4 Pelajaran Hidup yang Sering Lupa Diajarkan pada Anak

Mengajarkan anak bersikap baik memang perilaku ideal yang harus dikenalkan sejak dini. Tapi tahu nggak, sih, kalau sebenarnya ada pelajaran lain yang perlu kita ajarkan pada anak-anak agar mereka bisa punya sumber kekuatan dalam menjalani hidup?

Kalau ada yang bilang punya anak perempuan lebih sulit dan banyak sekali tantannganya, saya, sih, kurang setuju, ya.  IMO, punya anak laki-laki dan perempuan sama-sama ‘berat’ dan banyak tantangannya. Yang jelas, menanamkan kebiasaan sikap yang baik tentu saja perlu dimulai sejak dini. Mulai dari mengajarkan anak untuk punya kecerdasan emosi, belajar agar bisa berempati, dan masih banyak PR orangtua lainnya.

pelajaran hidup

Beberapa waktu lalu, saya sempat menulis mengenali 6 hal yang harus diajarkan ayah pada anak lelakinya. Sementara Fia, juga sudah menulis artikel berjudul ‘Untuk Para Ibu yang Memiliki Anak Laki-laki’ dan ‘Untuk Para Ayah yang Memiliki Anak Perempuan’. Sudah baca artikelnya?

Belum lama ini saya sempat kumpul bersama teman-teman dekat. Seperti biasa, topik yang kami bicarakan tentu nggak jauh dari masalah anak. Waktu itu ada salah satu teman yang bilang, “Membesarkan anak zaman sekarang ini kayaknya makin sulit, deh. Dunia rasanya lebih  kejam. Meskipun rasanya sudah banyak kebiasaan dan pelajaran yang gue ajarkan ke anak, tapi semua itu rasanya belum cukup”.

Aaah, saya setuju sekali dengan komentar teman saya ini. Waktu itu kami pun lantas sama-sama berpikir, apakah selama ini kami sudah mengajarkan semua basic life skills? Saya dan teman-teman akhirnya menyimpulkan kalau ada beberapa pelajaran hidup yang perlu diajarkan pada mereka.

  • Dalam hidup, semua orang akan berbeda.

Semua orang tentu saja menjadi pribadi yang unik, satu sama lain nggak anak pernah sama. Hal inilah yang perlu ditekankan dan perlu diketahui oleh anak-anak. Untuk itulah saya masih terus belajar untuk mengajarkan pada Bumi, kalau tidak semua orang akan seperti dirinya, dan jangan pernah berharap kalau semua orang akan menyukai dirinya juga. Buat saya, sih, sebagai orangtua saya perlu mendiskusikan hal ini, tentuya dengan contoh yang konkrit dan dengan kalimat yang mudah dimengerti.

  • Berbagi itu baik, tapi tidak selamanya kamu harus berbagi.

Yup, berbagi itu memang sangat baik. Nggak kebayang, dong, kalau anak kita tumbuh menjadi sosok yang pelit dan tidak peduli dengan orang lain? Wah… bisa-bisa nanti anak saya susah dapat pacar, hahaha. Eh, tapi bukan itu, kok, maksudnya. Tapi saya pikir ada baiknya juga kita mengajarkan anak untuk tidak berbagi suatu hal yang memang berharga untuknya. Contohnya begini, suatu ketika ada temannya Bumi yang memaksa untuk meminjam salah satu koleksi Legonya, ndilalahnya Lego tersebut malah rusak karena hancur. Sudah bisa dipastikan, ya, kalau saat itu Bumi kesal bukan main. Dari sana saya pun belajar, kalau dalam hidup ini nggak ada salahnya untuk mengatakan tidak dan menolak untuk berbagi dengan orang lain. Tapi kalau berbagi makanan apalagi keripik keju, tentu saja boleh :D.

  • Gagal itu nggak apa-apa, kok, karena pada dasarnya setiap orang memang tidak akan mampu menguasai segala hal.

Menjadi kompetitif itu tentu saja boleh. Tapi jangan lupa untuk mengingatkan pada anak-anak kita kalau tidak semua hal akan bisa ia kuasai, dan nggak apa-apa kok kalau memang gagal dan hasilnya tidak sesuai ekspektasi. Di usia 5 tahun, mungkin Bumi sudah bisa membaca, bahkan sudah bisa mengambar lengkap dengan ceritanya. Tapi di sisi lain, ada beberapa hal yang belum ia kuasai. Jadi sebagai orang dewasa saya cukup paham kalau dalam hidup ini tidak semua target yang kita inginkan dalam hidup itu bisa terwujud. Sekeras apapun kita berusaha, kadang kala kegagalan memang harus diterima. Untuk itulah, saya selalu berusaha untuk mengajarkan Bumi untuk bisa menikmati prosesnya lebih dulu, bukan hasil.

  • Hidup ini kadang tidak adil, sering kali ada hal-hal buruk terjadi tanpa alasan yang baik.

Saya sama sekali nggak bermaksud mengajarkan anak saya untuk tumbuh menjadi orang pesimis dan menyalahkan orang lain, lingkungan bahkan alam semesta jika ia gagal atau ketika hal buruk menimpa dirinya. Kenyataannya, anak-anak memang perlu tahu kalau hidup ini ‘berwarna’. Saat ini kita bisa tertawa terbahak-bahak, tapi pada jam berikutnya kita bisa saja menangis tersedu-sedu. Dalam hidup ada hal-hal buruk yang memang bisa terjadi. Tapi ingatkan saja, kalau ada banyak banyak hal lain yang baik yang bisa terjadi dalam hidup dan kita perlu fokus pada hal-hal yang baik.


Post Comment