenalan yang ingin bercerai, saya selalu meminta mereka untuk berpikir ulang, lagi, lagi dan lagi. Tapi saya juga bukan golongan yang ‘mengharamkan’ perceraian. Karena nggak jarang, perceraian memang bisa jadi adalah jalan keluar terbaik. Walau kadang di awal kita merasa nggak ingin, nggak siap, dan nggak tahu bagaimana menjalani kehidupan sebagai single mom atau single dad ke depannya, tapi hidup kan harus terus berjalan, dan menjalani hidup kalau terus menerus hanya berfokus pada hal sedih, nggak enak rasanya.  Jadilah saya menulis ini :).

Anggaplah tulisan ini adalah penyemangat untuk para single mom (dan single dad) di luar sana. Bahwa ternyata ada hal-hal menyenangkan yang layak kita nikmati dengan status kita sebagai single parent setelah bercerai.

Baca juga:

Parenting Tips Untuk Para Single Dad 

8 Hal yang Saya Sukai Setelah Menjadi Single Mom - Mommies Daily

1. Me Time yang lebiiiiiiiih banyak

Dulu pembagian waktu antara saya dengan ayahnya anak-anak adalah: 4 hari di saya dan 3 hari di ayahnya. Namun setelah pandemi, karena mereka sekolah online, akhirnya pembagian menjadi satu bulan di saya, selanjutnya satu bulan di ayahnya. Jadi, ketika anak-anak bersama ayahnya, itulah waktu saya untuk melakukan apa pun yang saya inginkan. Nonton Netflix, Disney, Mola TV sampai enek di rumah, masak dan makan mi instan, tidur semalam mungkin atau bangun tidur sesiang mungkin, olahraga, dan macam-macam.

2. I have an amazing bond

Saat saya bersama anak-anak, otomatis perhatian mereka hanya ke saya saja, nggak terbagi kepada ayahnya, ahahahaha. Bukan bermaksud egois, tapi saya anggap ini adalah privilege seorang single parent.

3. Kamar mandi menjadi milik saya pribadi :D

Anak-anak memiliki kamar mandi sendiri yang berbeda dengan kamar mandi orangtuanya dulu. Maka setelah berpisah, kamar mandi menjadi ‘kuil' suci saya untuk leyeh-leyeh. Mandi lama-lama, BAB lama-lama, nggak kesal karena melihat pakaian kotor nggak diletakkan di keranjang pakaian, nggak harus ngomel karena tumpahan pasta gigi di wastafel.

4. Saya menjadi pribadi yang lebih fokus pada masa depan

Saya mengatur ulang harapan-harapan dan mimpi-mimpi saya ke depannya. Dan kali ini hanya melibatkan diri saya dan anak-anak. Semakin sedikit pihak yang saya pikirkan, ini membuat saya lebih fokus.

5. Lebih bertanggung jawab urusan finansial

Karena sekarang sudah nggak ada lagi pak suami yang bisa saya todong untuk memberikan tambahan uang jajan, saya jadi lebih hati-hati dan bertanggung jawab untuk urusan finansial. Dan bagi saya ini adalah hal positif dan saya sukai.

6. Sudah pasti menjadi lebih mandiri

Contoh yang paling mudah adalah urusan mobil. Dulu, waktunya mobil diservis, biasanya ayahnya anak-anak yang membuat janji dengan orang bengkel dan membawanya ke sana. Saya tinggal terima beres. Sekarang? Semua saya urus sendiri bahkan hingga mengisi air karburator. Begitu pun dengan printilan lainnya. Susah? Lumayan. Menyenangkan? Iya. Karena ini membuat saya jadi punya nilai tambah di mata anak-anak :p.

7. Bebas berpakaian asal sopan

Prinsip saya, selama pakaian yang saya kenakan nggak membuat malu anak-anak dan sesuai dengan situasi serta kondisi (alias lihat-lihat tempat), maka saya bisa mengenakan apapun yang saya mau. Kalau dulu pakai baju tanpa lengan langsung dapat pelototan dari mantan suami, atau rok sedikiiiit di atas lutut langsung diminta ganti baju, sekarang, saya memiliki kebebasan penuh terhadap hak saya berpenampilan (ciyeeeeeh).

8. Nggak perlu lagi sering-sering berdebat tentang gaya pengasuhan

Hanya ada cara saya, hehehehe. Well, pasti adalah satu dua perbedaan parenting style antara saya dengan ayahnya anak-anak, but at least saat ini perdebatan nggak terlalu sering kami lakukan. Somehow saya merasa setelah bercerai, hubungan saya dengan mantan suami semakin baik, karena kami lebih bisa menahan diri dan fokus kepada kepentingan sekaligus kebahagiaan anak-anak.

9. Welcome my glowing skin and my fit body

Perceraian membuat saya jadi lebih fokus terhadap penampilan, ahahaha, karena menjadi cantik dan sehat adalah pembalasan terbaik untuk membuat mnatan menyesal (lhooo). Skncare semakin rutin, treatment kecantikan juga rutin, apalagi olahraga. Alhasil banyak orang yang bilang, pasca bercerai kulit wajah saya malah terlihat segar dan badan saya juga kencang. Wohooo.

10. Menjadi lebih percaya diri

Status sebagai single parents yang menuntut saya untuk lebih mandiri, lebih menjaga diri malah membuat saya semakin percaya diri. Semoga kalian juga begitu ya.

11. No ribet dan drama dengan mertua

Nggak ada lagi komenan kenapa saya nggak bisa masak, atau kenapa kerja terus, atau kenapa nggak pakai pakaian tertutup, atau kenapa anak kok susah makan, dan seterusnya. Saya lebih damai.

12. Saya semakin menghargai yang namanya hubungan dan pernikahan

Trauma tidak membuat saya malah jadi anti sama hubungan baru atau pernikahan kedua. Namun kegagalan yang pernah saya jalani membuat saya semakin hati-hati di dalam menjalani sebuah hubungan baru, membuat saya menghargai kelebihan dan kekurangan pasangan serta diri saya sendiri.

13. Saya jadi lebih spontan melakukan kegiatan

Sisi kebebasan tanpa ada pasangan membuat saya jadi lebih mudah memutuskan untuk melakukan kegiatan yang saya inginkan, tanpa banyak membuat rencana. Ingin ke cafe? Jalan aja. Mau ke mall? Yuk langsung jalan. Mau liburan, let's go.

14. Lebih mudah menghargai hal-hal kecil yang sederhana

Di sisi lain, kesendirian saya membuat saya jadi mudah mensyukuri hal-hal sederhana yang saya lihat, saya rasakan, saya dengar.

Itu yang saya rasakan sebagai single mom, bagaimana dengan Anda?

Baca juga:

Menjadi Orangtua yang Seru di Tengah Proses Perceraian