Kenapa Saya Membicarakan Tentang Siapa yang Meninggal Duluan dengan Suami?

Ini cara saya mempersiapkan skenario terburuk yang (mungkin) terjadi pada rumah tangga kami.

Membicarakan Tentang Siapa yang Meninggal Duluan dengan Suami - Mommies DailyImage: by taylor hernandez on Unsplash

Ketika membaca kabar Ashraf Sinclair meninggal 18 Februari 2020 lalu, saya jadi teringat, satu topik obrolan saya dan suami yang mungkin untuk sebagian orang tabu, atau bahkan dihindari. “Apa sih, kan sama-sama masih hidup, kok udah ngomongin kematian?”  

Baca juga: Pernikahan Sulit dan Menakutkan, Benarkah?

Tidak bermaksud mendahului takdir, mengingat manusia hanya bisa berusaha, tapi Tuhan juga menentukan, jadilah saya memilih membicarakan soal perpisahan dari berbagai versi. Ditinggal meninggal, atau bercerai.

Bicara soal perpisahan, ya siapa sih yang mau berpisah dengan pasangan, jika semuanya baik-baik saja? Apalagi ketika ditinggal partner hidup untuk selama-lamanya, ngebayanginnya saja, air mata saya sudah berkaca-kaca. Belum lagi persoalan teknis rumah tangga, yang tadinya dikelola berdua, jadi tinggal sendiri? ☹. Mungkin beberapa saat, perasaan yang muncul dunia runtuh. Nggak tahu langkah selanjutnya yang harus diambil apa saja dan bagaimana.

Hal-hal teknis semacam ini yang kami bahas, seperti: nanti anak dititip sama siapa, selama orangtua kerja? Bagaimana soal biaya hidup? Karena selama ini operasional hidup yang kami jalani datang dari dua pos. Jika salah satu berpulang, pastil ada penyesuaian di sana sini.

Selanjutnya, soal pemulihan duka masing-masing. Bagaimana kami mengobati rasa kehilangan? Ini penting, karena masih ada anak yang butuh kehadiran ayah atau ibu di sampingnya. Saya nggak mau, jika salah satu dari kami berpulang, anak tidak terurus dengan baik, karena terlalu lama tenggelam pada rasa duka.

Baca juga: Mindset Wajib dalam Pernikahan: Sebagai Suami Istri, Kita Adalah Satu Tim!

Saya wanti-wanti, jika butuh teman bicara, datanglah pada seseorang yang kamu percaya, menampung semua kesedihan kamu, hingga terasa lega dirasa. Bahkan kalau membutuhkan bantuan pakar, jangan segan menemui psikolog. Tidak baik memendam beban hidup sendirian. Anak masih butuh salah satu dari kami sebagai tempat berlindung, hadir dalam keadaan sehat jiwa dan raga.

Langkah konret lainnya yang akan saya lakukan adalah membagi semua password kartu dan mengumpulkan dokumen-dokumen penting terkait beberapa produk investasi dan asuransi yang kami miliki. Mengingat semua saya yang urus, nggak mau dong, di kemudian hari ketika saya yang lebih dulu berpulang, suami clueless soal ini. Yang harusnya benefit asuransi (misalnya), bisa cepat diurus untuk anak, malah tertunda.

Hal di atas terinsipirasi dari kisah orangtua dari teman saya yang meninggal. Sang Alm Ayah, menyimpan rapih semua password dan data-data lainnya yang istrinya butuhkan dalam satu buku, untuk situasi urgent. Jadi nggak ada cerita, pas dirinya meninggal, anak istrinya kesulitan mengurus semua hal yang berkaitan dengan perbankan.

Selanjutnya kami membicarakan soal nilai-nilai yang soal kehidupan dan pendidikan, yang selama ini sudah kami terapkan ke si kecil. Nah, values itu harus tetap berjalan, meski satu di antara kami sudah tidak ada. Sekalian eveluasi dan memastikan lagi kami sepaham atas visi dan misi membesarkan anak, kelak ingin anak menjadi manusia seperti apa?  

-

Huuffthh, kehidupan orang dewasa memang sepelik ini, ya, mommies. Sampai urusan meninggal, sudah dibicarakan di awal. Daripada menyesal kemudian, lebih baik plan the unplanned, kan?

Baca juga: Youtube Channel Ussy & Andhika: Ajarkan Saya 12 Value Penting Tentang Pernikahan


Post Comment