6 Hal yang Dilakukan Professional Working Mom di Social Media

Jangan kebanyakan nyimak berita terbaru di akun Lambe Turah atau Mak Nyinyir sampai lupa menciptakan profil kita sebagai professional working mom di social media.

Kalau saya berhitung tentang kebiasaan saya menatap layar smartphone di tahun 2016 kemarin, kayaknya sih ada deh sekitar 4 jam per hari waktu yang saya habiskan untuk bermain social media. Selain memang salah satu job description itu ngurusin social media, di sisi lain saya senang mencari berita dan juga gosip terbaru melalui socmed, hahaha.

Tapi tahun ini, ada sedikit ‘perbaikan gizi’ yang ingin saya lakukan dalam mengonsumsi social media. Urusan pekerjaan tentu saja tetap berjalan (kecuali saya udah bosan terima gaji, hahaha), urusan gosip juga masih namun porsinya saya kurangin jauuuuuh. Nah, yang terbaru adalah, saya ingin memperbaiki citra diri (du.i.leh) sebagai seorang professional working mom yang paham apa yang mesti dilakukan di social media. Karena setelah saya baca-baca, katanya, seorang pekerja profesional biasanya melakukan 5 hal ini:

Baca juga:

Yang Dipelajari Rekan Kerja Pria dari Para Ibu Bekerja

6 Hal yang Dilakukan Professional Working Mom di Social Media

1. Memiliki akun social media yang khusus untuk mewakili citra mereka dalam dunia kerja

Di tempat saya bekerja dulu, karyawannya diharuskan memiliki akun social media yang berbeda dengan akun pribadi. Jadi kalau akun pribadi isinya penuh hal-hal sentimental, konyol atau bahkan bodoh :D, nah yang satu lagi benar-benar mewakili sosok kami sebagai pekerja. Namun, jujur saja kalau saya cukup kesulitan melakukannya. Akhirnya solusinya, saya mencoba menjadikan social media cukup netral dan berhati-hati. Tetap menunjukkan sisi saya sebagai seorang ibu bekerja yang profesional (melalui profile picture yang ‘normal’, nama yang nggak neko-neko, postingan yang tidak terlalu bombastis, aktif menginformasikan tentang kegiatan saya di kantor) namun juga tidak melupakan sisi saya sebagai seorang istri, ibu, teman dan warga negara.

2. Jika isi akun social media terlalu provokatif, mereka memilih setting privacy hanya untuk teman-teman saja

Salah satu contoh paling mudah adalah saat Pilkada begini. Wohoooo timeline social media (terutama Facebook dan Twitter) rameee banget ya kan. Nah, selama kita masih bisa menyampaikan aspirasi atau menunjukkan pilihan kita dengan baik, ya nggak masalah. Namun kalau bawaannya udah mau marah-marah, berkata kasar (banyak yang seperti ini), lebih baik setting privacy hanya untuk teman-teman yang ada di friendlist kita.

3. Memastikan social media mereka ‘bersih’ dari urusan di luar pekerjaan

Ini yang sulit dilakukan kalau hanya memiliki satu akun. Karena bagaimanapun social media itu merefleksikan siapa diri kita secara personal, dan satu atau dua postingan yang tidak sesuai dengan ‘standar’ calon atasan atau calon perusahaan bisa membuat kita kehilangan kesempatan. Beberapa hal yang membuat calon perusahaan batal merekruit calon karyawan adalah ketika mereka melihat postingan berbau pornografi, alkohol yang berlebihan, SARA, atau bullying terhadap teman kita di social media.

Baca juga:

Aplikasi Mobile untuk Para Mompreneur

4. Selalu memperbarui informasi di Linkedln

Saya sendiri membuktikan bahwa dari LinkedIn saya sempat mendapatkan sekitar 3 hingga 4 tawaran pekerjaan. Jadi, kalau kita bisa berkali-kali nulis status di FB atau posting Boomerang photo di IG, jangan lupakan juga merevisi LinkedIn dengan informasi terbaru dan foto yang keceh :D.

Baca juga:

CV yang Dilirik HRD Seperti Apa?

5. Rutin memposting kegiatan di luar bekerja yang bisa menambah nilai di mata perusahaan

Kegiatan di luar bekerja di sini misalnya kayak menjadi volunteer untuk kegiatan tertentu, berpartisipasi dalam charity atau kegiatan amal lainnya. Saya pernah mendapat tawaran dari sebuah brand makanan hewan karena mereka melihat postingan saya tentang anjing-anjing terlantar yang membutuhkan bantuan (iya… sesederhana itu.)

6. Tetap menunjukkan sisi menyenangkan dari diri mereka

Nggak ada salahnya kita memposting saat sedang makan siang bareng rekan kerja, atau saat sedang kumpul-kumpul after office hour. Di sini kita menunjukkan bahwa meskipun kita profesional namun bukan berarti kita adalah pribadi yang kaku sekaku kanebo kering *__*. Bahwa kita bisa berinteraksi dengan baik dengan teman-teman di kantor.

Nah, sudah melakukan 6 hal di atas?

Baca juga:

Yang Bisa Kita Pelajari dari Rekan Kerja Pria


Post Comment