Once a Cheater Always a Cheater?

Perpisahan Angelina Jolie dan abang Brad Pitt mengangkat kembali ‘derajat’ kalimat once a cheater always a cheater di ranah social media. Benarkah kalimat itu?

once a cheater always a cheater

Baiklah, saya membuat pengakuan terlebih dahulu, kalau dari dulu saya nggak pernah suka sama pasangan fenomenal ini, Brad dan Angelina yang disingkat menjadi Brangelina. Buat saya, sebuah hubungan yang dimulai dengan mengambil milik orang lain (dalam kasus ini mengambil Brad dari Jennifer) bukanlah sebuah hubungan yang layak dikagumi. Sebegitu nggak percaya dirinya kah kita, sampai harus mengambil laki-laki yang sudah menjadi suami orang? Segitu nggak pede-nya kah kita sampai takut untuk mencari laki-laki single di luar sana?

Bicara tentang perselingkuhan, saya memiliki 2 sahabat dari lingkungan yang berbeda-beda, yang menjalani pernikahan diawali dari sebuah perselingkuhan. Dan sekarang? Satu pernikahan sudah bubar jalan, dan yang dua lagi dipenuhi dengan pertengkaran demi pertengkaran.

Saat kita pada akhirnya menikah dengan selingkuhan kita, percayalah, sepanjang pernikahan yang akan kita jalani, hati kecil kita akan diliputi perasaan khawatir. Khawatir kalau-kalau hal yang sama akan terjadi pada pernikahan kita. Saat sahabat saya akan menikah dengan selingkuhannya, satu pertanyaan yang saya ajukan “Apa lo yakin dia tidak akan melakukan hal yang sama saat sudah menikah dengan elo nanti?” Kalau dia bisa meninggalkan isterinya demi sahabat saya, maka dia juga bisa meninggalkan sahabat saya demi orang lain. As simple as that.

Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Rutgers University, 56 persen dari para pria dan 34 persen dari perempuan yang berselingkuh pada dasarnya masih memiliki rasa cinta pada pasangan yang diselingkuhi. Lalu, apa dong yang membuat mereka akhirnya tetap selingkuh? Menurut April Masini, Relationship Expert, karena rasa tidak puas yang mereka miliki. Mereka akan selalu mencari apa yang tidak bisa mereka peroleh di dalam pernikahan mereka. Entah itu urusan finansial, seksual atau apa saja. Nah, rumit kan, dealing dengan orang semacam ini?

Tapi, ada teman saya yang mengatakan kalau saat terjadi perselingkuhan, bukan hanya satu pihak yang bersalah, karena pihak lain pasti ada andil sehingga terjadilah perselingkuhan. Hmmm, saya nggak setuju nih dengan pendapat ini. Buat saya, kalau memang, let say, kita merasa bahwa pernikahan kita sudah tidak bisa diperbaiki, ya pisah saja, karena perselingkuhan tidak akan memperbaiki namun hanya menambah buruk keadaan.

Saya lebih menghargai mereka yang berani mengambil keputusan untuk selesai, dibanding mereka yang berpisah nggak mau, namun malah selingkuh. Ini namanya kurang ajar tingkat dewa, ahahaha.

Saya setuju dengan pendapat dari Monica Parikh, Dating Expert sekaligus founder dari School of Love NYC yang mengatakan “I teach women that how you get him is how you lose him.”

Jadi, marilah kita belajar untuk menghargai sebuah pernikahan, menghargai pasangan kita dan menghargai diri kita sendiri. Karena perselingkuhan hanya menunjukkan kualitas diri kita yang sebenarnya seperti apa :).


One Comment - Write a Comment

  1. adiesty

    “Karena perselingkuhan hanya menunjukkan kualitas diri kita yang sebenarnya seperti apa” #jleb banget ini… jadi takut mau selingkuh, hahahahahaa…

    Eh, tapi yaaa…ada juga lho, temen gue yg selingkuh cuma dengan alasan iseng, sekedar penasaran dan ingin tahu… plus buat meyakinkan dirinya, apakah dia masih cinta apa nggak dengan suaminya. Umh… iseng, kok, selingkuh… bayarannya mahal banget, yak! Tp gue rasa, sih, pasti ada alasan di balik itu :D

Post Comment