Nah Lho, Ternyata Diet Ketofastosis Tidak Disarankan Ahli Gizi

Di balik diet ketofastosis yang tengah booming dan dilakukan banyak masyarakat, termasuk kakak pertama saya dan beberapa teman di kantor,  ternyata diet ini justru tidak disarankan oleh ahli gizi….. jeng…..jeng…..

“Dis, nggak mau coba diet keto? Katanya mau nurunin berat badan? Berat badan teteh udah lumayan turun, lho…. lagian, diet keto nggak cuma nurunin berat badan, kok, tapi juga bikin metabolisme tubuh jadi lebih baik,” ujar teteh, kakak pertama saya yang menjalani diet ketofastosis beberapa bulan belakangan ini.

Ya, ya, ya…. hari gini, siapa sih yang nggak tahu soal diet yang satu ini? Salah satu pilihan diet yang fokus pada pola makan rendah karbohidrat, tinggi lemak, dan protein sedang. Terus terang saja, kalau soal perdietan, saya memang nggak pernah ikut-ikutan.

Mulai dari diet mayo, diet paleo, diet alkaline, clean eating, hingga metode Diet OCD (Obsessive Corbuzier’s Diet) yang diperkenalkan oleh Deddy Corbuzier, nggak ada satupun yang saya ikutin. Bukannya nggak mau kurus dan punya body yang aduhai, tapi sejauh ini saya memang masih berusaha untuk menjalankan pola makan yang seimbang saja. Ini saja, sebenarnya masih susah bukan main.

Baca juga : Diet Mayo, Dari Review Hingga Resep 

Baca juga : 5 Hal yang Harus Dipatuhi Saat Diet Mayo

Seperti yang sudah pernah ditulis dalam artikel Diet Ketogenik, Benarkah Bisa Menurunkan Berat Badan dengan Sehat?  Ahli gizi, dr. Luciana, SpGK menerangkan lebih detail lagi kalau diet ketogenik ini pola makan dengan asupan karbohidrat rendah, yaitu hanya 5 persen, dan dengan asupan lemak tinggi, antara 50 sampai 75 persen.

diet ketofastosis -mommiesdaily

Sementara idealnya, pembagian asupan zat gizi makro ini sebaiknya karbohidrat 60 persen, protein 15 persen dan lemak 25 persen dari total kebutuhan kalori. Pembagian ini berdasarkan fisiologi tubuh. Dalam jumlah yang ideal tersebut, tubuh bisa menerima dan memanfaatkan zat gizi yang masuk ke dalam tubuh.

Nah, beberapa waktu lalu saya berkesempatan bertemu dengan ahli gizi lainnya, Dr dr Samuel Oetoro, MS, SpGK(K) yang menjelaskan mengenai soal diet keto ini. Ia menyebutkan kalau ternyata diet keto ini tidak disarankan para ahli karena banyak risikonya.

Begitu mendengar penjelasannya, saya malah makin penasaran. Kenapa, ya, diet ini tidak direkomendasikan oleh ahli gizi? Bahkan spesialis Gizi Klinik ini juga mengatakan kalau seseorang yang melakukan diet ketogenik justru sangat sulit untuk menurunkan berat badan. Hal ini dikarenakan pola makan yang dianut justru tidak seimbang.

“Orang yang melakukan diet ketogenik rata-rata berat badannya tidak turun. Begitu juga kondisi tubuhnya mengeluarkan banyak air,” ujar dr Samuel.

Padahal katanya, sebenarnya tubuh ini membutuhkan asupan makanan yang seimbang. Mulai dari karbohidrat, lemak, serat, protein, hingga mineral. Sedangkan diet ketogenik ini justru  hampir tidak makan karbohidrat. Setidaknya, karbohidrat yang disarankan adalah karbohidrat kompleks, minimal 12 gram sehari.

“Kalaupun berat badannya bisa turun sebenarnya diet keto itu hanya menyusutkan kadar air dalam tubuh. Air dalam tubuh kita itu fungsinya mengikat karbohidrat. Tetapi, ketika tidak ada asupan karbohidrat, maka air akan dilepaskan karena tidak mengikat apa-apa, ujar konsultan gizi dari MRCCC Siloam Hospital Semanggi ini.

Lalu apa saja risiko lainnya?

Kalau ngomongin risiko, ternyata diet keto ini berisiko membuat kita jadi lemot dan bikin stress, lho. Kok, bisa?

Menurut Dr. Samuel  hal yang menyebabkan fungsi otak tidak bekerja dengan maksimal dikarenakan kurangnya asupan karbohidrat.  Mau tidak mau hal ini akan memengaruhi daya tangkap orang yang sedang menjalani diet minim karbohidrat akan membuat otak jadi lambat berpikir. “Otak bisa jadi lemot, karbohidrat itu kan nutrisi untuk otak, ketika karbohidrat dikurangi, artinya mengurangi asupan nutrisi ke otak,” terang Dr. Samuel.

Nggak cuma itu saja, lho, Dr dr Samuel Oetoro, MS, SpGK(K) juga menjelaskan kalau diet keto juga bisa menyebabkan seseorang mengalami stres. Alasannya sama, saat tubuh kekurangan karbohidrat otak tidak dapat bekerja dengan optimal sehingga membuat orang mudah stres.

“Diet rendah karbohidrat itu bikin stres. Karena otak kita bekerja perlu karbohidrat. Stres itu kan bisa terjadi saat sel otak kekurangan energi. Sehingga seseorang yang menjalani diet rendah lemak akan lebih sulit berpikir dan lebih emosional”.

Bahkan, dr. Samuel sempat bercerita kalau pelaku diet keto ini berisiko mengalami stroke dan serangan jantung karena kekurangan karbohidrat. Pelaku diet keto lebih banyak mengasup lemak sedangkan karbohidratnya tidak ada. “Jadi, kalau diserap dalam tubuh akan menjadi trigliserida, bisa memicu sumbatan stroke bahkan serangan jantung kalau jumlahnya tinggi. Jadi diet keto jangan dilakukan,” paparnya.

Untuk itulah dr. Samuel mengingatkan kita kalau yang terbaik itu adalah menjalankan pola makan yang seimbang. Kalau memang ingin diet, idealnya memang dilakukan secara bertahap dan lewat pemeriksaan medis lebih dulu.


Post Comment