Bebas Drama Saat Kumpul Keluarga Besar

Pernikahan di Indonesia itu identik dengan pernikahan dua keluarga besar. Tidak bisa hanya ada saya dan kamu. Bagaimana agar bebas drama saat kumpul keluarga besar?

Setelah menikah, saya baru memahami arti dari “Kalau kamu menikah dengan calon suamimu, itu artinya kamu juga harus menikahi seluruh keluarga besarnya.” Dan, memahami arti kalimat sama mempraktikannya itu beda tingkat kesulitan, hahaha.

Saya berasal dari keluarga yang nggak besar-besar amat dan semua saudara sepupu saya TIDAK MAU memiliki anak. Jadi, anak kecil di keluarga besar saya hanya ada 3 anak :D. Kebalikan dengan suami, dia berasal dari keluarga besar, dan semua saudaranya, sepupunya, ponakannya memiliki anak. Ini baru satu perbedaan. Belum lagi perbedaan keyakinan, perbedaan gaya hidup, perbedaan pola pikir dst.

Nah, perbedaan-perbedaan ini biasanya akan gampang menyulut ‘emosi’ saat keluarga besar berkumpul. Paling malas kalau saat berkumpul lantas ada yang sok bertanya kesannya perhatian tapi sebenarnya kepo, ada juga yang sok ngasih nasihat tapi aslinya nyinyir. Kalau nggak sabar-sabar amat, yang ada sampai di rumah kita malah berantem. Orang yang jadi penyebab kita kesal? Santai-santai aja!

Setelah sekian belas tahun menjalani pernikahan, saya pada akhirnya nyaris kebal dengan segala kenyinyiran yang ada. Bagaimana saya dan suami melakukannya?

Bebas drama saat kumpul keluarga besar

1. Beri amunisi pada pasangan mengenai siapa saja yang kira-kira akan kita temui pada pertemuan keluarga besar dan kebiasaan-kebiasaan mereka. Lakukan ini sebelum pertemuan keluarga besar terjadi. Misal, nanti di sana ada tante B yang hobinya mengkritik. At least dengan punya informasi seperti ini kita jadi lebih siap dan tidak kaget-kaget amat.

2. Informasikan kepada pasangan, topik bahasan yang masih masuk ke dalam batas toleransi kita dan mana yang tidak. Misal, saya masih bisa tersenyum manis kalau ada yang bawel mengenai pakaian saya. Tapi saat orang mengkritik cara saya mendidik anak dan keyakinan keluarga besar saya, itu saatnya tanduk saya keluar dan saya bisa membalas dengan kalimat yang tegas. Kalau kemudian suami protes karena menurutnya saya terlalu galak, yah saya kan sudah menginformasikannya. Salah sendiri kenapa nggak mewanti-wanti keluarganya, hehehe.

3. Sebisa mungkin jangan duduk berjauhan dengan pasangan. Kenapa? Jika saya sudah mendengar keluarga besar saya mulai mengatakan atau bertanya mengenai topik yang sensitif bagi pasangan saya, saya bisa langsung mengalihkan atau memotong sebelum topik tersebut dibahas lebih lanjut.

4. Cari sekutu. Saya selalu mencari mereka yang senasib sependeritaan dengan saya :D. Tapi tetap harus yang bisa dipercaya. Jadi, saat acara keluarga, saya akan duduk bersama-sama mereka dan asik-asik sendiri.

6. Sibuklah dengan anak. Yes…. Ini salah satu keuntungan menjadi seorang ibu, kan? Saat malas menanggapi tante yang judes, sepupu yang nyinyir, maka anaklah penyelamat kita :p.

7. Berteman dengan gadget. Kadang-kadang gadget menjadi penyelamat saya berikutnya ketika anak-anak terlalu asik bermain dengan orang lain. Sibuk membalas whatsapp, sibuk mengecek email, intinya terlihat sibuk dengan gadget kita, hehehe. Kalau ditanya? Bilang aja urusan pekerjaan :D.

Kalau saya melakukan hal-hal di atas, bukan berarti saya tidak menghargai keluarga besar saya maupun pasangan, tapi menghargai pihak lain bukan berarti kita merelakan diri untuk memendam harga diri kita sendiri kan?

Mommies ada tambahan?


Post Comment