Berteman dengan Atasan di Social Media, Yay or Nay?

Tiba-tiba atasan nge-add di social media. Umh, enaknya accept atau ignore, ya? Bagaimana, sih, etika berteman dengan atasan di social media? Berikut penjelasan praktisi SDM & Psikolog, Dian Puty Oscarini, Psi.

berteman dengan atasan di sosial media1

Beberapa waktu lalu, salah satu teman saya ada yang misuh-misuh. Kesal karena atasannya nge-add social media miliknya. “Ngggak cukup, ya, berteman sama gue di lingkungan kerja aja? Ngapain, sih, pakai nge-add Path gue segala? Mau tahu banget privacy gue?“.

Waktu itu selain memberikan respon senyuman, saya jadi terpancing untuk komentar, “Memang kenapa, sih, berteman dengan atasan lo di social media? Bukannya bagus karena hubungan malah jadi makin dekat? Masa berteman sama atasan cuma di lingkungan kantor doang? Berkutat seputar kerjaan? Ya, nggak enak, dong.

Apa yang saya bilang ini sama sekali nggak bermaksud kepo atau ikut campur dengan hubungan teman saya dengan atasannya. Biar bagaimanapun, teman saya ini lebih paham kondisi dan karakter atasannya. Tapi kalau buat saya, sih, memang nggak ada salahnya, kok,berteman dengan atasan di social media.

Bukankah atasan kita juga merupakan bagian dari teman? Ya, mungkin kalau di lingkungan kantor, statusnya berbeda di mana hubungan yang dijalankan memang hubungan profesional, sementara kalau sudah berteman di social media mau nggak mau jadi lebih personal. Tapi, ternyata masalah ini buat beberapa orang cukup rumit, ya, hahahaha….

Memang, sih, saya pun nggak bisa memungkiri kalau apa yang kita posting dan tulis di social media bisa menjadi salah satu ‘cerminan’ kepribadian kita. Yang jelas, saat ini memang sudah banyak sekali perusahaan yang mencari tahu kepribadian calon karyawan lewat postingan di Facebook atau Twitter. Iya, sosial media memang bisa memengaruhi karir seseorang. Tapi bukan berarti lantas membuat kita jadi jaim atau berubah menjadi orang lain ketika menggunakan social media, lho!

Buat saya, sih, yang paling penting saya tahu batasan, hal apa saja yang tidak perlu dibagikan di social media. Ada banyak hal  dari bagian hidup kita yang memang nggak perlu di-share dan jadi konsumsi publik. Untuk itu, ada baiknya kita berpikir dua kali sebelum posting sesuatu di social media. Hari gini, masih saja asal-asalan posting status di social media? Bagaimana kita bisa mengajarkan nilai positif social media pada anak-anak kalau kita sendiri belum mampu untuk belajar waspadai jejak digital yang kita buat?

Di laman selanjutnya Dian Puty Oscarini, Psi, selaku praktisi SDM & Psikolog, memberikan penjelasan yang sangat logis mengenai pertemanan dengan atasan di social media, langsung klik, ya!


Post Comment