4 Cara Mengajarkan Anak Untuk Bisa Berempati

Empati adalah sebuah rasa yang perlu dipelajari. Saya yakin, semua Mommies setuju dengan hal ini. Benar kan? Untuk itu, sebagai orangtua kita pun perlu menanamkan beberapa hal pada si kecil agar mereka tumbuh menjadi generasi yang tidak mati rasa.

start-empathy

*foto dari sini

Kebayang nggak, jika anak kita tumbuh tanpa memiliki kecerdasan emosional? Menjadi anak yang egois? Tidak mau tahu dengan lingkungan sekitar? Tidak peka terhadap perasaan orang lain di sekitarnya? Membayangkannya saja sudah bikin ngeri, apalagi kalau sampai hal ini benar-benar terjadi? Jangan sampai, deh, ya.

Terus terang, saya pernah dibuat kesal ketika melihat Bumi, anak saya menertawakan temannya yang sedang merasa kesakitan lantaran jatuh dari sepeda saat bermain bersama di taman. Ketika itu, otomatis saya langsung bertanya, “Kenapa Bumi tertawa? Kalau Bumi jatuh, senang nggak kalau diketawain seperti itu?”. Dengan mengajukan pertanyaan ini saya berharap Bumi bisa membayangkan bagaimana perasaan temannya sehingga muncul rasa empati.

Dan benar saja, lambat laun usaha saya membuahkan hasil. Setiap melihat temannya kesulitan atau kesakitan seperti jatuh dari sepeda, Bumi tidak akan menertawakannya. Justru, apabila melihat ada salah satu temannya yang tertawa melihat kecelakaan kecil, Bumi tidak segan bertanya, “Kok, kamu ketawa sih? Dia kan lagi kesakitan karena jatuh.”

Seperti yang saya lansir dari wikipedia, empati adalah kemampuan dengan berbagai definisi yang berbeda yang mencakup spektrum yang luas, berkisar pada orang lain yang menciptakan keinginan untuk menolong sesama, mengalami emosi yang serupa dengan emosi orang lain, mengetahui apa yang orang lain rasakan dan pikirkan, mengaburkan garis antara diri dan orang lain. Sementara dalam KBBI, empati diartikan sebagai keadaan mental yang membuat seseorang merasa atau mengidentifikasi dirinya dalam keadaan perasaan atau pikiran yang sama dengan orang atau kelompok lain.

Dewasa ini, tentu kita banyak melihat peristiwa yang menggambarkan bahwa rasa empati mulai terkikis. Sebagai ibu, saya berharap jika anak saya Bumi punya rasa empati sehingga dirinya akan memiliki kemampuan sosial baik. Sadar bahwa kemampuan berempati tidak berkembang dengan sendirinya, namun perlu dipelajari, saya pun sangat concern soal hal ini.

Untuk itu, saya pun melakukan beberapa cara untuk mengajarkan anak saya untuk bisa belajar berempati. Apa saja?

Contoh yang Konkrit

Banyak  para pakar psikologi yang bilang kalau mengajarkan anak untuk bisa berempati sudah dimulai  sejak anak masih bayi. Contohnya, bayi yang baru lahir akan menangis ketika mendengar tangisan bayi lain. Contoh lain bisa dilihat dari tingkah anak bayi yang cepat meniru atau bereaksi ketika sedang diajak bermain. Hal ini seakan menegaskan kalau anak memang butuh role model.  Dalam hal ini tentu kita sebagai orangtua yang memiliki peran yang sangat penting.

Bagaimana anak bisa peka dan berempati pada orang lain, jika di rumah kita selalu berteriak-teriak pada ART? Bersikap acuh tak acuh ketika ada pengemis yang datang menghampiri? Guru pertama anak untuk belajar berempati tentu saja kita orangtuanya. Layaknya  mesin fotocopy, anak juga perlu contoh yang konkrit yang didapatkan dari kita. Lagi pula, kecerdasan emosi itu kan menular.

Identifikasi Perasaan

Sebelum mengajarkan anak untuk mampu mengidentifikasi perasaan orang lain, langkah awal yang perlu dilakukan adalah membantu anak untuk mengenali emosi dirinya sendiri. Saya jadi ingat dengan apa yang dikatakan Mbak Nina Teguh selaku psikolog Anak dan Keluarga, ia mengatakan bahwa penting bagi kita untuk sering bertanya bagaimana perasaan anak. Misalnya, saat dia senang, sedih, atau ketika marah. Dengan mengetahui perasaannya sendiri dia akan belajar untuk mengelola emosi sehingga dirinya bisa menyesuaikan antara emosi yang disampaikan dengan situasi yang sedang berlangsung.

Seperti yang sudah sempat saya singgung di atas, saya akan memancing Bumi dengan sebuah pertanyaan untuk mengetahui bagaimana perasaannya ketika melihat orang sedang kesulitan. Kita juga bisa mulai mengajarkan anak untuk mengidentifikasi perasaan orang lain lewat bahasa tubuhnya. Kalau perlu kita langsung mempraktikannya bersama si kecil dan menujukan beberapa eskpresi bahas serta bahasa tubuh. Sementara untuk anak balita, mengidentifikasi perasaan orang lain bisa kita latih dengan mengajaknya menggambar beberapa ekspresi wajah.

Memiliki Hewan Peliharaan

Sudah hampir sehatun ini Bumi memiliki hamster. Keputusan saya dan suami untuk membiarkan Bumi memiliki binatang peliharaan, memang bukan tanpa alasan. Kami nggak ingin ketika Bumi sudah dewasa nanti, ia tumbuh menjadi generasi yang mati rasa. Sebuah studi di Inggris membuktikan kalau anak yang memelihara binatang memiliki kemampuan sosial yang lebih baik. Sebuah riset yang dilakukan di New Mexico juga menyebutkan kalau memelihara binatang mampu mengembangkan sisi empati dan kemampuan pengasuhan pada diri anak. Kenyataannya, selain mengajarkan anak untuk lebih bertanggung jawab, memiliki hewan peliharaan memang banyak manfaatnya.

Melibatkan Anak dalam Kegiatan Sosial

Empati selalu berhubungan erat dengan kedulian kita terhadap orang lain, nggak heran empati kerap dikonotasikan terhadap kegiatan sosial. Tapi memamg benar, sih, cara ini memang sangat efektif untuk menumbuhkan rasa empatinya. Datang ke ke panti asuhan, atau pun ke sebuah yayasan di mana banyak anak-anak yang kurang beruntung, bisa membantu anak-anak kita untuk lebih berempati dan tentunya belajar bersyukur.

Makanya, ketika saya mendapat undangan dari Kanmo Retail Group untuk berbuka puasa di Yayasan Anyo Indonesia (YAI) dalam rangka menyambut berkah Ramadhan, saya langsung mengajak Bumi ikut serta. Dengan melibatkan Bumi secara langsung seperti ini saya ingin mengasah rasa empatinya. Begitu sampai di sana, saya langsung bertanya, “Bagaimana perasaan Bumi melihat teman-teman Bumi yang sedang sakit seperti ini?”, ia pun langsung menjawab, “Bumi sedih, Bu.”

IMG-20150722-WA0005

YAI ini sendiri merupakan salah satu yayasan yang membantu anak-anak penderita kanker terutama dari keluarga pra-sejahtera di Indonesia. Bagi anak serta orangtua yang mendampinginya dan tinggal di sana, sama sekali tidak dipungut biaya. Tidak hanya itu saja, para orangtua pun di sini akan mendapatkan pendidikan berupa penyuluhan dari para dokter bagaimana merawat anak-anaknya yang menderita kanker.

Selain berbuka puasa bersama, Kanmo Retail juga berbagi keceriaan bersama anak-anak yang kurang beruntung dari YAI dengan membawa berbagai hadiah yang bisa memberikan sedikit kebahagiaan untuk mereka. Waktu itu, Kanmo Retail pun mengajak anak-anak untuk mewarnai dan menggambar bersama. Senang rasanya bisa ikut terlibat kegiatan tersebut bersama Bumi.

Jika empat cara ini merupakan langkah yang sudah saya tempuh untuk mengajarkan Bumi untuk belajar berempati, bagaimana dengan Mommies yang lainnya?