Editor’s Note: Menjadi Ibu Bekerja Itu Nggak Salah, kok

Entah berapa banyak saya membaca berbagai postingan image atau tulisan yang cukup ‘menohok’ tentang ibu bekerja. Pertanyaan saya, harus ya mem-posting tulisan atau image seperti itu?

Selama 9 tahun saya menjadi seorang ibu, hanya 1 tahun saya pernah merasakan nggak bekerja. Enam bulan saat cuti hamil dalam jangka waktu dua kali melahirkan, dan 6 bulan lagi (kalau nggak salah) ketika saya memutuskan ingin istirahat sejenak dari hiruk pikuk dunia kerja. Saya paham banget beratnya tanggung jawab seorang ibu rumah tangga. Dan, buat saya pribadi, every mom is working mom.

Jadi, saya suka mengelus dada kalau melihat teman-teman saya yang notabene seorang perempuan dan seorang ibu memposting tulisan yang menyindir ibu bekerja tega menitipkan anak seperti sebuah perhiasan. Atau menunjukkan bahwa anak akan lebih dekat dengan pengasuh dibanding ibunya kalau si ibu itu bekerja. Padahal, bekerja itu juga bisa menjadi wujud cinta dari ibu ke keluarga kok. Dan, nggak usah disindir-sindiri seperti itu pun, kami, ibu bekerja juga sudah punya ketakutan-ketakutan yang harus kami hadapi, tanpa perlu ditambah sikap nyinyir dari sesama ibu.

Every family is different and we are choosing to do what’s best for ours

Saat kalian sibuk menghakimi para ibu bekerja, mungkin kalian nggak tahu, berapa banyak ibu bekerja di luar sana yang pontang panting kerja dari pagi sampai malam hanya agar anak-anaknya bisa makan sehari tiga kali (iya makan sehari tiga kali, bukan untuk belanja barang bermerek). Atau karena mereka adalah tulang punggung keluarga. Iya, mencari nafkah itu memang tanggung jawab suami. Masalahnya, nggak semua perempuan beruntung mendapat suami mapan atau bertanggung jawab seperti suami kalian J. Jangan samakan semua ibu bekerja dengan (sebagian kecil) perempuan yang bekerja demi eksistensi. Karena masih banyaaaaaak ibu bekerja yang memang bekerja agar mereka bisa bertahan hidup.

Being a working mom doesn’t mean my family is not my first priority

Kemarin saat FGD, seorang member di forum, Ari, menceritakan bagaimana meskipun bekerja, prioritas utamanya tetap keluarga. Tahu cara dia melakukannya? Saat di kantor, sepenting apapun pekerjaan yang dia lakukan, kalau orang rumah menghubungi, dia akan selalu mengangkat. Dan, saat di rumah, sepenting apapun alasan orang kantor menghubungi dia, dia akan selalu membiarkan ponselnya tak terjamah, sedikitpun.

When it comes to spending time with my kids, we value QUALITY as much as QUANTITY

Kalau ada orang bilang ke saya, “Kalau emang lo cinta sama anak lo, ya lo resign dong Fi, fokus sama anak.” Pertanyaan saya adalah, yakin kalau udah di rumah bakalan lebih fokus sama anak-anak? Apa  kabar dengan teman saya yang sering di rumah tapi punya 3 ART untuk ngurusin satu orang anak? Dan dia malah sibuk arisan sana-sini, jalan sama teman-temannya. Jadi, anak akan lebih dekat dengan pengasuh atau ibunya, nggak bergantung dari apakah si ibu bekerja atau enggak! Tapi tergantung dari bagaimana ibu bisa memaksimalkan waktunya yang ada bersama si anak. That’s the point, mbak-mbak, mas-mas dan teman-teman sejagad raya!

image1

Jadi, mungkin, saat kalian mem-posting tulisan atau image yang niat awalnya untuk menunjukkan berapa beruntungnya kalian, pikirkan juga berapa banyak hati sesama ibu yang akan kalian sakiti. Jadi, sutralah, mari kita saling menghargai keputusan satu sama lain. Ibu bekerja nggak usah merasa jumawa karena bekerja (kalau memang ada yang begini) dan ibu rumah tangga juga nggak usah sibuk memposting betapa beruntungnya anak-anak kalian karena diasuh oleh ibunya sendiri.

Dan, bagi saya pribadi banyak hal yang bisa saya syukuri dengan menjadi ibu bekerja. Loving my job doesn’t make me any less of a mom dan dengan pede saya bisa bilang I can love my children and love my job.


27 Comments - Write a Comment

  1. iyaa aku setuju mereka (ibu ibu rumah tangga yang rada radaa gimanaaa gituu sama ibu ibu pekerja) toh kita kerja juga bantuin suami, ingin kehidupan dan kebutuhan anak nya baik ,terjamin..to be honest seneng juga ada byk working mom yg seperjuangan yahh hehhee..jadi semangat lagi :)

  2. Iya benar Mba Fia, walaupun tidak bekerja tapi kalo si ibu nggak urusin anaknya dengan benar yah sama aja bohong,menyia-nyiakan waktu berharga yang diharapkan para ibu pekerja.. setuju banget dengan point Mba Fia bahwa bekerja bisa jadi merupakan wujud ibu ingin lebih membahagiakan anak-anaknya dan dirinya, kenapa tidak? Ibu yang bahagia pastinya akan semakin mencintai keluarga dan bersikap lebih baik dan perhatian pada anak-anaknya, apalgi dengan pekerjaannya, mampu memenuhi kebutuhan anak-anaknya dan mengaktualisasikan diri beliau, bahkan mungkin juga mendapat tambahan ilmu dari lingkungan kerja dan pekerjaan beliau.. itu merupakan hal bagus dan penting sebagai landasan pendidikan anak.Terus mengenai tulisan postingan ibu yang menyindir “ibu bekerja tega menitipkan anak seperti sebuah perhiasan”, lebih baik ibu penyindir tersebut kita tawari agar mengasuh anak para ibu pekerja saja, atau daripada sibuk menyindir-nyindir geje mending ibu penyindir bekerja menggantikan ibu bekerja tapi hasilnya diberikan ke para ibu bekerja yang membutuhkan, biar para ibu pekerja tidak usah (terpaksa) bekerja dan di rumah mengasuh anak tetap ada pemasukan. Why not? Dengan postingan beliau yang mampu menyindir, berarti beliau mampu dan masih punya waktu daripada kaum ibu yang harus (terpaksa) bekerja demi anak-anaknya bukan?

  3. Setuju banget sama tulisannya mba. Jujur yah saya tuh dulu pengennya jadi IRT ajah, fokus ngurus anak & suami. Tapi malah suami pengennya saya kerja ajah meskipun dah punya anak, kerja dari tahun 2009 & cuman ngerasain nganggur 1 tahun karena nikah & punya baby. Dan sampai akhirnya Allah ngasih cobaan terberat dalam hidup saya, yaitu suami meninggal disaat saya baru 2 bulan melahirkan. Sekarang mau gak mau saya harus tetap kerja, untuk menghidupi anak saya satu-satunya, supaya gak terlalu bergantung sama orang lain.
    Malah teman saya yang baru resign menyarankan wanita untuk terus bekerja, karena kita tidak tau kedepannya bagaimana. Kalau misalnya wanita tidak bekerja & sesuatu terjadi seperti saya bagaimana? Saya bersyukur 5 bulan setelah suami meninggal, saya mendapatkan pekerjaan. Dan alhamdulillah sudah mau 3 tahun saya kerja di tempat kerja sekarang, dan selama ini tidak ada masalah mengenai pekerjaan maupun keluarga.

  4. suka banget postingan ini dan langsung ngebayangin sebentar lagi saya juga bakal kaya gitu :”) saya juga dibesarkan oleh seorang working mom, dan mindset saya sampai sekarang gak berubah.. yg namanya wanita itu tetep harus mandiri, walaupun udah bersuami dan punya anak, kita tetep harus bisa berdiri sendiri, tanpa bergantung sama orang lain, walaupun itu suami kita sendiri.. jadi misalnya sewaktu-waktu ada musibah, kita sudah siap. you go mom! ^^

  5. I am a working mom too….walaupun mama saya full Ibu RT tapi dari kecil selalu bilang gini “Kalau dah gede kerja ya biar punya duit sendiri..jadi kalau anaknya minta bisa beliin sendiri “”… Sekarang banyak suami dan ibu mertua yang menuntut wanita (istri) bekerja. Yang penting selama keluarga support dan kita enjoy bekerja sekaligus jadi Ibu dan istri buat gwe itu SAH ..sambil angkat bahu dan mengedipkan mata hahahahaaaa…Omongan diluar yang ga penting ga usah didengarkan dan dimasukin ke hati Working Mom’s

  6. Aku belum menikah dan belum punya anak, tapi baca artikel ini aku setuju banget kalau working mom ga melulu kurang perhatian sama anaknya.
    Contohnya mamahku seorang Ibu pekerja, dari sejak saya lahir sampai adik ke 2 saya lahir dan sampai saya sudah bekerja mamahku masih jadi ibu pekerja. Dan dengerin cerita kerjaannya belia itu seru banget, kata mamahku, sesibuk apapun kamu kerja kalau udah nikah dan punya anak, tetep keluarga harus nomer 1.
    Semangat buat Ibu – Ibu pekerja, dan salut deh udah bangun pagi buat bikin sarapan & bekal untuk keluarga kalian juga harus mikirin biar ga telat ke kantor. Begitu pulang kantor tetap yang capenyaa luar biasa tapi sampai rumah bisa tetap ceria ketemu anak & suaminya apalagi sampai turun tangan siapin makan malam, kalian kece :D

Post Comment