Sering Lembur? Mungkin Karena Kita (masih) Melakukan 4 Kesalahan Ini

Masih sering terjebak lembur di kantor? Cek lagi empat kesalahan di bawah ini, yang mungkin saja masih sering mommies lakukan.

Sering lembur - Mommies Daily

Jangan gengsi kalau kita sedang bermasalah soal jam kerja, salah satunya lembur. Nggak nyaman kan, sampai di rumah, waktu kita sempit untuk main sama anak. Ditambah sudah kewalahan mau pegang urusan rumah, karena sudah keburu lelah, seharian penuh energi terkuras di kantor.

Yuk, kita cek sama-sama, siapa tahu mommies masih melakukan empat kesalahan di bawah ini. Satu-satu diperbaiki, demi kualitas hidup yang lebih baik :)

1. Tidak punya target harian

Fungsi target harian untuk saya ibarat peta jika kita sedang bepergian. Tahu dengan jelas, kemana arah saya pergi. Disusun dengan skala prioritas, dari yang benar-benar dibutuhkan hari itu, hingga yang sifatnya bisa dicicil untuk proyek-proyek besar. Masing-masing target, juga kita jelaskan dengan bahasa sederhana, strateginya pengerjaannya seperti apa. Ini yang dinamakan teknik mind mapping. Oh iya, masing-masing target juga ditarget harus selesai dalam berapa jam. Misalnya, target nomor 1, estimasi bisa diselesaikan dalam 2 jam, selama itu pula, kita fokus mengerjakan target 1. Lebih terpacu dan fokus.

Jika mengalami kesulitan, jangan memaksakan diri terus-terusan di target yang sama. Coba beralih dulu, ke target berikutnya, siapa tahu malah menemukan ide baru. Kiat lain, bangun dulu dari kursi mommies, ambil minum, ke toilet atau konsumsi camilan, di antara jeda ini, saya biasanya suka menemukan pencerahan.

2. Budaya “nanti saja”

Kebayang nggak sih, kalau dalam semua kerjaan kita seperti ini? Yang ada, nggak akan selesai sampai kapan pun. Meski tidak memungkiri, pas lagi rasa malas datang, masih tergoda sama kata-kata “nanti saja,”, tapi coba prediksi, hanya kesulitan lebih besar yang akan kita petik, jika menunda menyelesaikan pekerjaan.

3. Segan menolak pekerjaan yang bukan tanggung jawab utama

Iya ngerti, makin banyak mencoba hal baru, makin banyak ilmu yang kita dapat. Tapiii, jangan sampai mengorbankan pekerjaan utama. Lain hal jika tenggat pekerjaan-pekerjaan utama kita masih aman untuk diselipi tanggung jawab lain, di luar job desc utama. Gimana kalau terpaksa menolak? Ajak diskusi HR, kemukakan keberatan kita dengan profesional, lebih baik lagi jika didukung dengan data.

4. Tak pandai manajemen waktu

Di luar tiga poin di atas, saya merasa jika manajemen waktu saya menyoal jadwal keseluruhan sedang kendur, pasti akan berdampak ke ritme pekerjaan. Contoh sederhananya, di Minggu malam masih begadang, bangunnya telat deh – otomatis segala persiapan ke kantor juga ikutan molor. Pas nyampe kantor dijamin jiwa raga kita belum siap 100% menerima kenyataan, hari itu harus berjibaku dengan setumpuk deadline :D.

 

 


Post Comment