4 Hal yang Ditakuti Ibu Bekerja

Sesaat begitu saya kembali menapaki peran sebagai working mom, bertubi-tubi muncul komentar. “Wah, enak dong bisa kerja lagi!” atau, “Akhirnya, ya, buu,” serta satu pertanyaan yang sepertinya mandatory alias wajib disampaikan ke saya, ya yang ini: “Terus anak kamu sama siapa?”

Itu juga hal pertama yang terbersit di otak saya begitu dikabari harus mulai masuk kerja lagi. “Bumy sama siapaa?!”

Meskipun initial reaction-nya waktu itu panik, tapi saya nggak perlu mikir panjang-lebar untuk menjawabnya. Otomatis saya berpikir untuk mencari daycare. Sama seperti 2,5 tahun yang lalu, saat kami pindah rumah dan merenggut Bumy dari asuhan sang oma (hehehe), cuma daycare jawaban yang ada di kepala saya dan suami.

Pertimbangannya masih sama seperti waktu itu, rasanya nggak sreg aja meninggalkan Bumy dengan si embak saja di rumah. Padahal kalau melihat sekeliling, ada banyak anak yang diasuh oleh embak di rumah. Seharusnya kami nggak perlu kontra-kontra amat sama ide itu, bukan?

Ketakutan ibu bekerja

Jujur saja, ke-tidaksreg-an itu pemicunya cuma satu: rasa parno. Kalau begitu, apakah saya sudah sangat sreg ketika memilih menitipkan anak di daycare? Err, ujug-ujug muncul kabar tentang kejahatan yang diduga terjadi di daycare! Saya pun sibuk mencari “testimonial” dari para Mommies yang pernah atau sedang memakai jasa daycare lewat forum Mommies Daily. Dari situ saya menyadari dilema baru: ternyata sulit menemukan daycare yang “sempurna.” Daycare A meskipun bagus di faktor yang satu, tapi buruk di faktor yang lain. Daycare B dekat dari kantor, tapi punya kekurangan ini-itu. Daaan seterusnya.

Jika ditarik benang merahnya, ibu bekerja memang punya banyak kekhawatiran tersendiri. Yuk, kita kupas satu persatu!

1. Keselamatan anak
Seperti disebutkan tadi, urusan keselamatan anak ini memang tricky. Pilihan apapun yang diambil, pasti ada risikonya. Sekarang, saya sedang berpikiran untuk memulangkan anak ke rumah saja daripada ke daycar. Melalui proses trial and error yang terus-menerus ini, saya pelan-pelan tersadarkan. Da aku mah apa atuh… cuma seorang manusia biasa yang punya banyak keterbatasan, tapi banyak maunya! Ya, seperti halnya tidak ada daycare, embak ART, supir, atau support system apapun yang sempurna, saya juga tidak sempurna. Makanya, seharusnya saya hanya melakukan ‘porsi’ saya, yaitu berusaha mencari pihak ketiga dengan sebaik mungkin. Selebihnya urusan yang Maha Mencukupkan dan Maha Menjaga, bukan?

Maklumi, yah, Mommies kalau untuk urusan ini saya jadi nyerempet ke spiritual. Karena memang tidak ada yang bisa menjamin ‘hasil’ selain Tuhan, bukan?

Karenanya, dalam porsi saya untuk mencari embak ART dengan sebaik mungkin, ini yang saya lakukan:

– Mencari yayasan atau pihak penyalur ART yang punya reputasi baik.
Caranya gimana? Kalau saya, dengan melihat track record penyalur ART yang digunakan tetangga-tetangga saya. Jasa penyalur yang akhirnya saya pakai sejauh ini, sih, memang menyediakan ART yang awet dan perilakunya baik. Semoga saja nasib saya juga sebaik tetangga-tetangga saya, yah, Mommies.. hehehe.

– Meminta identitas jelas penyalur dan ART.
Kita bisa meminta identitas kedua pihak itu untuk ditunjukkan langsung kemudian difotokopi. Sedikit menginterogasi juga tak apa. Bahkan saya pernah dengar kalau ibu Elly Risman menganjurkan kita membawa pihak ketiga yang akan dipekerjakan di rumah untuk turut ‘diwawancara’ oleh kakek, nenek, dan saudara-saudara lainnya.

– Menguji kesehatan ART yang akan bekerja di rumah kita.
Tujuannya tak lain supaya kita tahu apa ada potensi penyakit yan dapat ditularkan.

– Memakai alat bantu gadget seperti  CCTV, jam tangan dengan fungsi GPS tracker untuk anak, dan lain-lain.

Apa Mommies punya kiat lain yang bisa ditambahkan? Selain masalah keselamatan anak, ada 3 hal lain yang bikin saya parno. Lengkapnya di laman berikut, ya.


Post Comment