Menjadi Orangtua yang Seru di Tengah-tengah Proses Perceraian

Hah? Gimana, gimana? Jadi mama yang seru di saat kita tengah menjalani proses perceraian, memangnya bisa?

Di tengah-tengah saya menjalani proses perceraian dengan suami, saya sempat nggak kepikiran sih bahwa saya tetap bisa menjadi ibu yang seru ketika pikiran lagi mumet-mumetnya dan perasaan juga lagi galau-galaunya. Satu hal yang saat itu menjadi ‘alat bantu’ saya adalah pengingat bahwa yang bercerai itu saya dan suami, bukan kedua anak saya. Jadi apapun yang terjadi, anak-anak tidak boleh mendapat dampak buruk dari perilaku saya.

Ketika proses perceraian berlangsung, saya jadi menyadari betapa kedua anak saya mencoba untuk menyenangkan hati kedua orangtuanya. Mereka tidak mau memilih salah satu dan tidak ingin menyakiti salah satu dari kami. Ini yang kemudian membuat saya bertekad, kalau anak-anak saya saja bisa bersikap cukup dewasa, kenapa saya nggak bisa?

Going through a divorce is stressful for everyone. Untuk saya, suami saya saat itu dan juga anak-anak. Saya nggak ingin menambah memori buruk anak-anak dengan menjadikan saya pribadi yang berbeda di tengah proses perceraian. Biarlah mereka tetap melihat mamanya yang selalu galak untuk urusan belajar dan tanggung jawab rumah, mamanya yang selalu senang ngajak mereka nonton atau mamanya yang hobi menantang mereka main board games hingga UNO.

Maka, walaupun nggak mudah, harus pintar-pintar menekan ego, saya mencoba mempraktikkan 5 hal ini!

Menjadi Orangtua yang Seru di Tengah-tengah Proses Perceraian - Mommies Daily

1. Jangan berbicara jelek tentang pasangan kita di depan anak-anak
Setiap orang yang bercerai, apalagi jika karena perselingkuhan, pasti kalau nurutin hati maunya emosi dan mengeluarkan sumpah serapah. Masalahnya, anak-anak nggak butuh itu semua. Mungkin saya bukan istri yang baik untuk suami saya. Sebaliknya, suami saya bukan suami yang baik untuk saya. Namun dia tetap ayah yang baik untuk anak-anak saya. Begitupun saya adalah mama yang baik untuk anak-anak saya. Itu yang berusaha saya tanamkan.

Mulut udah gatal mau curhat tentang suami? Pernah. Emosi udah diujung tanduk mau marah-marah dengan kelakuan suami? Pernah banget. Solusinya? Curhat sama teman atau psikolog. Tapi jangan ke anak-anak.

2. Jangan ngasih apapun yang diminta anak karena kita merasa bersalah
Merasa bersalah ke anak-anak karena pada akhirnya saya harus berpisah dengan ayah mereka adalah perasaan lain yang timbul di tengah proses perceraian. Daaaaan, ketika rasa bersalah muncul, ada kecenderungan dari diri saya untuk menutupi rasa bersalah itu dengan membelikan anak-anak berbagai macam barang atau apapun yang mereka mau. Ini salah. Saya hanya akan mendidik mereka untuk bersikap manipulatif.

3. Hargai perbedaan pola asuh dengan pasangan
Selama pola asuh yang dianut oleh mantan suami saya tidak terlalu nyeleneh atau membahayakan anak-anak saya, saya mencoba tutup mata dengan perbedaan-perbedaan yang ada. Ya udahlaaaaah. Gitu aja batin saya dalam hati. Toch, ayahnya juga pasti ingin yang terbaik untuk anak-anaknya. Ini juga menjadi pelajaran untuk anak-anak, bahwa meskipun mama dan ayahnya berbeda pendapat, kami bisa tetap bekerja sama dengan baik :D.

4. Jangan lupa bersenang-senang dengan anak
Perubahan yang terjadi sudah pasti tidak terlalu menyenangkan untuk kedua anak saya di awal-awal. Mereka harus melihat orangtuanya berbeda rumah. Mereka harus membagi diri antara bersama mama dan bersama ayah. Mereka butuh pengalihan dari rasa tidak nyaman yang dijalani. Saya pun jadi lebih banyak mengajak mereka jalan keluar rumah, atau bermain di dalam rumah. Apapun yang membuat mereka dapat melupakan sejenak rasa tidak nyamannya.

5. Beri waktu untuk diri sendiri
Emosi yang terkuras, perasaan bersalah yang datang, perubahan status hingga keinginan untuk menjaga perasaan anak-anak yang hadir secara bersamaan sempat membuat saya kehabisan energi. Jadi, pesan saya, luangkan waktu untuk mencintai diri sendiri. Don’t spend time feeling regretful about the past. Saya nggak bisa dan nggak mau memutar ulang waktu untuk menjalani pernikahan yang salah. Namun, saya selalu mengingatkan diri sendiri, kalau apa yang saya lakukan memang keputusan terbaik. I will get through this, and things will get better over time.


Post Comment