Memilih Sekolah (Ter)Baik Untuk Anakku

Karena Ava usia TK, maka saya akan menyesuaikan untuk pilihan PG dan TK. Walaupun mungkin bisa diaplikasikan untuk yang SD juga. Nah, berhubung beberapa di antaranya berdasarkan kejadian nyata,  jadi maafkan kalo mellow atau terlalu emosi :)

1.Tentukan TIPE sekolah
Sebelum mulai, kita harus nentuin dulu sekolah apa yang kita cari. Sekolah internasional? Nasional tapi bilingual? Sekolah yang bernafaskan agama? Sekolah umum?
Mengenai biaya, pertanyaannya adalah: “Berapa biaya yang sanggup kita keluarin untuk sekolah?” Pakai rupiah, atau dollar? :D
Lalu ada juga pertimbangan jarak tempuh. Berhubung saya tinggal di Jakarta, dan macetttt banget, jadi walau dekat tapi macet bikin anak stres, kadang lebih baik jauh tapi lancar. Kalau saya sempat berpikir lebih baik di mal, haha!

Nah, dari pertimbangan di atas, bisa lebih gampang dikategorikan sekolah yang kita mau cari.

2.Browsing
Ini paling penting. Browsing via internet, browsing lingkungan tempat tinggal, bukan tidak mungkin sekolah yang pas dengan yang kita cari ternyata ada di belakang rumah. Terus apa area sekolah aman dan nyaman buat anak? Jangan sampai sekolahnya bagus tapi di area banjir.  Bayangin anak TK tiba-tiba terjebak banjir? Ibunya jadi susah jemput (amit-amiiit).
Sayangnya di Indonesia belum banyak orangtua yang terus-terusan mau review sekolah anaknya. Banyaknya yang cuma review pas lagi nyari aja (persis kaya saya). Mungkin enak, ya, kalau ada portal yang menyediakan list sekolah dari TK sampai SMA se-Indonesia lengkap dengan review-nya. Yah, mungkin bisa kaya tripadvisor tapi versi sekolah, gitu :D Atau seperti  thread School’s Cool di forum Mommies Daily. *Ayo dong, isi lagiii…*

3.Trial
Sudah browsing, sudah lihat, sudah senang, ayo kita trial!
Trial di sini adalah hari di mana kita lihat metode pendidikan yang dijalankan sekolah, metode guru mengajar dan interaksi dengan murid. Jangan malu untuk masuk ke dalam kelas di mana anak kita sedang trial, ya!
Kiat saya: minta trial 2-3 hari!

Hari Pertama:

Ikut masuk kelas dan perhatikan dari jauh aktivitas kelas dan metode pengajaran guru dan lainnya. Lihat apa bentuk fisik kelas dan perangkatnya sesuai untuk murid .

Contoh: kelas TK bangku-bangku dan meja ujungnya tumpul, tembok bersih dan tidak terlihat jamuran atau mengerikan, colokan listrik tinggi sehingga anak tidak bisa main listrik sembarangan, pintu kelas aman dan tidak membahayakan anak terjepit misalnya, ruang kelas bersih dan terang (AC pilihan, sih, siapa tau sirkulasi udara di ruangan ok sehingga nggak butuh AC).
Sementara di hari pertama ini kita juga sekalian lihat bangunan fisik sekolah,interaksi antar murid, dan kamar mandi sekolah. Sekolah anak yang baik itu (menurut saya) kamar mandinya terang! Bersih dan child friendly (toilet yang bisa mudah digunakan anak, lantai tidak licin,wastafel mudah dijangkau anak tanpa membuat baju basah,tisu dan sabun tangan lengkap. Jangan lupa ditanya, untuk anak usia TK jika kamar mandi di luar kelas, apa ada helper yang menemani si anak?

Hari Kedua:

Kita tidak perlu masuk kelas, biarin anak berani sendiri di kelas. Waktunya untuk kita cari informasi tentang sekolah. Caranya? Bisa dari ngobrol dengan ortu murid yang nongkrong, tanya kekurangan dan kelebihan sekolah. Yakin, deh, biasanya para ortu punya jawaban terjujur di dunia kalo masalah keluhan sekolah. Orangtua itu kritis dan mau yang terbaik buat anak. Milih popok aja dibandingin yang terbaik kok, masa milih sekolah sembarangan. Ga mungkin kan? Kalo perlu catat apa saja keluhan mereka jadi kita bisa lihat keluhannya nyata atau lebay?

Kalau sekolah ada kolam renang, cek lagi apa guru-gurunya ikut mengawasi pada saat kelas renang? Bagaimana jika guru renang tidak ada? Apa guru yang mengajar ikut renang atau anak-anak dibiarkan berenang sendirian tapi gurunya ngeliatin dari pinggir kolam? (jangan sedih ada kejadian begini loh!). Jangan lupa lihat area bilas bagaimana, bersih nggak? Lantainya licin?

Lihat juga di mana para penjemput nunggu dan sistem keamanan sekolah gimana? Jangan sampai anak-anak olahraga atau aktivitas luar ruangnya di area parkir sekolah yang dekat dengan jalan raya dan pagar sekolah memungkinkan banyak orang dari jalan umum bisa ngeliatin ke dalam atau sekolah tidak ketat dalam menyaring siapa saja yang boleh masuk ke area sekolah dan menjemput anak.

Pastikan guru menyerahkan anak pulang ke penjemput yang sudah dikonfirmasi orangtua, nggak sembarangan mentang-mentang orang itu bisa nyebutin nama lengkap anaknya dan alamat rumah ortunya terus diijinkan pulang sama orang itu (amit-amiiit).

Atauuuuuu tes deh, kita jalan-jalan di area sekolah pas jam pelajaran (jika sekolahnya besar dan nyambung dengan gedung SD much better), terus muterin aja sekolahnya, lewatin ruang-ruang kelas dan kamar mandi, kalau sampai 10-20menit tidak ada satpam atau guru yang nanya dan menegur kita mau apa..YAKINLAH SEKOLAH ITU TIDAK AMAN!

Kalau sekolah tidak mengizinkan ortu untuk trial lebih dari sekali, minta dispensasi untuk 2x atau jika bisa 2x, minta dispensasi 3x. Percaya deh, ini akan menguntungkan kita sendiri. Semakin banyak hari trial, semakin yakin kita bahwa sekolah itu layak kita pilih. Bahkan, kalo diminta biaya untuk trial, menurut saya bayar saja. You will never know apa yang terjadi kalau melewatkan 1 hari tambahan trial itu.

4.TALK
Ngobrol dengan guru, perangkat sekolah (admin dan kepsek, psikolog sekolah), orangtua murid, minta sopir atau pengasuh anak cari informasi dari para sopir dan pengasuh lain tentang sekolah itu. Semakin banyak ngobrol, makin banyak masukan tentang sekolah yang di luar “kertas”.
Contoh berdasarkan pengalaman, saat saya bilang ke pihak sekolah bahwa saya nyari sekolah umum, si admin bilang sekolahnya adalah sekolah UMUM. Tapi saat ngobrol dengan kepsek, dia bilang kiblatnya ke sekolah islam yang udah established lama itu. Agak gak kompak, ya? Nah, di sini bisa tanya ke ortu murid lainnya.
Sama juga dengan kasus saat pihak sekolah bilang bahasanya 70% Indonesia 30% Inggris, nggak taunya di kelas, 50% Indonesia 50% Inggris.

Dari ngobrol juga bisa tau apa gaji atau pendapatan guru dan staf sekolah sesuai dan manusiawi? Bukan apa-apa, menurut saya, kalau ternyata gajinya bikin miris, kita bayangin dong kerjanya guru TK? Guru kan bukan robot yang ga punya perasaan, pasti suatu hari dia ngerasa capek dan sabarnya menipis, kita saja sering nggak sabar sama anak sendiri, kan?

5.REWIND
Sebelum proses bayar-membayar, bilang dulu sama pihak sekolah, “Saya mau muter lihat kondisi gedung sekolah sekali lagi dan aktivitas di kelas ya. 30 menit aja”. Silakan Mommies ulangi proses seperti saat pertama kali mengunjungi sekolah ini.

Setelah semuanya yakin dan sesuai dengan ekspektasi Mommies seperti di awal riset di sekolah yang ditentukan, yuk segera dibungkus!


One Comment - Write a Comment

  1. Yupp…mesti ekstra selektif..
    Daaannn sekolah mahal ga identik dengan sistem yg bagus koq, sebelum kejadian JIS pun saya telah menetapkan standar saya sendiri sebagai ibu saya tau yg terbaik utk anak saya..
    Satu sistem sekolah mahal yg saya sangat tidak suka adalah tidak memperbolehkan ortu dekat dengam kelas, sehingga tdk bisa mengamati anak yg sedang belajar.. dengan alasan mandiri?
    Utk preschooler, mandiri kan tidak berarti melepas anak begitu saja, mandiri ada tahapan2 sesuai umurnya..
    Penjaga terbaik anak adalah ortunya sendiri, jd prinsip saya sayalah satu2nya yg bertanggung jawab ttg keselamatan & keamanan anak saya…

    So, yg penting: tentukan value yg anda prioritaskan dan pastikan value tersebut utk kepentingan anak, bukan ortunya yg ingin sekolah bergengsi..

Post Comment