Pusing Memilih Sekolah?

motherhood*Gambar dari sini

Setelah hampir lima tahun jadi orangtua, saya menyadari kalau terjadi banyak pergeseran dalam pemahaman maupun cara berpikir saya, salah satunya, ya seputar pengasuhan.

Entah karena masih kinyis-kinyis (masih usia kepala dua, maksudnya) ketika menjadi orangtua, digabungkan dengan titel sebagai “new parents,” sepertinya dulu apa-apa bawaannya ribet. Mau menentukan pilihan ribet, mau menjalani pilihan juga lebih ribet. Sebut saja pilihan-pilihan yang “esensial” seperti mau melahirkan dengan metode apa, mau memberikan anak ASI saja atau dicampur susu formula, mau menjadi ibu rumah tangga atau ibu bekerja, dan seterusnya. Proses menentukan pilihan diwarnai tidak hanya dengan masukan dari berbagai sumber, tapi juga keyakinan pribadi atas apa yang prinsipil dan apa yang “haram.”
Belum lagi pilihan-pilihan di luar itu, yang mungkin tidak begitu penting tapi tidak kalah membikin mumet. Name it, deh: jenis stroller, merek popok, pilihan aktivitas buat anak, pilihan DSA, mau menaruh ASIP di botol atau plastik, dan seterusnya, dan lain sebagainya. :D

Padahal, ketika melakukan kilas balik ke masa-masa itu sekarang, TERNYATA pendapat yang mendasari pilihan-pilihan itu bisa berubah. Apa yang dulu dianggap prinsipil dan dipikirkan bolak-balik sampai kurang tidur, ternyata bisa menjadi tidak se-prinsipil itu seiring dengan berjalannya waktu. Ataupun apa yang dianggap “haram” dan a big no-no, ternyata malah terbukti membuat hidup lebih praktis dan menyelematikan diri dari stres, misalnya.
Opini kita bergeser. Pertimbangan-pertimbangan kita tidak lagi mengerucut ke satu hal, tapi meluas ke berbagai faktor lain.
Kalau dipikir-pikir, those options don’t get any easier, sih.
Tapi mungkin kita yang menjadi lebih ‘matang’ sebagai pribadi, dan juga sebagai orangtua.

Dalam tulisan ini, hal yang secara khusus ingin saya bahas karena juga mengalami fenomena pergeseran opini tadi, adalah soal pilihan sekolah.

Sebenarnya pernah terpikir untuk menuangkan pendapat pribadi tentang pilihan sekolah saya untuk anak. Faktor-faktor apa saja yang mendasari, apa saja kelebihan sekolah pilihan maupun kekurangannya. Namun, ternyata ada bagusnya tulisan itu tertunda hingga saat ini karena kesibukan dan lain hal (terima kasih, time-management skill-ku yang buruk), karena seiring dengan berjalannya waktu, ternyata opini saya, ya itu tadi, bergeser.

Selanjutnya: Bagaimana pergeseran itu terjadi?