Yes… I Am Working Mother

Di balik pilihan working mother, working mother at home atau stay at home mother, saya yakin semua dilakukan atas nama cinta dan rasa tanggungjawab terhadap keluarga tersayang.

5 Hal yang Patut Disyukuri Menjadi Working Mommies

 Gambar dari sini

Perdebatan mengenai lebih baik menjadi ibu yang bekerja di luar rumah atau menjadi ibu rumah tangga, kayaknya sih, nggak akan ada habisnya. Buat saya sendiri, selama kita bertanggung jawab terhadap pilihan kita, ya sudah, tak masalah, Kenapa juga kita harus pusing mendengarkan pendapat orang lain. Bagi saya selama pasangan dan anak saya mengerti dan kami tetap bahagia, thats ENOUGH!

Saat ini predikat saya masih “working woman”. Sedari zaman single saya sudah nekat bekerja sambil kuliah, tepatnya menerima proyek menulis buku. Sampai-sampai harus berhadapan dengan konsekuensi tidak lagi mendapatkan aliran dana dari Papa saya – beliau tipe orangtua yang sangat tegas dan tidak ada toleransi untuk urusan ketepatan waktu lulus kuliah. Alhasil saya harus mencari side job  tambahan dengan motret di sela-sela waktu kuliah.

Motivasi saya memberanikan diri menerima beberapa proyek sambil kuliah tak lain karena ingin memperkaya diri dengan pengalaman, supaya ketika waktunya nanti lulus dan mencari pekerjaan, “harga” saya di dunia pekerjaan worth it untuk diberikan reward yang pantas.

Begitu memasuki kehidupan rumah tangga, biaya kehidupan semakin membengkak (ya kan Mommies? :D), meskipun suami mempersilahkan saya jika ingin menjadi stay at home mother, namun karena saya sudah terbiasa bekerja saat kuliah,  langkah kaki ini tetap berjalan ke arah menjadi ibu pekerja. Selama melakoni peran ini, setidaknya ada lima hal yang membuat saya senang menjadi working mother:

1. Terus belajar

Menjadi perempuan yang bekerja memaksa saya untuk terus belajar dan belajar.  Apalagi bekerja di dunia media yang menuntut saya bertemu banyak orang dan menulis banyak hal. Mengisi sel-sel otak sudah menjadi keharusan buat saya. Dan, ini berarti ilmu saya terus bertambah tak sebatas pada bidang yang saya pelajari di kampus dulu atau di kantor sekarang.

2. Terus instropeksi diri

Tahu dong, sebagai pekerja ada saatnya kita mengalami waktu penilaian oleh atasan dan manajemen. Momen review ini membuat saya bagaikan sedang berhadapan dengan kaca ukuran raksasa, semua tercermin di sana. Tinggal pilih, bagian mana yang ingin diperbaiki, dipertahankan dan ditingkatkan. Efeknya saya jadi terpacu supaya bisa memberikan yang terbaik untuk profesi yang saya geluti, walau masih jauh dari kata sempurna. Dan, ternyata, hal ini tidak terbatas pada pekerjaan loh Mommies, di luar job desk pekerjaan, ternyata saya juga terpacu untuk melakukan self improvement.

3. Lebih menghargai quality time

Saya sadar banget, sebagai perempuan sekaligus ibu bekerja, waktu yang saya habiskan bersama anak dan keluarga memiliki keterbatasan. Ternyata, keterbatasan ini malah membuat saya sangat menghargai waktu yang dapat kami miliki bersama. Sampai di rumah atau di saat weekend, saya benar-benar fokus mengurus anak dan keluarga. Saya menikmati momen-momen ini. Kalau secara kuantitas saya terbatas, maka menciptakan waktu berkualitas adalah pilihan saya.

Ternyata di sela-sela padatnya waktu bekerja, masih terselip waktu untuk “me time” loh Mommies, cari tahu di halaman selanjutnya ya.