Now Reading
Suami Selingkuh di Saat Istri Hamil, Apa Sebabnya?

Suami Selingkuh di Saat Istri Hamil, Apa Sebabnya?

Suami selingkuh di saat istri tengah hamil, kok semacam berkali-kali lipat minta ditampol ya. Kenapa ini bisa terjadi?

Idealnya, kehamilan istri mendatangkan kebahagiaan bagi pasangan yang sudah menikah. Apalagi jika kehadiran si bayi memang sudah dinanti-nanti. Kondisi istri yang sedang hamil semestinya membutuhkan banyak perhatian terutama dari pasangan. Perhatikan deh, ada kata ideal dan semestinya yang saya gunakan di kalimat-kalimat sebelumnya.

Masalahnya, tak semua kondisi bisa berjalan ideal, kan? Makanya, ada aja tuh suami selingkuh di saat istri hamil. Kenapa ini bisa terjadi (ya selain memang si laki-lakinya brengsek)? Ini penjelasan dari Nadya Pramesrani, Psikolog Pernikahan dan Keluarga dari Rumah Dandelion.

Baca juga: Kenapa Perempuan Selingkuh?

Apa sebab suami selingkuh di saat istri hamil?

Ada tiga jenis suami yang bisa ditemui ketika istri hamil, yaitu:

  • Suami yang semakin tertarik dengan istrinya yang sedang hamil
  • Suami yang jadi low sex desire dan low risk of cheating. Beberapa penelitian mengatakan bahwa pria yang memiliki kadar prolaktin lebih tinggi daripada testoterone bisa mengalami gejala-gejala seperti yang dialami ibu hamil. Nah, laki-laki dengan kondisi seperti ini akan masuk ke dalam kategori kedua.
  • Suami yang mau selingkuh atau kepikiran untuk selingkuh. 

Kalau ditanya sebabnya, ada macam-macam, namun yang paling sering terjadi karena suami tidak mendapatkan hubungan seks yang memuaskan dari istrinya. Apalagi kadang kan kondisi kehamilan memang membuat istri jadi menurun tingkat libidonya.  Sesungguhnya, kondisi isi tidak selalu karena isu seks sih.

Masalah lainnya, karena suami merasa ditolak dan/atau merasa diabaikan. Bagi laki-laki, seks itu tidak melulu untuk pemenuhan kebutuhan fisik, lho!  Tapi juga cara dia untuk membangun emotional connectedness dengan pasangannya. Nah, begitu ditolak, tidak sedikit suami yang kemudian merasa kosong, tidak dihargai, tidak dibutuhkan, dll.

Terkait left out-nya, karena seringkali di masa kehamilan, fokus hanya pada si ibu dan si janin. Bapak tuh kayak out of the picture aja gitu, atau sidekick doang. Ini biasanya menimbulkan ketakutan dan rasa tidak aman.  Maka terbukalah pintu untuk perselingkuhan.

Ada tanda-tanda nggak?

Secara umum sih sama saja seperti perselingkuhan yang terjadi di masa non kehamilan. Perubahan perilaku, waktu di luar rumah jadi lebih lama, lebih sensitif dan uring-uringan, perubahan penampilan, jadi sulit dihubungi hingga pengeluaran finansial yang aneh.

Baca juga: Pasangan Selingkuh, Alasan dan Tanda-tandanya Menurut Psikolog

Bagaimana tindak pencegahannya?

Point ini yang paling penting! Libatkan suami dalam masa kehamilan hingga dalam persiapan kedatangan si anak. Jangan mengecilkan suami dengan misalnya, mengatakan “Ah tahu apa sih kamu!”. Ya belajar sama-sama dong kalau memang nggak tahu.

Suami juga punya kekhawatiran dan keraguan untuk menjadi bapak dan mengemban tanggung jawab berikutnya, maka afirmasi dan yakinkan terus bahwa ia akan menjadi bapak yang baik.

Maintain hubungan seks, kecuali sama dokter dilarang karena bisa membahayakan janin, ya! Kenali seksualitas diri, kalau memang mengalami lowered libido, apa yang bisa dilakukan atau kita butuhkan dari suami untuk bisa berhubungan seks dengan nyaman dan memuaskan. 

Overcome any feeling of bodily dissatisfaction. You are changing and it’s beautiful. Ada penelitian yang menunjukkan bahwa laki-laki merasa semakin tertarik secara fisik kepada istrinya ketika sedang hamil.

Perselingkuhan aja kan sudah menyakitkan ya, apalagi terjadi di masa kita hamil, semacam sakitnya double-double. Apakah bisa membaik?

Bisa saja, but like any other affairs, dibutuhkan komitmen serta usaha kedua belah pihak untuk memproses sakit hati dan luka akibat perselingkuhan tersebut, lalu membangun kembali dasar-dasar hubungan yang kuat dan berkualitas.

Baca juga: Terapi Pasangan, Apa Manfaatnya?

Jika memutuskan untuk bertahan, apa yang harus dilakukan?

Sudahi perselingkuhan yang terjadi, pelaku meminta maaf dan tunjukkan penyesalan yang tulus, dan usaha untuk memperbaiki ini butuh waktu serta pengulangan ya, nggak bisa hanya satu atau dua kali jadi beres semuanya.

Pihak yang diselingkuhi mau untuk memproses rasa sakit hatinya, jangan malah menghindari.  Kalau memang butuh marah ya marah, kalo butuh sedih ya sedih, butuh kecewa ya kecewa, jangan berlagak tidak kenapa-kenapa. Memang ini kan menyakitkan. Kalau emosi-emosi negatif ini mau diproses, akan bisa mereda pada waktunya.

Baca juga: 11 Hal yang Pelan-pelan Menghancurkan Pernikahan

View Comments (0)

Leave a Reply

© 2020 MOMMIES DAILY ALL RIGHTS RESERVED.

Scroll To Top