Pasangan Selingkuh, Apa yang Harus Dilakukan?

Ketika pasangan selingkuh, bolanya ada di tangan kita. Mau lanjut dan memaafkan, atau ….

Gara-gara Jessica Jane yang diselingkuhi Ericko Lim, tagar selingkuh jadi trending di Twitter, beberapa waktu lalu. Hadeh, saya kok, merasa tua ya. Karena nggak kenal sama dua-duanya. Terlepas dari perselingkuhan Ericko, masalah selingkuh memang seksi untuk dibahas. Menurut survey JustDating 2019, sebanyak 40% orang Indonesia pernah selingkuh. Tentunya soal selingkuh ini adalah topik yang selalu seru (kalau menyangkut skandal orang), yang banyak dibahas di drakor dan status IG Lambe Turah :p. Tapi, kalau dialami sendiri, waduh….!

Perselingkuhan -serapi apa pun ditutupi- selalu punya ‘aroma’ yang khas. Mungkin faktor intuisi yang tajam juga berperan. Sedikit perubahan gelagat dari pasangan, bisa membawa kita pada petunjuk untuk membuka kotak pandora. Pada saat kita menikah, perselingkuhan tak pernah masuk dalam kamus rumah tangga. Tapi, siapa yang bisa menjamin sebuah pernikahan steril dari masalah klasik ini. Entah karena faktor pelakor atau bukan, ketika pasangan selingkuh, bagaimana harus bereaksi?

Baca juga:

Pasangan Selingkuh: Alasan dan Tanda-tandanya

Pasangan Selingkuh, Apa yang Harus Dilakukan?  - Mommies Daily

Mencerna kenyataan saat pasangan selingkuh

Zaman pacaran, tahu pacar selingkuh, rasanya dunia runtuh. Baru pacaran saja segitu sedihnya. Tidak kebayang, yang sudah hidup berumah tangga bertahun-tahun. Lalu saya ingat teman kantor yang dulu. Sosoknya tegar banget. Meski rumah tangganya sedang gonjang-ganjing karena diselingkuhi, tak pernah sedikit pun kesedihan tampak. Ia kerja seperti hari-hari biasa. Ada orang-orang yang tidak pernah menunjukkan ekspresi. Sedih, senang, semua tampak datar saja. Kalau menurut saran ahli psikologi klinis, Piper S. Grant, sebaiknya kita memberi ruang dan waktu untuk sekadar berada dalam emosi dan merasakannya. Segala emosi perlu dikenali dan diekspresikan. Kalau perlu menangis, ya nangis.

Menemukan zona aman

Dalam novel yang belum lama saya baca, berjudul The Forty Rules of Love, saat menghadapi perselingkuhan suami, Ella menemukan zona aman lewat pelariannya pada masak memasak. Bikin roti, menu makan yang komplit dan seenak mungkin. Dia menghias meja makan bak rumah di majalah interior. Ada orang-orang yang pelariannya ke pekerjaan. Jadi sibuk kerja, dan cari alasan menunda pulang. Ada yang lari ke hobi. Ada juga yang pelariannya dengan cara…balas selingkuh! Hihihi…seperti teman saya M. Dia punya affair setelah sakit hati dengan affair suaminya. Tapi, affairnya sempat keterusan, sampai-sampai saya ikut deg-degan mengikuti kisahnya. Takut saja kalau dia kena karma. Pelarian memang bukan solusi, tapi buat sebagian orang, pelarian adalah zona aman sementara, tempat kita mengembalikan kewarasan, sampai pada waktunya untuk mengambil keputusan yang diperlukan. Dan dalam kasus M, perselingkuhannya telah menyelamatkan perkawinan mereka. Setidaknya M jadi lebih tough dan cool dalam relasinya dengan suami. Tapi, jangan ditiru, ya!

Konfrontasi dan kejujuran

Istilah halusnya diskusi dan komunikasi. Setelah menyiapkan mental dan menata batin, saatnya menghadapi pasangan dan memberinya hak jawab. Kalau ia denial, siapkan bukti-bukti pendukung untuk memperkuat tuduhan Anda. Tentunya diskusi ini akan memakan beberapa tahap. Lagipula, untuk sampai pada fase ini, Anda juga sudah harus bersiap dengan kemungkinan terburuk. Seperti kisah ‘layangan putus’ yang tahun lalu sempat viral, yang endingnya si suami memilih istri barunya.

Tidak menyalahkan diri

Ada jenis pria (orang) yang sangat mahir memanipulasi kata-kata hanya demi menyakiti hati pasangannya. Dia yang selingkuh, lalu seolah kesalahan itu ditimpakan ke kita. Novel The Girl on The Train, contohnya (yang sudah difilmkan juga). Hal yang sama pernah juga dialami teman saya. Ia merasa bersalah, karena terlalu sibuk fokus dengan anaknya yang berkebutuhan khusus sehingga suami terjerat perempuan lain. Yang jelas, perselingkuhan tidak bisa dibenarkan dengan alasan apa pun.

Baca juga:

6 Kebiasaan Sepele Rusaknya Hubungan Suami Istri

Saatnya mengevaluasi opsi Anda

Setelah masa ‘drama’ dan emosinya sudah lewat, Anda tak bisa terus-terusan tutup mata dan seolah tak pernah terjadi apa-apa. Bolanya ada di tangan Anda. Mau lanjut dan memaafkan, atau ….

Baca juga:

Pesan Untuk Mereka yang Sedang bertahan Dalam Toxic Relationship

 


Post Comment