Saat Pernikahan Malah Menjadi Racun

Saya pernah terlalu menutup mata, mencoba meyakinkan diri bahwa pernikahan saya baik-baik saja. Padahal ternyata, saya sedang menjalani sebuah pernikahan yang disebut dengan Toxic Marriage.

Saat pertama kali mendengar kalimat Toxic Marriage, ada tiga tahapan reaksi yang saya lakukan:

1. Denial. Merasa bahwa Toxic Marriage bukanlah pernikahan yang saya alami saat itu.

2. Penasaran dan mencari tahu, seperti apa sih Toxic Marriage.

3. Menerima dan mengakui, bahwa memang pernikahan saya saat itu masuk ke dalam kategori Toxic Marriage.

Kenapa pada akhirnya saya menerima dan mengakui? Karena ternyata, pernikahaan saya waktu itu memiliki beberapa dari tanda-tanda berikut ini:

Oh iya, pesan saya jika mau membaca tulisan ini adalah jujur pada diri sendiri!

Saat Pernikahan Malah Menjadi Racun - Mommies Daily

1. Saya menjadi cengeng, hobi menangis dan selalu sedih
Suatu saat saya pernah baca kicauan di twitter yang menuliskan “Kalau dalam menjalani sebuah hubungan, kita menghabiskan terlalu banyak waktu untuk menangis, coba tanya ke diri kita sendiri, apakah kita sedang menjalani hubungan dengan manusia atau sama bawang merah?”

Itulah yang saya alami. Selalu menangis di mana pun saya berada, mau itu di kantor, di rumah, saat sedang menyetir atau bahkan saat di depan anak-anak, dan merasa tidak happy dengan kondisi rumah.

2. Sibuk saling menyalahkan satu sama lain
Saya maupun suami memang manusia tidak sempurna, sudah pasti sering berbuat salah, apalagi dalam pernikahan. Tapi kalau tidak ada satu pun yang saya lakukan dinilai benar oleh pasangan, menerima kritikan terus menerus, sampai saya merasa bahwa saya selalu salah, ini salah satu tandanya.

3. Menciptakan kebohongan tentang hubungan kami di depan banyak orang
Mungkin karena saya diajarkan untuk jangan mengumbar aib keluarga, jangan mengumbar aib pasangan, bahwa begitu keluar dari pintu rumah maka tidak perlu segala masalah diceritakan, saya jadi terbiasa mengucapkan kalimat “Nggak kok, gue baik-baik aja sama suami gue.” Namun begitu mama dan beberapa saudara saya bertanya, saya tahu kalau pernikahan saya bermasalah. Lah, secara orang luar saja bisa melihat dengan jelas.

4. No sex anymore
Buat saya, seks adalah salah satu pengikat yang kuat dalam sebuah hubungan suami istri. Maka, ketika intensitas hubungan seks dengan pasangan mulai macet, tidak lagi bergairah, sampai lupa kapan terakhir kali berhubungan…… maka saya harus mengakui memang kami sedang bermasalah!

5. Kita semakin tenggelam dengan pekerjaan atau bergaul dengan teman-teman
Pulang ke rumah menjadi beban untuk saya. Jalan keluarnya? Saya membuat banyak janji temu dengan berbagai macam lingkungan pertemanan. Mulai dari selasa hingga jumat. Sabtu dan Minggu fokus sama anak-anak. Nggak ada waktu bersama pasangan.

6. Sering memikirkan tentang perceraian
Aneh memang, meskipun masih di dalam ikatan pernikahan, namun saya sering sekali membayangkan jika bercerai dengan suami. Apa yang akan terjadi, bagaimana dengan anak-anak, dengan siapa mereka akan tinggal dst. Dan bayangan tentang perceraian bukan lagi menjadi hal yang menakutkan, sebaliknya, menjadi hal yang menyenangkan.

7. Kapan terakhir kali saya merasa bahagia dengan pernikahan saya?
Dan saya tidak bisa menjawabnya karena ingatan tentang rasa bahagia dalam sebuah pernikahan sudah lama hilang. Saya bahkan mulai lupa bagaimana rasanya disayang atau menyayangi pasangan. Seperti apa diperhatikan dan memerhatikan. Inilah saatnya saya mencoba ‘istirahat’ sebentar dari hubungan saya dan pasangan, untuk mencari tahu, whether this relationship is helping me…or hurting me.
No relationship is perfect…… saya paham sekali ini.

Namun, satu hal yang wajib kita lakukan, kalau memang banyak tanda-tanda di atas terjadi dalam pernikahan kita, apakah bertahan menjadi jalan terbaik untuk kesehatan kita secara emosi dan fisik?? Hanya kita yang paling tahu jawaban sebenar-benarnya, asalkan kita berani jujur pada diri sendiri.

Pertanyaannya sekarang….

Beranikah kita jujur?


Post Comment