Mulai Kapan Sebaiknya Belajar Bahasa Bilingual?

photo (768x1024)Selama ini banyak sekali perbedaan pendapat dari para orangtua bahkan dari para ahli, mengenai apakah anak sudah harus diajarkan bahasa bilingual dari kecil atau tidak. Ada pendapat yang mengatakan bahwa apabila anak diajarkan bahasa bilingual dari kecil, anak akan menjadi bingung, tercampur-campur bahasanya, dan menjadi terlambat bicara.

Namun, bagi pihak yang pro, mereka mengatakan anak harus diajarkan bahasa kedua dari kecil agar mereka menjadi lebih fasih dan mudah memahaminya. Jadi, sebenarnya yang benar yang mana ya? Saya sendiri juga bingung Mommies…

Tapi untungnya saya berkesempatan mewawancara seorang dosen Fakultas Psikologi UI, ibu Dra. Mayke S. Tedjasaputra M, Si. Beliau merupakan dosen perkembangan anak dan pernah mengeluarkan buku bermain, mainan, dan permainan.

Simak hasil wawancara saya dengan beliau, ya!

Selama ini selalu ada perdebatan mengenai pembelajaran bahasa bilingual pada anak, ada yang mengatakan bahwa kalau diajarkan dari kecil anak akan menjadi bingung karena bahasanya menjadi tercampur-campur, ada juga yang mengatakan justru harus dimulai dari kecil agar lebih lancar. Sebenarnya pada usia berapakah anak sebaiknya mulai diajarkan bahasa bilingual?

Berdasarkan jurnal yang terakhir saya baca, ada 2 pendapat:

1. Ada pendapat yang mengatakan sejak bayi sudah dapat diajarkan bahasa bilingual. Misalnya anak dengan bapak orang Indonesia yang berbicara dengan Bahasa Indonesia dan ibunya orang Inggris yang berbicara dengan Bahasa Inggris. Jadi kedua orangtua tersebut sebaiknya menggunakan bahasanya masing-masing. Selain itu, ada juga pendapat yang mengatakan bahwa sejak bayi, anak sudah dapat diajarkan 2 bahasa karena nanti di otak, akan terbentuk bagian masing-masing. Bahasa itu ada yang untuk memahami, ada yang untuk mengujarkan. Pusat bicara dan pusat pemahaman sama sekali tidak bisa dipisahkan karena saling berhubungan. Anak-anak itu mengerti dulu, nanti saat mencapai usia tertentu, mereka akan mulai bicara.

2. Tapi di sisi lain ada yang mengatakan kalau sebaiknya 1 bahasa, yaitu bahasa ibu dimantapkan dulu baru anak belajar bahasa lain. Namun, kalau diamati anak-anak di Indonesia itu banyak yang bilingual walaupun bilingualnya Jawa dengan Indonesia, misalnya. Anak-anak itu akan belajar bahasa dengan mudah, kenapa? Karena bahasa tersebut terpapar setiap hari, mereka mendengar lalu melihat secara langsung kegiatan atau benda yang dimaksudkannya. Misalnya, makan bahasa Indonesianya makan, atau bahasa Sundanya tuang. Jadi mereka tidak usah belajar bahasa secara formal seperti ikut kursus, tetapi anak akan mengerti bahasa itu dengan sendirinya. Tapi untuk anak-anak yang mengalami keterlambatan perkembangan bahasa, cara tersebut akan membingungkan.

Jadi ada kasus khusus untuk anak yang perkembangan bahasa dan bicaranya terlambat, mereka akan lebih sulit mengerti. Untuk kasus-kasus seperti itu, sebaiknya mereka dimantapkan 1 bahasa dulu baru bahasa lain. Selain itu, ada orang-orang sekarang yang menganggap bahasa asing itu sangat penting, sehingga menggunakan bahasa yang berbeda-beda di rumahnya, misalnya neneknya berbahasa Mandarin, ibunya berbahasa Inggris, ayahnya berbahasa Indonesia, mbaknya berbahasa Jawa, itu akan membingungkan karena anak tidak paham penggunaannya.

Jadi kembali ke anak-anak yang sudah paham banyak tetapi sulit untuk bicara, ada yang cepat, ada yang lambat. Jadi orangtua sebaiknya sensitif, memerhatikan apakah anaknya bingung atau tidak. Kalau anaknya bingung, sebaiknya tidak dipaksakan untuk belajar 2, apalagi 3 atau 4 bahasa. Bahwa mereka sering diajak bicara tidak apa-apa sehingga mereka dapat memungut bahasa itu dengan sendirinya.

Kemudian ada penelitian yang melihatnya dari sudut pandang perkembangan bahasa anak kecil, terutama pada masa pembentukkan (di bawah 2 tahun). Jadi kalau dilihat dari perkembangan bahasa dan bicaranya, anak itu memulai dari bahasa reseptif dulu kemudian berlanjut ke bahasa ujar. Pada saat berusia di bawah 2 tahun, anak baru dapat mengucapkan satu kata, kemudian pada saat berusia sekitar 2 tahun, mereka sudah dapat membentuk kalimat walaupun baru terdiri dari 3 kata.

Pada usia 2 tahun ini, awalnya mereka memasuki tahap telegraphic speech di mana mereka sudah dapat berbicara dengan kalimat yang terdiri dari 2 kata. Contohnya ketika mereka ingin minum susu mereka akan bilang “minta susu” bukan hanya “susu” saja. Jadi, kalau orangtua sudah dapat melihat dari awal jika anaknya bingung dalam membentuk kata-kata, sebaiknya 1 bahasa (bahasa ibu) yang dimantapkan dulu. Nah, yang menyedihkannya sekarang ini, orang-orang ngajarinnya bahasa Inggris dulu. Padahal ibunya belum tentu fasih, jadi anaknya dikirimkan ke sekolah yang menggunakan bahasa Inggris.

Selanjutnya: Metode apa yang paling bagus untuk mengajarkan bahasa bilingual ke anak?


2 Comments - Write a Comment

  1. Wahh bagus sekali artikelnya…
    Mungkin dilihat kemampuan dan kemauan anak, karena tiap anak berbeda dan istimewa. Disekolah ada koq yang berkomunikasi 3 bahasa, Indonesia, Inggris dan Mandarin dia usia 5 tahun, karena dirumah juga lingkunganya menggunakan 3 Bahasa tersebut begitu juga disekolah. Lalu ada juga yang mungkin akan binung dan enggan berbicara. Saya sebagai orangtua juga nantinya tidak memaksakan keinginan agar anak bisa komunikasi lebih dari 1 bahasa. Nanti ada saatnya ia akan tertarik.

    terima kasih ulasannya

Post Comment