7 Hal yang Membuat Suami Tidak Bahagia

Ditulis oleh: Nayu Novita

Suami juga manusia, yang punya sederet catatan tentang hal-hal yang membuat ia tidak happy. Apa saja hal yang membuat suami tidak bahagia?

Pernah nggak kita berpikir, kalau bisa mendengar isi kepala suami, kira-kira hal apa yang akan mereka keluhkan? Yuk lihat dari sudut pandang para suami:

yang membuat suami tidak bahagia

1. Mengeluh tanpa lihat waktu

“Boleh nggak isteri itu kalau mau marah-marah atau sekadar curhat menunggu sampai saya minimal sudah mandi, jadi pikiran juga sudah lebih tenang. Jangan baru pulang kantor langsung mengeluh.”

Lantaran capek mengurus rumah, mengurus anak sembari kerja, begitu suami baru sampai rumah, kita langsung nyerocos menumpahkan kekesalan kita. Suami pulang kerja juga capek, lho! Siapa tahu di kantor ada meeting yang berjalan tidak sesuai harapan, jalanan yang macet. Kasih waktu suami untuk istirahat sebentar.

2. Hobi hitung-hitungan
“Gue sebal kalau isteri gue udah bilang “Aku udah jaga anak, urus rumah, sekarang aku juga yang harus nentuin makan malam mau apa? Kesannya jadi perhitungan, padahal itu kan untuk keluarga juga.” 

Seberapa sering kita berhitung mengenai besar ‘jasa’ kita dalam mengurus banyak hal? Mulai dari membersihkan rumah, menjaga anak,sampai mengatur perjalanan liburan. Berhenti yuk berhitung untuk urusan ini. Ingat aja apa yang kita lakukan demi keluarga kok.

3. Selalu berbicara tentang anak
“Bukannya saya nggak cinta sama anak saya, tapi kalau setiap ngobrol selalu tentang anak, saya nggak mau. Saya mau bahan obrolan yang berbeda.” 

Jangan lupa, kehidupan rumah tangga tidak hanya berputar di sekitar anak-anak! Anda dan suami juga perlu berbagi obrolan “sungguhan” yang lebih menstimulasi dan membuka wawasan, misalnya tentang hobi masing-masing, headline surat kabar, trending topic di medsos, dan lain-lain.

Hal yang membuat suami tidak bahagia 3

4. Sedikit-sedikit ngambek

Hobi banget kalau marah tapi nggak mau ngomong. Maunya saya sadar sendiri. Terus ujung-ujungnya ngambek. Isteri ngambek sesekali masih lucu, kalau udah keseringan, udah nggak ada lucu-lucunya.

Keluhan ini kerap saya dengar dari teman-teman pria. Ya, para suami itu bukan cenayang, mom. Kalau ada apa-apa, langsung katakan terus terang daripada membuatnya bingung. Susah bicara langsung? Coba lewat Whatsapp atau SMS, asal jangan posting di wall Facebook atau social media lain ya :D.

5. Tumbuh ke arah berbeda
Saya kangen isteri saya yang dulu. Pribadi yang semangat dalam berkarier dan mencari ilmu. Saya hanya merasa sekarang tujuan kami berdua semakin berbeda.”

Seni dari hubungan pernikahan adalah bersama-sama menyaksikan dan mendampingi perjalanan hidup pasangan menjadi sosok yang lebih matang. Idealnya, suami dan istri tumbuh ke arah yang sama agar bisa saling mendukung. Ketimpangan arah pertumbuhan, misalnya salah satu pihak memprioritaskan kehidupan spiritual dan pihak lainnya menomorsatukan karier, bisa menjadi batu sandungan.

6. Cuek untuk urusan seks
Saya paham banget isteri saya sibuk mengurus si kecil dan dia juga memiliki karier di kantornya. Tapi bukan berarti setiap saya mengajak bercinta kemudian dia selalu bilang capek. Lah, saya kan suaminya.

Hubungan seks untuk pasangan yang baru memiliki anak memang jadi tantangan tersendiri, walaupun selalu ada tips untuk menjaga hubungan seks tetap hot untuk orangtua baru. Tapi bukan berati ini menjadi poin yang bisa dihapuskan sama sekali. Jika urusan seks sudah tidak menarik lagi, mungkin sudah saatnya menggali dasar permasalahan sebenarnya. Atau coba komunikasikan dengan suami mengenai apa yang membuat perempuan bisa mencapai orgasme, apa yang sebenarnya diinginkan suami ketika bercinta . Kecilkan sedikit ego kita dan bicara!

7. Terlalu mengandalkan suami
Saya tahu sebagai suami dan kepala keluarga, saya adalah pengambil keputusan dan pelindung utama. But sometimes, saya ingin isteri saya memiliki inisiatif.”

Dalam budaya kita, para suami memang biasa ditempatkan sebagai pelindung bagi seluruh anggota keluarga. Tak heran, jika masalah menghadang, suami harus menjadi pihak yang maju duluan dan menemukan solusi. Karena terbiasa dilindungi, terkadang para isteri lupa bahwa para suami juga tak lepas dari masalah dan amat mungkin bisa terpuruk secara emosional.

Jika kita ingin dipahami, nggak ada salahnya kan memahami orang lain, terlebih jika orang lain itu adalah pasangan hidup kita, orang yang (seharusnya) paling dekat dengan kita :).


Post Comment